Seorang perempuan sedang duduk di bangku taman, hujan besar tak Ia rasakan, janji sudah terpatri apapun yang terjadi perempuan itu tetap menunggu di sana.
Teringat tujuh purnama yang lalu, ketika duduk dibangku ini dengan sepasang tangan yang selalu melindunginya. Saat itu daun-daun berguguran menghiasi bangku taman.
Saling bercerita, tertawa dan kadang menangis mengisi bangku taman. Angin sepoi-sepoi menambah suasana penuh romantis. Para pejalan kaki menikmati suasana pagi dengan ceria.
Sekarang perempuan itu duduk kembali di bangku yang sama dengan suasana berbeda, tidak ada daun yang berguguran, hujan membasahi semua.
Seorang anak kecil berusia tujuh tahun menghampiri, menawarkan payung yang dibawanya dan mengajak perempuan itu ke Mini Market yang berada disekitar itu, agar perempuan itu bisa berteduh.
Dengan halus perempuan itu menolak, memilih tetap duduk di bangku itu seperti janji yang pernah terucap. Anak lelaki yang berusia tujuh tahun itu seperti merasakan kegundahan hati, dengan sopan duduk di sebelah perempuan itu, matanya yang bulat menatap dan tersenyum. Anak lelaki tak berkata hanya menemani. Sampai seorang ibu memanggilnya dan mengajak pulang.
Perempuan itu kembali sendiri, Ia percaya lelaki itu akan menepati janji.
Perempuan itu menangis mulai putus asa, kepercayaannya seperti dipermainkan, hati kecil berperang antara menunggu atau pergi. Perempuan itu memilih menunggu. Hujan semakin deras perempuan itu menggigil kedinginan, Ia menunduk menghitung tetesan hujan yang jatuh ke bumi.
Sampai akhirnya Ia merasa ada lelaki berdiri di sebelahnya sambil memayunginya, perempuan itu mengangkat wajah dan Ia kaget melihat wajah lelakinya tersenyum bahagia.
Sambil memeluk lelaki itu berkata, "Janji yang sudah terucap dari hati, tak mungkin diingkari, kekuatan cinta mengalahkan segalanya."
