Antara Cinta dan Dendam
Bab 7
Antara Cinta dan Dendam
![]() |
| Foto oleh Paulo Marcelo Martins dari Pexels |
<< Sebelumnya
Flora tergugu melihat Segara pergi begitu saja, lelaki yang ia cintai berubah mukanya seperti menahan amarah. Kelembutan Segara berubah setelah Craen Mark, ayahnya menelpon dirinya yang baru saja bercinta dengan Segara melalui panggilan video di ponselnya.
Saat itu Segara sempat melihat wajah ayahnya di layar telepon genggam miliknya, saat ayahnya itu sedang menanyakan kabar tentang keberadaannya. Flora berpikir wajar ayahnya sering menelepon dirinya, maklum karena ia anak tunggal dan kesayangan ayahnya.
Tapi kenapa setelah melihat wajah ayahnya di layar telepon genggam miliknya, tiba-tiba Segara langsung pergi meninggalkan dirinya begitu saja?
Segara, apa yang sebenarnya sudah terjadi?
Padahal belum lama mereka berpacu dalam birahi, sama-sama merasakan kenikmatan yang tiada tara sampai merasakan puncak kenikmatan dunia. Saling membenamkan dan terbenam, saling mempersembahkan yang terbaik, kata-kata cinta selalu terdengar disetiap senggalan napas mereka yang terus berpacu dan seperti tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada.
Meski lama tinggal di Benua Eropa, Flora masih menjaga keperawanannya dan ia belum pernah melabuhkan hatinya pada lelaki manapun. Sampai akhirnya ia bertemu Segara, pria gagah asal Indonesia. Negara nenek moyangnya juga, meski ia belum pernah menginjakkan kaki di Bumi Pertiwi, entah kenapa dengan seringnya bertemu dengan Segara pelan-pelan rasa cinta pada negara tropis itu semakin besar.
Flora sangat tersanjung, karena Segara, kekasihnya itu sering memanggil ia dengan sebutan "Peri Bermata Hijau" banyak orang yang memuji matanya, kata ayahnya warna mata Flora mirip mata ibunya. Ayahnya sering memuji ibunya, betapa sang ayah sangat mencintai ibunya, wanita cinta terakhir itu yang ayahnya bilang.
Saat itu dari balik tirai jendela kaca Apartemennya, Flora melihat Segara berjalan sangat terburu-buru, sambil menerima telepon entah dari siapa. Segara sempat menghentikan langkahnya dan melihat ke arah kaca besar Apartemennya, Flora tau, pasti Segara melihatnya, entah kenapa Segara diam membisu sambil memandang ke arahnya dan selanjutnya pergi begitu saja.
Flora bingung dengan perubahan Segara, kenapa setelah malam itu dia berubah? Tidak seperti malam-malam sebelum ia menerima telepon dari ayahnya, apakah karena malam itu ia kurang memuaskannya?
Flora masih ingat, saat pertamakali mereka meakukannya ia sempat menangis sambil memeluk Segara, malam itu adalah pertama kalinya dia melakukan hubungan intim, keperawanannya yang selama ini ia jaga, ia serahkan kepada Segara dan Segara tau itu karena di seprai merah muda ada tetesan darah perawannya. Saat itu Segara berjanji sambil memeluknya dan dengan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah pergi meninggalkannya, tapi sekarang?
Segara, dimana engkau?
Flora ingat, Segara sering bercerita tentang masa lalunya yang terasa begitu kelam, Flora hanya bisa memeluk sambil menangis saat Segara menceritakan masa lalunya. Flora bisa membayangkan bagaimana perasaan Segara kecil melihat ibunya diperkosa di depan matanya dan ayahnya juga dibunuh didepan matanya juga.
Ya Tuhan, sangat biadab lelaki itu!
Melalui kedua bola mata Segara, Flora bisa merasakan ada dendam kesumat disana. Flora berjanji pada Segara untuk membantu mencari pembunuh ayahnya.
Meski samar, tapi Flora merasa tidak asing dengan sosok yang digambarkan oleh Segara. Ah sayangnya Flora lupa dengan nama yang dimaksud Segara itu.
Ahhh kenapa ia tidak mencatat nama pembunuh itu, sekarang ia merasa sangat menyesal dengan keteledorannya itu. Karena Segara sudah tidak mau menyebut nama lelaki itu lagi, Segara selalu menyebutnya si Jahanam. Seandainya ingat, Ia ingin menanyakan pada ayahnya, apa kenal dengan nama orang tersebut.
Flora pulang ke rumah dengan lesu, terkadang Ia memang tinggal di Apartemennya, sebuah Apartemen mewah hadiah dari ayahnya ketika Ia ulang tahun ke dua puluh dan lulus kuliah dengan hasil yang sangat memuaskan, Apartemen yang terletak di jantung kota Paris 50 meter dari Menara Eiffel itu, sekarang penuh kesan, untuk pertama kalinya Flora bergumul dengan laki-laki, tak terasa Ia senyum-senyum sendiri membayangkan cumbuan dan gigitan yang Ia rasakan, selama bercinta dengan Segara yang bagaikan kuda jantan.
Sudah sekian lama Ia tidak melihat ayahnya dan ternyata setelah tiba di rumah Ia tidak menjumpai siapa-siapa. Di rumah besar ini memang hanya ada ayahnya, sebab setelah kematian Ibunya, ayahnya tidak pernah menikah lagi.
Tumben pintu rumahnya tertutup tapi tidak terkunci seperti biasa, setelah memanggil-manggil ayahnya tapi tidak ada jawaban, Flora memutuskan untuk mencari ayahnya.
Di dalam rumah semuanya terlihat biasa saja, mungkin ayahnya ada di kamar. Sehingga tidak mendengarkan suara kedatangan anak satu-satunya itu di rumah.
Flora menuju ke kamarnya di lantai dua. Ia melihat kamar ayahnya terbuka dengan kasur acak-acakan, pakaian dalam lemari sudah keluar pada tempatnya. Flora kaget, sepertinya ayahnya diajak pergi dengan paksa karena sepatu ayahnya masih utuh ditempatnya.
Flora memeriksa lemari, uang di dompet ayahnya masih utuh, begitupun koleksi cincin ayahnya tidak disentuh pencuri itu, Flora bingung apa yang dicari pencuri itu, Ia mengira-ngira sambil tangannya mencari sesuatu yang Ia sendiri tidak tau apa yang dicarinya, tapi firasatnya mengatakan ada sesuatu, sampai akhirnya dilaci lemari paling bawah, Ia menemukan sebuah foto lama yang telah usang di makan usia.
Karena penasaran, Flora segera mengambil foto lama yang selama ini tidak pernah Ia lihat sebelumnya. Ada foto ibunya yang duduk bersama seorang lelaki yang tidak Ia kenal, dan foto yang duduk bersama ibunya itu bukan ayahnya. Lalu ada foto anak kecil diatas pangkuan ibunya. Siapa mereka?
Dan wajah anak kecil di dalam foto itu sepertinya pernah dia lihat, tapi lupa dimana. Tapi tunggu! Sepertinya wajah anak tidak begitu asing baginya.
Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat itu hanya kebetulan semata dan selanjutnya Bab 8 akan digubah oleh Indra Rahadian
Selanjutnya >>
