Sesuaikan tampilan Anda
Setelan hanya berlaku untuk browser ini
Latar belakang
  • Terang
  • Gelap
  • Bawaan sistem

Jejak Rindu di Ujung Senja

AI Voice Reader Ready to Read
Jejak Rindu di Ujung Senja

Gerimis  turun perlahan di sebuah desa kecil di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat. Tetesan air menyentuh dedaunan mangga di halaman rumah tua milik Pak Wirya. Di beranda itu, seorang perempuan bernama Lestari duduk sendirian sambil menggenggam secangkir teh hangat, untuk menghangatkan badan karena udara begitu dingin.

Sudah tiga tahun Lestari kembali ke rumah masa kecilnya. Tiga tahun pula ia hidup bersama rindu yang tak pernah benar-benar pergi.

Lestari merindukan seseorang.

Bukan kekasih, bukan pula sahabat. Ia merindukan sosok ayahnya.

Ayah yang dahulu selalu mengantarnya ke sekolah dengan sepeda tua, yang setiap malam membacakan dongeng sebelum ia terlelap, dan yang mengajarinya bahwa hidup tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa banyak cinta yang dibagikan.

Namun, waktu telah mengambil sosok itu.

Pak Wirya meninggal lima tahun lalu karena sakit yang datang tiba-tiba. Sejak saat itu, hidup Lestari berubah. Semula ia bekerja di Jakarta memilih pulang dan tinggal di rumah peninggalan ayahnya.

Di sudut ruang tamu masih tergantung foto sang ayah dengan senyum yang hangat. Setiap kali memandang foto itu, ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.

“Ayah, aku masih merindukanmu,” bisiknya pelan.

Angin sore berembus, menggoyangkan tirai jendela.

Lestari teringat sebuah kenangan.

Dulu, ketika usianya baru sepuluh tahun, ia pernah bertanya kepada ayahnya, “Kalau Ayah pergi jauh, bagaimana aku bisa bertemu Ayah lagi?”

Pak Wirya tersenyum lalu menjawab, “Kalau kamu rindu, lihatlah langit. Kita akan memandang langit yang sama.”

Sejak saat itu, setiap kali rindu datang, Lestari selalu menatap langit.

Malam itu, ia membuka lemari kayu tua milik ayahnya. Ia sebenarnya hanya ingin mencari beberapa dokumen lama. Namun, di antara tumpukan buku, ia menemukan sebuah kotak kecil.

Kotak itu berisi beberapa surat.

Tangannya gemetar ketika membuka surat pertama.

Untuk Lestari, putri kecil Ayah.

Jika suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ayah sudah tidak ada di sampingmu. Jangan sedih terlalu lama. Hidup harus terus berjalan. Ayah hanya ingin kamu menjadi perempuan yang bahagia.

Air mata mulai jatuh di pipinya.

Ia membuka surat berikutnya.

Jika kamu merindukan Ayah, jangan mencari Ayah di makam. Carilah Ayah dalam setiap kebaikan yang pernah Ayah ajarkan kepadamu.

Lestari menangis semakin keras.

Ternyata ayahnya telah menulis banyak surat sebelum meninggal. Surat-surat itu berisi nasihat, doa, dan harapan.

Pada surat terakhir, tertulis:

Rindu memang tidak selalu bisa dipeluk. Kadang ia hanya bisa disimpan di dalam hati. Tapi percayalah, ayah tidak pernah benar-benar pergi. Selama kamu mengingat Ayah dengan doa dan kebaikan, Ayah akan selalu hidup di dalam dirimu.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Lestari menangis tanpa menahan diri.

Ia sadar bahwa selama ini ia terlalu sibuk meratapi kehilangan hingga lupa menjalani pesan-pesan ayahnya.

Keesokan harinya, ia berjalan ke taman desa. Di sana ada beberapa anak yang sedang belajar membaca.

“Bu Guru, bantu aku mengeja kata ini,” kata seorang anak kecil.

Lestari tersenyum.

Tiba-tiba ia teringat bahwa ayahnya dulu bercita-cita mendirikan taman baca untuk anak-anak desa, tetapi keinginan itu belum sempat terwujud.

Sore itu juga, ia mengambil keputusan.

Ia membersihkan gudang di samping rumah, mengecat dindingnya, dan mengumpulkan buku-buku lama milik ayahnya. Ia mengubah tempat itu menjadi taman baca sederhana.

Sebulan kemudian, puluhan anak datang setiap sore.

Mereka membaca buku, belajar menulis, dan mendengarkan dongeng dari Lestari.

Di dinding taman baca itu, ia memasang sebuah tulisan:

“Rumah Rindu Pak Wirya: Tempat di Mana Ilmu dan Cinta Bertemu.”

Setiap melihat anak-anak tertawa, hatinya terasa hangat.

Rindu itu memang masih ada.

Namun kini, rindu tidak lagi menjadi luka.

Rindu telah berubah menjadi cahaya yang menuntunnya untuk melakukan kebaikan.

Pada suatu senja, Lestari berdiri di halaman rumah sambil menatap langit yang berwarna keemasan.

Ia tersenyum.

“Ayah, aku masih merindukanmu. Tapi sekarang aku mengerti. Ternyata rindu bukan tentang ingin memiliki kembali seseorang yang telah pergi. Rindu adalah cara cinta tetap hidup, meski jarak dan waktu tak lagi bisa dipertemukan.”

Angin kembali berembus pelan.

Daun-daun mangga berguguran.

Entah mengapa, sore itu Lestari merasa seolah ayahnya sedang tersenyum dari tempat yang jauh.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sendirian.


Posting Komentar
QUANTUM AUDITOR V8.5
CORE: ACTIVE
INITIALIZING SEO PROTOCOLS...
AI PROMO COPIED! ⚡
×
1919 COMMAND CENTER
LATENCY: ANALYZING...
NETWORK: 0
ARTICLES: 0
INITIALIZING MULTI-DOMAIN SYNC...
AI CONTEXT COPIED! ⚡

]]>