Kami Melepas, Allah Menjaga--
Kami Melepas, Allah Menjaga
Karya: Ismail Marzuki, S.Pd., Dip.IL., C.ME., C.IW
Guru SDN Sadagori 1 Kota Cirebon
Hari ini,
ada haru yang tak mampu disembunyikan
di balik senyum dan tepuk tangan perpisahan.
Sekolah ini perlahan belajar makna ikhlas
melepas sosok yang selama ini menjadi penuntun perjalanan luas.
Ibu…
engkau bukan sekadar pemimpin bagi kami,
tetapi penuntun dalam gelap menuju hidayah,
penyejuk di tengah gelisah,
dan teduh yang selalu menguatkan langkah.
Dengan sabar dan tabah engkau membimbing,
dengan adil engkau menuntun,
tanpa lelah menanam ilmu dan kebaikan
di hati kami yang masih belajar tentang kehidupan.
Banyak hal yang mungkin tak sempat kami balas,
nasihat yang dulu kami abaikan,
perhatian kecil yang kini terasa begitu besar
saat waktu membawa kita pada perpisahan.
Engkau bukan sekedar pemimpin,
engkau pun seperti ibu kami,
saat kami khilaf, sikap pemaafmu di depan
saat kami benar, sikap tawadhu’mu tetap menguatkan peran.
Hari ini kami melepasmu, Ibu,
dengan mata yang basah dan doa yang tulus.
Sebab kami tahu,
orang baik tak pernah benar-benar pergi,
ia tinggal dalam kenangan
dan hidup dalam doa-doa yang diaminkan.
Terima kasih atas dedikasi,
atas ketulusan yang tak pernah meminta balasan.
Sekolah ini akan selalu mengenang
jejak langkah yang pernah Ibu tinggalkan.
Jika esok kami tak lagi melihat senyum itu,
kami percaya satu hal,
Allah akan menjaga setiap lelah pengabdianmu,
sebagaimana engkau dahulu menjaga kami dengan penuh kasih.
Selamat melangkah, Ibu.
Meski hati belum siap sepenuhnya merelakan,
kami belajar ikhlas dari perpisahan ini.
“Kami Melepas, Allah Menjaga.”
****
Puisi yang indah ini karya Pak Ismail salah satu guru SDN Sadagori 1. Dibacakan dengan sangat bagus dan penuh penghayatan oleh murid kelas IVb yaitu Tazkia Jeihan Makhaila yang bisa dipanggil Jeihan.
Pembacaan puisi Jeihan pada acara pelepasan Kepala SDN Sadagori 1 bertambah sendu, para tamu yang hadir menitikkan air mata terbawa suasana.
Puisi tentang perpisahan memang membuat hati tersayat-sayat apalagi dibuat dengan sepenuh hati. Saya yang awalnya berusaha menguatkan diri akhirnya air mata jebol juga.
Terimakasih pak Ismail dan Jeihan atas persembahan puisinya.
ADSN1919

