Puisi yang Tak Pernah Dibacakan
Puisi yang Tak Pernah Dibacakan
Sebenarnya puisi ini akan dibacakan ketika acara purnabakti Kadisdik Kota Cirebon, namun sayangnya puisi ini tak pernah dibacakan di hadapan beliau. Sepertinya kurang kordinasi teman yang meminta saya membuat puisi dengan panitia.
Sangat disayangkan, karena saya membuat puisi itu ketika dalam perjalanan menuju Yogyakarta, dan menulis puisi dalam bus. Tapi tak mengapa tak perlu saling menyalahkan, puisi ini tetap aku simpan di blog rumahfiksi.com.
***
Goresan Pena Untuk Ibu Tersayang
Ibu
Malam telah larut, ketika aku menggoreskan tinta emas di atas kertas putih yang membasah terkena tetesan air mata.
Ibu
Aku tak kuat ketika harus merangkai kata demi kata tentangmu.
Tangan ini gemetar ketika mengingat sosok seorang ibu, yang sebentar lagi meninggalkan kita dalam kedinasan.
Senyuman dan tatapan lembut seorang ibu, tak terlihat kembali.
Teguran lembut tak kita rasakan kembali.
Ibu
Aku selalu bertanya dalam hati, mengapa setiap pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan?
Ibu
Maafkanlah kami
Ketika sikap kami membuat ibu kecewa
Ketika sikap kami membuat ibu marah!
Ketika sikap kami membuat ibu menangis
Maafkan, maafkan kami ibu.
Ya Allah ya Tuhanku
Aku titipkan seorang wanita tangguh padamu, jagalah Ia dimanapun berada.
Ibu
Terimakasih telah membimbing kami dan kebersamaan selama ini.
Kenanglah kami dimanapun ibu berada, karena kita telah bersama dalam suka maupun duka.
Terimakasih ibu, we love you forever.
ADSN1919




