Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Si Belah Mencari Tuhan (Bagian Sepuluh)

Kisah Si Belah Mencari Tuhan


Bagian Sepuluh

<< Bagian Sembilan

“Si Belah yang mata hati dan telinganya selalu terjaga, berdoa kepada Tuhan agar Ia bisa dipertemukan dengan dua wanita ini, untuk menyampaikan amanat mereka dulu “seperti” mendapatkan jawaban, bahwa Si Belah akan kembali di pertemukan dengan kedua wanita itu tapi dalam rupa dan kondisi yang berbeda.”

“Maksudnya Si Belah langsung mendapatkan jawaban dari Tuhan? Bahwa Ia akan dipertemukan dengan dua wanita itu tapi dalam kondisi dan rupa yang berbeda?”

“Iya,” jawab Jabrik kalem.

“Terus akhirnya Si Belah kembali bertemua dengan kedua wanita itu untuk menyampaikan amanat mereka?”

“Iya,”

“Maksudnya gimana sih?”

“Si Belah bertemu dengan mereka?”

“Di Dunia?”

“Iya,”

“Kan mereka berdua udah pada meninggal dunia?”

“Tuhan mempertemukan mereka dalam keadaan yang berbeda,”

“Maksudnya?”

“Pertemuan Si Belah dengan kedua Wanita itu tidak seperti pada pertemuannya yang pertama,”

“Gimana?”

“Si Belah kembali bertemu dengan Wanita ahli ibadah yang dulu Ia temui tengah beribadah di atas Batu Kali itu bukan di tempat yang sama,”

“Iya, kan tadi Batu Kali yang dahulu Ia pakai untuk beribadah itu saat ini telah di jadikan Batu Keramat oleh sebagian anak-anak manusia,” kata Oneng sambil melihat ke arah Jabrik.

“Iya,”

“Terus ketemu di mana donk?” tanya Oneng penasaran.

“Di tempat Pelacuran,”

“Ha! Kok bisa?” tanya Oneng sampai ternganga mulutnya mendengarkan cerita Jabrik barusan

“Setelah berdoa kepada Tuhan agar Ia bisa kembali di pertemukan dengan kedua wanita itu Si Belah kembali melanjutkan perjalanan,”

“Iya, tapi gimana sih lanjutan kisah Si Belah yang ketemu Wanita ahli ibadah itu di tempat Pelacuran,” tanya Oneng sedikit protes karena merasa lawan bicaranya ini seolah-olah tidak tuntas di dalam menceritakan pertemuan antara SI Nenek dan Si Belah.

“Mau mendengar lanjutan ceritanya apa mau terus menyela? Mau kayak Nabi Musa yang di usir Nabi Kidr karena tidak sabar dan terlalu banyak tanya tentang suatu hal yang belum diketahuinya?” Jabrik bertanya pelan sambil tersenyum dan menatap tajam ke arah Oneng yang dilihatnya tidak sabaran di depannya.

“Iya, maaf.. lanjutin deh ceritanya,” jawab Oneng pelan sambil menunduk, tak sanggup menerima tatapan mata yang begitu tajam tapi juga terasa meneduhkan di depannya ini.

 

Oneng “mengkeret” melihat tatapan mata tajam Lelaki misterius di depannya. Entah kenapa saat ini Ia merasa kuatir membuat marah Lelaki muda yang sebenarnya cukup tampan di depannya ini.

Ya Tuhan, apakah aku telah jatuh hati kepada Lelaki yang baru kukenal ini? Oneng membatin, larut dalam perasaannya sendiri sambil menggigit-gigit bibirnya sendiri.

 

“Setelah meninggalkan Yayasan Pelita Hati. Tempat yang dahulunya adalah tempat para Wanita malam mencari rezeki, setelah salat Ashar di suatu Mesjid, Si Belah tertidur, dan di dalam mimpinya itu Ia seperti kembali bertemu dengan Tuhan, saat itu Si Belah diberitau bahwa Ia akan dipertemukan dengan kedua wanita itu di masa depan, kedua Wanita itu akan tetap memiliki nama dan wajah yang sama seperti ketika Si Belah bertemu dengan kedua Wanita itu untuk yang pertama kalinya, selain petunjuk nama, Si Belah juga seperti mendapat gambaran yang mucul seperti sekelebat wajah dari dua sosok Wanita yang tengah di carinya itu,” Jabrik kembali melanjutkan ceritanya sambil tersenyum dan kembali menatap Perempuan muda di depannya ini yang sepertinya terkejut dan tengah menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.

 



Bagian Sebelas >> 


Catatan: Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani Dinni. Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

4 komentar untuk "Kisah Si Belah Mencari Tuhan (Bagian Sepuluh)"