Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Buah Terlarang

 

Foto oleh Rahul Pandit: https://www.pexels.com/id-id/foto/cahaya-langit-matahari-terbenam-wanita-7017859/



Malam ini terasa sepi, udara dingin  menusuk kulit. Andriani tidak bisa memejamkan mata, teringat belahan hatinya sedang jauh di sana, bekerja di atas gunung yang keselamatannya belum tentu aman. Binatang buas sering ditemui Andre tunangannya. 


Andriani selalu gelisah dan tidak tenang bila Andre sedang bertugas di tempat terpencil. Hanya kepercayaan yang menjadi modal utaman keduanya, dan saling memegang komitmen. Mereka berdua mempunyai kesepakatan berdua untuk menguji keseriusan masing-masing, yaitu melarang keduanya memakan satu nama buah yang super enak, siapapun yang mencicipinya akan ketagihan dan Andre sendiri yang membuat perjanjian itu. Buah itu buah langka yang tidak boleh sembarang orang memakannya.

Meski sangat ingin memakan buah itu, Andriani menahan tidak memakannya demi membuktikan pada Andre tunangannya itu. Dan Andriani sukses menjalankan ujian yang diberikan Andre. Selama dua tahun Andriani bertahan tidak mencicipi buah itu, sampai Andre sendiri yang memberikan buah langka itu. 


Andriani sangat percaya pada Andre lelaki yang dicintainya dengan segenap jiwa, tak mungkin Andre memakan buah yang sudah disepakatinya, karena Andriani selalu mengukur diri, ibarat cermin apa yang dia lakukan akan terpantul pada Andre tunangannya begitupun sebaliknya. Oleh karena itu Andriani tidak mau gegabah dalam melangkah.


Dua hari ini Andriani melihat sikap Andre sangat berbeda, semua pertanyaan yang dia lontarkan dijawab Andre dengan emosi. Andriani sampai heran, padahal pertanyaan itu sama seperti pertanyaan yang Andre tanyakan ketika sedang cemburu, tapi itu semua tidak berlaku bagi Andriani, semua kesalahan di tuduhkan pada Andriani. 


Padahal selama ini Andriani hanya bisa menangis ketika Andre menuduh habis-habisan dirinya, karena dia menjawab ramah seorang lelaki. Kata pisah selalu terlontar dari Andre tunangannya itu, tapi Andriani tidak pernah terpancing dan berusaha menenangkannya.


Tengah malam Andriani terbangun, teringat tunangannya yang jauh di sana, sedang apakah Ia, amankah Ia disana, sudah makankah Ia di sana. Andriani hanya bisa berdoa semoga tunangannya baik-baik saja. 


Sampai suatu saat, android tunangannya sering off dengan waktu lama, Andriani berpikir positif mungkin Andre sedang sibuk, Dia sangat percaya pada tunangannya itu. 


Tengah malam Ahmad sahabatnya mengirim foto Andre sedang menikmati buah yang Andre  sendiri selalu bilang tidak mau memakannya, sampai Andriani yang menyuapi buah itu, foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi memperlihatkan Andre sangat lahap memakan buah itu tanpa melihat ada orang disana. Jujur saja Andriani sangat kaget, tapi dia berusaha tenang. 


"Siapakah orang memberi buah itu? Sepertinya tidak sekali duakali Andre memakan buah disana ?" 


Padahal Andre sendiri yang membuat perjanjian untuk menguji kesetiaan masing-masing. Andriani bertahan tidak memakan buah itu selama dua tahun, hanya ingin membuktikan bahwa dia bisa menjaga kepercayaan yang Andre berikan padanya, tapi Andre baru tiga bulan tidak mencicipi buah itu, Ia sudah menggeliat tidak tahan dan diam-diam mencicipi buah itu. 


Andriani menahan diri untuk tidak menghubungi tunangannya karena hari sudah larut malam dan Andre pasti sedang istirahat. 


Keesokan harinya, Andriani mendapat sapaan hangat dari Andre tunangannya, Andriani mengirim balik foto yang dikirim Ahmad malam tadi. 


Andre tidak langsung menanggapi, tapi mengalihkan pembicaraan dengan topik yang lain, sedang pusing masalah kerjaanlah , inilah, itulah dan banyak alasan lainnya. Andriani sengaja pura-pura tidak tau, padahal dia sudah tau, kalau Andre tidak langsung menjawab, ada yang Andre sembunyikan. 


"Apakah saya boleh bertanya, seperti yang biasa akang tanyakan ke saya?"

"Boleh sayang"

 "Apakah benar  akang  memakan buah itu dan kalaupun iya memakan, tidak apa-apa",  setelah tiga kali Andriani bertanya, Andre tidak bisa mengelak lagi dan mengakui secara sadar Ia memakan buah itu. 

 Di saat tengah malam,  ketika Andriani tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan tunangannya di atas gunung,  tunangannya sedang asyik menikmati buah yang Ia larang sendiri. 


Kalau jaman Adam dan Hawa, Hawalah yang tergoda memakan buah khuldi yang jelas-jelas dilarang, karena bujukan setan. Terbalik dengan Andriani dan Andre. Andrelah yang tergoda untuk mencicipi buah itu, meski Ia menyadari bahwa yang dilakukan itu menggugurkan komitmen. 


Hati Andriani sangat perih, kepercayaan pada Andre hilang sudah, tidak ada yang bisa diharapkan lagi, ternyata Andre tidak bisa memegang komitmen. Padahal Andre sendiri yang berjanji dan dia sendiri yang berkhianat. Andriani baru tersadar beberapa kali Andre melanggar komitmen, tapi dia berusaha tutup mata. 


Andriani menyadari dia juga manusia biasa, tapi Andriani berusaha memperbaiki diri dan menghindari sesuatu yang tidak disukai Andre 


Andriani ingin tertawa atas kebodohannya sendiri, begitu percaya mulut manis laki-laki. Saking percayanya dia mengikuti semua kata-kata Andre dan tak berani membantahnya. 


Kemanapun Andriani pergi, dia selalu memberitahu tunangannya, sampai orang tuanya sangat percaya pada Andre untuk menjaga Andriani. Entah Andriani harus bilang apa pada orang tuanya. Saat ini hatinya sangat perih, kepercayaan pada Andre terbang entah kemana. Dia hanya ingin menata hati agar tidak kecewa kembali. Jalan hidupnya dia serahkan sepenuhnya pada sang Pencipta.  


Selesai 



Catatan: 

Kisah ini fiktif belaka, bila ada nama yang sama itu hanya kebetulan semata. Penulis hanya ingin mengasah kembali kemampuan menulis terutama cerpen.


 

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

11 komentar untuk "Buah Terlarang "

  1. Semoga Andre tidak seperti prasangka Andriani ya😊 keren fiksinya🀝

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir, cerpen picisan terinspirasi kisah Adam dan hawa. Salam πŸ™πŸ™πŸ™

      Hapus
  2. Masih tunangan. Masih ada kesempatan mencari pengganti yang lebih berkomitmen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, terimakasih sudah mampir, salam πŸ™πŸ™

      Hapus

  3. Cara metafora yang bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, terimakasih sudah mampir dan membacanya, salam πŸ™

      Hapus
  4. Bagus jg buat pembelajaran pengujian seorang laki2 ..berarti lebih hebat perempuan bisa menjaga amanah nya...hebat perempuan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, perempuan bisa menjadi kepercayaan dan membuktikan keseriusannya, beda dengan laki-laki yang kadang menyepelekan apa yang telah diucapkannya 😁😁 terimakasih sudah mampir πŸ™

      Hapus
  5. Sabar, Andriani. Sedetik sebelum kata putus, masih ada harapan bersatu kembali. He he ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe nenek terimakasih sudah mampir πŸ€—πŸ€—πŸ€—

      Hapus