Retak di Cermin Masa Lalu
Retak di Cermin Masa Lalu
Dunia di mata laki-laki itu sering kali terasa seperti kaset lama yang diputar berulang-ulang. Di kepalanya, waktu seolah berhenti pada sebuah sore hujan belasan tahun silam, saat laki-laki itu asyik dengan dunianya sendiri dan acuh pada sekitar. Sering melamun dengan tatapan kosong. Kala itu, orang-orang melabelinya "gila". Mereka menjauh, menutup hidung, dan melempar pandangan rendah.
Kecuali sepasang suami istri: Pak tulus dan Ibu Sarah.
Mereka adalah jangkar yang menarik laki-laki itu dari dasar palung keputusasaan. Tanpa rasa takut, mereka membawanya ke rumah, memperlakukan sebagai manusia yang tidak Ia dapatkan dari keluarga sendiri laki-laki itu menganggap pak Tulus dan Bu Sarah seperti saudaranya. Bagi laki-laki itu, pernikahan Tulus dan Sarah bukan sekadar ikatan manusia; itu adalah monumen suci tentang kesetiaan dan kebaikan yang mustahil runtuh.
Namun, pagi itu, sepucuk surat undangan—bukan pesta, melainkan pemberitahuan percetakan akta cerai—menghancurkan segalanya.
"Tidak mungkin," gumam laki-laki itu, jemarinya gemetar. "Mereka sudah mapan sekarang. Rumah besar, anak-anak sukses, ekonomi stabil. Kenapa harus sekarang?"
Laki-laki itu tenggelam dalam penolakan yang hebat. Baginya, jika Tulus dan Sarah bisa berpisah, maka kebaikan di dunia ini hanyalah fatamorgana. Ia menghabiskan berhari-hari mengurung diri, melamunkan masa lalu, dan mencari-cari di mana letak kesalahan yang membuat "monumen suci"-nya retak. Ia marah pada keadaan, seolah-olah ia adalah pihak yang paling terluka atas perceraian itu.
Di sudut lain rumah yang sama, ada keheningan yang berbeda.
Senja, istri laki-laki itu duduk di meja makan dengan berkas kantor yang berserakan. Wajahnya pucat. Tekanan di tempat kerja sedang berada di titik nadir; mutasi posisi yang tidak adil dan konflik internal membuatnya merasa tercekik. Ia butuh telinga untuk mendengar, atau sekadar bahu untuk bersandar.
"Mas..." panggil Senja pelan suatu malam. "Bisa kita bicara sebentar? Aku sedang bingung soal pekerjaan..."
Laki-laki hanya bergeming, matanya menatap kosong ke arah jendela. "Kenapa mereka cerai, Senja? Harusnya mereka bertahan. Kalau mereka saja gagal, apa gunanya perjuangan?"
Senja menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: suaminya sedang hidup di masa lalu orang lain, sementara ia sendirian menghadapi masa kini yang nyata.
Kesadaran itu baru menghantam Laki-laki itu dua hari kemudian, saat ia menemukan Senja tertidur di meja makan dengan sisa air mata yang mengering di pipinya. Di sampingnya, tergeletak surat pengunduran diri yang belum ditandatangani.
Laki-laki itu tertegun. Ia melihat istrinya—sosok yang selama ini menemaninya membangun hidup dari nol—tampak begitu rapuh dan kelelahan.
Aku terlalu sibuk meratapi retaknya cermin orang lain, sampai aku lupa menjaga kaca rumahku sendiri yang hampir pecah, batinnya perih.
Hari itu juga, Laki-laki itu memutuskan untuk menemui Pak Tulus. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk bertanya.
"Manusia tetaplah manusia, Bang," ujar Pak Tulus dengan senyum getir namun tenang. "Kami bukan monumen. Kami hanya dua orang yang mencoba, dan terkadang, tumbuh dewasa berarti menyadari bahwa jalan yang terbaik adalah tidak lagi searah. Jangan jadikan masa lalu kami sebagai beban untuk masa depanmu."
Kalimat itu seperti air dingin yang menyiram api di kepala laki-laki itu. Ia menyadari satu kebenaran pahit namun membebaskan: manusia bisa berubah. Kebaikan seseorang di masa lalu tidak lantas membuat mereka menjadi dewa yang tak boleh gagal.
Laki-laki itu pulang dengan langkah yang lebih ringan. Ia tidak lagi melihat bayangan Tulus dan Sarah di setiap sudut ingatannya. Ia masuk ke kamar, mendekati Senja yang baru saja terbangun, lalu menggenggam tangannya erat.
"Maafkan aku. Aku terlalu jauh berkelana ke masa lalu," bisik laki-laki itu tulus. "Ceritakan padaku, apa yang membuatmu galau? Kita hadapi bersama, di sini, di dunia nyata."
Malam itu, di rumah kecil mereka, laki-laki akhirnya menutup buku kenangan yang usang. Ia sadar, kehidupan yang paling berharga bukanlah yang ia ingat, melainkan yang sedang ia jalani saat ini.
ADSN1919

