Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Ketika Kematian di Depan Mata


Ketika Kematian di Depan Mata

Iustrasi: Ketika Kematian di Depan Mata. (medicalnewstoday)



Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un yang artinya "Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali" adalah Kalimat yang tidak asing kita dengar khususnya orang Islam. Setiap kita mendengar berita kematian atau musibah, bacaan innalilahi wa Inna ilaihi raji'un selalu kita ucapkan untuk mengiringi kepergian si jenazah.

Tapi benarkah bahwa kalimat Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un itu semata-mata hanya wajib diucapkan ketika mendengar berita tentang kematian seseorang? Menurut pendapat pribadi penulis, merujuk pada arti dari kalimat tersebut yang berbunyi, "sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali" maka sudah sepatutnya jika kalimat itu tidak hanya kita ucapkan ketika mendengar kabar tentang kematian seseorang saja, sebab di dalam kalimat tersebut, ada bukti pengakuan kita sebagai seorang hamba kepada Tuhan, bahwa kita ini adalah miliknya dan untuk segala sesuatu yang terjadi pada diri kita di dunia ini kita kembalikan kepada-Nya.

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemui kematian, dan kita, sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan, kita tidak pernah tau, kelak jalan kita menuju kematian itu seperti apa, karena semua itu rahasia Allah SWT. Kita khususnya penulis, yang merasa begitu berlumuran dosa, hanya mampu berdoa, semoga kelak ketika sudah tiba waktunya, bisa meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Masih di dalam suasana merayakan hari raya IdulFitri 1443 H. Masih di dalam suasana saling bermaaf-maafan. Sebelum melanjutkan catatan pribadi tentang Ketika Kematian di Depan Mata, penulis ingin mengucapkan, "Selamat hari raya IdulFitri 1443 H. Mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah SWT menerima segala amal perbuatan baik kita dan mengampuni semua dosa-dosa yang pernah kita kerjakan. Aamiin."


Apakah para sahabat rumahfiksi.com pernah merasakan ketika kematian di depan mata? Kalau pernah berarti kita sama. Begini kisahnya,

Sobat rumahfiksi.com, yuk sejenak kita kembali ke masa lalu, tepatnya ke masa yang pernah penulis alami saat masih duduk di kelas tiga SLTA atau kelas 12.

Saat sedang sibuk ujian praktek dan penulis sedang pulang ke rumah, karena sewaktu di SLTA, penulis sekolah di daerah Jatiwaringin Pondok Gede Bekasi.

Hari Sabtu biasanya penulis pulang ke Depok dan hari Minggu kembali lagi ke Bekasi, itu juga kalau dijemput sopir, kalau tidak ada yang jemput, penulis tidak pulang, karena memang dulu penulis sering nyasar kalau pulang sendirian ke rumah. 

 

Hari Sabtu sopir datang menjemput penulis, 

Ketika itu sebenarnya badan penulis sudah merasa tidak enak, badan sering panas dan tiba-tiba dingin, saat itu badan rasanya tidak karuan. Tapi hal itu tidak pernah penulis rasakan, alias penulis anggap biasa, karena memang saat itu penulis benar-benar sibuk dengan ujian praktek dan pemadatan materi dari para guru.

Sore hari penulis baru sampai ke rumah, saat itu almh nenek sedang berada di Depok dan penulis sering tidur bersama beliau, dulu, sebelum tidur nenek sering bercerita sampai penulis tertidur.

Tengah malam penulis sudah mulai gelisah, badan terasa panas, mulut kering dan rasanya tidak karuan, karena tidak kuat penulis membangunkan nenek dan mengetuk pintu kamar orang tua.

Sambil mengetuk pintu kamar ibu dan bapak penulis terduduk, karena sudah tidak kuat untuk berdiri. Ibu kaget ketika membuka pintu, penulis terduduk di lantai depan kamar tidurnya.

Saat itu Ibu langsung mengecek suhu tubuh dan lidah penulis, ibu langsung panik dan bersama bapak, ibu membawa penulis ke Rumah Sakit.

Setelah di cek di IGD oleh dokter jaga, saat itu juga penulis langsung dirawat di rumah sakit milik pemerintah daerah.

Dokter yang menangani penulis menyatakan bahwa penulis terkena tifus dan ini adalah untuk keduakalinya penulis terkena tifus.


Malam pertama di rumah sakit penulis belum merasakan apa-apa, hanya suhu badan semakin tinggi dan keringat sebesar jagung keluar dari seluruh tubuh.

Ibu telaten menunggui penulis di Rumah Sakit, hanya kalau pagi sampai siang penulis ditunggu oleh ART, karena ibu dan bapak kerja, sedang kakak dan adik sekolah semua. Nenek  karena sudah sepuh oleh ibu dan bapak dilarang menjenguk, karena sangat rentan dengan kesehatan nenek.

Penulis merasakan suhu badan panas setiap menjelang magrib, saat itu penulis memang tidak pernah mengaduh atau mengeluh. Penulis hanya diam, dan banyak membaca surat-surat pendek dan berdzikir sesuai dengan bacaan penulis ingat.

Penulis coba lawan rasa pusing dan sakit dengan doa, saat itu penulis hanya berpikir, "jangan sampai pikiran saya kosong dan setan bisa masuk,"

Dalam keadaan menahan rasa sakit dan pusing, saat itu penulis merasakan banyak sekali makhluk-makluk yang kasat mata ingin masuk dan menguasai tubuh penulis.

Antara sadar dan tidak sadar, ketika suhu badan semakin meninggi dan ketika sedang melawan 'sesuatu' dengan doa, ada bisikan yang menyuruh penulis untuk membaca tasbih sebanyak 70 kali dan saat itu penulis ikuti.

Penulis terus membaca tasbih dan tiba-tiba saja penulis merasa saat itu sedang berada di gurun pasir.  Disana penulis melihat orang-orang berbaris dan menghadap sebuah batu berwarna hitam,  mereka semua menghadap ke batu itu. 


Saat itu penulis melihat ratusan orang berbaju putih sedang Sholat. Penulis coba datangi tempat itu dengan mengikuti barisan. 


Ketika penulis sampai di tempat itu, tiba-tiba tangan penulis dipegang oleh penjaga tempat itu, wajahnya tidak terlihat karena tertutup kain semacam sorban dan penulis tidak memperhatikan wajahnya. 


"Belum waktunya kamu datang ke sini"

"Mengapa?"

"Karena belum waktunya"

"Saya sudah selesai  membaca tasbih seperti yang diperintahkan"

"Belum waktunya."


Tiba-tiba penulis terbangun dan badan basah kuyup oleh keringat. Penulis menangis dan bilang ke ibu, bahwa tadi ada bisikan dan disuruh membaca tasbih sebanyak 70 kali dan sudah penulis ikuti, tapi katanya belum waktunya.

Saat itu ibu terlihat tenang dan ibu keluar kamar menuju telepon umum, karena tahun 1992 saat itu belum ada handphone. Ketika ibu pergi keluar dan penulis di kamar sendirian, penulis kembali membaca surat-surat pendek yang penulis hapal, jujur saja saat itu penulis merasakan rasa takut yang luar biasa.

Tidak lama kemudian bapak datang, terlihat wajah beliau sangat khawatir, bapak tidak banyak bertanya. Mungkin ibu sudah menjelaskan panjang lebar melalui telepon.


Ada satu Minggu penulis di rawat di Rumah sakit dan akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter.

Ketika sampai di rumah, penulis melihat wajah-wajah cemas dari kakak, adik dan nenek. Karena belum sembuh total dan dalam tahap pemulihan, penulis tidak boleh banyak bergerak dan harus banyak istirahat di tempat tidur, untuk sholat penulis tayamun, mandi di lap dan kalau mau BAK disediakan pispot, selama sakit typus penulis tidak pernah BAB. 


Setiap menjelang Magrib, suhu badan kembali panas, tapi yang penulis rasakan sangat dingin, badan berkeringat juga menggigil, satu  selimut tebal tidak cukup melawan rasa dingin, bisa sampai tiga lapis selimut tebal menutupi tubuh, dengan kening di kompres handuk kecil yang dibasahi air hangat.

Nenek selalu menemani penulis tidur dan selalu mendoakan kesembuhan penulis. Semua keluarga juga mendoakan kesembuhan penulis, karena melihat keadaan penulis begitu mengkhawatirkan.

Ketika penulis mulai sembuh, adik bertanya, ada kejadian apa di rumah sakit sampai ibu panik, menelepon sambil menangis dan bilang Dinni udah mulai ngaco, ada yang ngajak pergi katanya dan meminta malam itu membaca Yasin dan berdoa bersama untuk kesembuhan Dinni.

Saat itu penulis tidak berani menceritakan pengalaman yang penulis alami kepada adik, karena penulis masih merasa takut untuk mengingatnya kembali.


Penulis kaget juga mendengar ibu panik, karena di depan penulis, ibu terlihat tenang dan hanya berpesan jangan berhenti berdoa dan berdzikir.

Ibu bercerita pada semuanya, ketika nelpon itu, ibu melihat mulut penulis bergumam dan menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Padahal saat itu penulis sedang mengikuti bisikan untuk terus membaca tasbih sebanyak 70 kali.

Perjalanan hidup seseorang itu berbeda-beda, ada yang lurus dan ada yang penuh lika liku. Semoga kita bisa menjalani kehidupan yang sudah digariskan oleh sang Pencipta. Penulis percaya bahwa kehidupan didunia ini hanyalah seperti layaknya cerita-cerita sinetron yang sering kita lihat di layar televisi. Kehidupan kita selama didunia ini hanyalah sedang menjalankan naskah cerita milik sang pencipta.


Walau begitu, penulis ini hanyalah manusia biasa yang terkadang masih suka menyesali, "kenapa saat itu saya harus kembali ke Dunia,"

 Apapun yang pernah penulis alami, mungkin ini adalah jalan terbaik yang diberikan Allah pada penulis. Alhamdulillah penulis pernah berkunjung ke tempatnya, meski hanya sesaat

Pengalaman tiga puluh tahun yang lalu ini, masih teringat jelas dan sering muncul kembali, Apalagi di masa-masa bulan penuh berkah seperti saat ini.


Catatan singkat ini penulis tayangkan di rumahfiksi.com bukan untuk bermaksud riya' atau menggurui, penulis menuliskan ini dalam upaya untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa kehidupan didunia ini hanyalah sementara dan sejatinya tempat kita itu bukan disini. Ada alam lain selain alam fana ini.

Terimakasih sudah membaca sampai di akhir catatan, itulah sedikit goresan singkat penulis tentang Ketika Kematian di Depan Mata. Tetaplah rendah hati dan selalu menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah tentu atas izin yang maha suci. Subhanallah..

Semoga kita selalu ingat, bahwa kematian itu bisa datang kapan saja. Bahkan ada yang bilang jarak hidup dan mati itu setipis selaput buah salak. Wallahu Alam.



ADSN1919

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

10 komentar untuk "Ketika Kematian di Depan Mata"

  1. Terimakasih untuk artikelnya Mbak Din, inspiratif, mengingatkan kepada kita semua bahwa semua yang ada saat ini hanyalah sementara, dan kematian itu adalah pasti bagi semua makhluk yang bernyawaπŸ˜ŠπŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, tulisan ini mengingatkan saya tentang pengalaman yang pernah saya alami bertahun-tahun yang lalu. Terimakasih sudah singgah ya mas πŸ™πŸ™

      Hapus
  2. Wah, pengalaman luar biasa

    BalasHapus
  3. Terimakasih Bu Dini, ceritanya sangat bagus karena kita hrs menyadari kematian bisa datang kapan saja. Semoga kita akan siap bila waktu itu datang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama2 semoga tulisan ini bermanfaat, terimakasih sudah mampir πŸ˜πŸ™πŸ™

      Hapus
  4. terima kasih nasehat nya bu.😊

    BalasHapus
  5. Duh ..., bikin merinding.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya nek apalagi yang mengalaminya ya nek 😁😁 pengalaman itu tak bisa dilupakan

      Hapus