Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Angelina Sang Pengacara - Bagian Empat

 

Angelina Sang Pengacara - Bagian Empat


Bagian Empat


<< Sebelumnya

Nana terbangun ketika mendengar  suara adzan berkumandang, melihat dirinya tertidur pulas berselimut dan laptopnya tidak ada, Ia tau pasti ibunya yang menyelimuti dan mengamankan laptopnya itu. 


"Ah...pasti ibu tau aku menangis semalaman." gumam Nana dalam hati, jujur saja Ia tidak mau membuat ibunya bersedih melihat keadaannya. 


Sebelum keluar kamar Nana melihat pantulan wajahnya di dalam cermin, matanya terlihat bengkak, efek menangis semalaman. 


Dengan pelan Nana menuju kamar mandi yang letaknya antar kamar Nana dan kamar ibunya. Dari pintu kamar yang terbuka sedikit,  terlihat ibunya sedang Sholat Subuh dengan khusu. 


Nana membuka pintu kamar mandi untuk bersih-bersih diri dan berwudhu. Setelah selesai Ia menuju kamarnya dan melaksanakan sholat Subuh. Wajahnya terasa segar ketika air dingin membasahinya. 


Dalam doa yang selalu dipanjatkannya, Ia selalu mendoakan ibu dan suaminya. Saat ini hanya rasa percaya yang kuat, bahwa suaminya baik-baik saja di tempat tugas. Tidak dipungkiri banyak godaan yang mendekatinya, terutama dari lawan jenis ketika tau keberadaan suaminya yang jauh dan dianggap hilang karena tidak ada kabar tentang keberadaannya, apakah masih hidup atau tidak. 


Nana tetap teguh pada  pendiriannya, bahwa suaminya masih hidup. Nana yakin penantian ini akan berakhir  bahagia. 


Salah satu alasan Nana memfokuskan membantu klien perempuan, karena selain sesama perempuan, Ia dapat merasakan apa yang kliennya rasakan. 


Sebenarnya Nana tidak pilih-pilih klien, tapi untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, sebisa mungkin Ia menghindari untuk  mendapat klien laki-laki, karena statusnya sangat rentan. 


Pukul 09.00 Pagi ini Nana ada janji dengan Susan, klien specialnya. Nana tau resikonya membantu Susan, membantu Susan artinya adalah mempertaruhkan pekerjaannya di kantor Pengacara Lazuardi.


Tekad Nana sudah bulat, Ia masa bodoh dan akan tetap membantu Susan. 


Setelah selesai Sholat dan membereskan tempat tidur, Nana keluar dari kamar untuk menemui ibunya di dapur.

Tercium Nasi Goreng kencur  buatan ibunya yang super enak.

Nana membuat dua gelas teh manis panas dengan sedikit  gula, karena Nana dan ibunya tidak suka teh yang sangat manis, rasa jambu istilahnya. 


Nana dan Ibunya makan dengan lahap, nasi goreng kencur plus ceplok telur dan kerupuk jengkol.

"Hmmmm nikmat sekali," gumam Nana sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya. 

Sambil mengunyah nasi di dalam mulutnya, Nana tau jika saat ini ibu nya tengah melihat dirinya dengan segudang tanda tanya.

Nana tau jika saat ini ibunya tidak banyak bertanya pada dirinya, hal itu dilakukan untuk menjaga perasaannya. Ibunya hanya bertanya sepintas mengenai pekerjaannya saja.


Setelah makan, Nana mencuci piring dan membereskan meja makan. Kemudian Nana menyapu dan mengepel lantai, ibunya menjemur baju, meski Nana melarang, tapi ibunya memang tipe wanita yang tidak bisa diam. 


Rumah telah bersih dan harum, Nana mandi dan siap-siap bertemu Susan di Cafe yang ada di Kotanya. 

Sebenarnya dihari Minggu seperti ini, Ia ingin beristirahat di rumah saja, tapi pekerjaan sebagai pengacara  membuat Ia harus mengurangi hari liburnya, sebab Ia harus mengimbangi kesibukan kliennya. 


Nana terlihat cantik dengan kemeja putih, celana blue jean dengan kerudung biru bercorak, dengan kalung perak  bulat besar mempercantik penampilannya, ditambah sepatu kets warna putih, terlihat memancar kecantikannya. 


Setelah pamitan ke ibunya, Nana membelah jalanan yang sudah ramai dengan hati-hati. Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Nana sampai di Cafe tempat Ia dan Susan janjian bertemu. 


Terlihat Susan sudah menunggu di kursi yang letaknya di pojok, sepertinya itu adalah tempat favorit Susan, karena tempat yang sangat aman dan tidak terlalu terlihat oleh pengunjung lain, tempat duduknya itu terhalang pohon plastik yang besar. 


Setelah cipika cipiki, mereka duduk berhadapan dan memesan minuman kesukaan masing-masing. 


Susan membuka kaca mata hitam yang dipakainya. Nana melihat mata Susan bengkak, sepertinya dia habis menangis semalaman seperti dirinya. Nana tersenyum kecut dan merasa lucu, Ia berusaha membantu Susan sedangkan dirinya juga sedang menunggu kabar dari suaminya. 

"Ah aku harus profesional," kata Nana dalam hati sambil berusaha menahan agar air matanya sendiri jatuh membasahi kedua pipinya. 


Setelah minuman pesanan mereka datang, Susan mulai bercerita, tadi malam suaminya memaksa untuk tidak melanjutkan gugatan cerainya dan memakai pengacara. Irfan sang suami mengejeknya, tidak ada pengacara yang akan mau membantunya. Kalau Nana sampai membantu Susan, maka Nana akan dipecat dari kantor pengacara Lazuardi.


Bersambung

ADSN1919

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

6 komentar untuk "Angelina Sang Pengacara - Bagian Empat"

  1. Makin penasaran dengan lanjutannya πŸ˜…πŸ‘ di tunggu bagian lima nya ya.. kerenπŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya, nanti nunggu inspirasi lagi, semoga tetap ngalir idenya ditengah kesibukan sana sini πŸ˜πŸ˜πŸ˜‚

      Hapus
  2. Ditunggu bagian 5 nya bu....

    BalasHapus