Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kampung Halaman


Foto Oleh Tom Fisk dari Pexels


Hai semua, perkenalkan namaku Ade Sigit Herdiansyah, boleh manggil aku Ade atau Sigit, suka-suka deh, tapi aku lebih suka dipanggil Igit hehehe, kesannya imut-imut gitu deh.

Oh iya, aku lahir di kota Ciamis Jawa Barat tepatnya di daerah Panjalu Sukamantri. Aku mempunyai dua orang adik yang super lucu, satu  adik perempuan dan satunya lagi adik laki-laki, mereka adalah adik kesayanganku, aku sering bermain bersama mereka, terkadang membuat mereka menangis karena kesal aku isengin, hehehe. 

Aku anak tertua, jadi aku  harus bisa menjaga adik-adikku. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Orangtuaku selalu mengajarkanku untuk selalu hidup sederhana, jangan iri dengan kehidupan temanku yang berkecukupan, aku bersyukur punya orangtua yang sangat mengasihi dan penuh perhatian pada kami. 

Aku dan adik-adikku di besarkan di kota Cirebon daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Semenjak  kecil aku sudah ikut ayah dan ibu di Cirebon dan aku sekolah di SDN Sunyaragi 2, sekolah yang dekat dengan rumahku, aku betah sekolah di sana karena gurunya baik dan sabar, membimbing kami khususnya aku.  Tidak terasa, aku sekarang sudah kelas 6 dan sebentar lagi aku akan masuk SMP, memakai baju putih biru, ada rasa senang dan sedih bercampur menjadi satu, karena aku akan berpisah dengan teman-temanku, meninggalkan sekolah tercinta.

Aku dan orangtuaku serta adik-adikku sekarang menetap di Cirebon karena orangtuaku berjualan. Kalau musim liburan sekolah tiba, aku selalu berlibur ke kampung halamanku di Ciamis, disana aku punya banyak teman dan aku sering bermain bersama mereka.  Di kampungku itu udaranya masih sangat sejuk dan bersih, karena masih banyak pegunungan, pohon-pohon dan pesawahan. Aku sering bermain di sungai, airnya dingin dan jernih, karena di Cirebon aku jarang melihat sungai yang jernih. Paling aku main ke pantai bersama orangtua dan adik-adikku.

Aku sangat senang kalau sudah berlibur ke kampung halaman, karena bisa bertemu kakek, nenek, dan saudara yang lainnya. Tapi sayang ya, sekarang sedang pandemi, orangtuaku melarang aku untuk liburan di kampung halaman, biar virus tidak menyebar gitu katanya, aku sih nurut saja meski ingin berlibur di Ciamis. Untuk melepas kangen aku sering Video Call dengan nenek, kakek serta saudara-saudaraku di kampung halaman, mengurangi rasa kangen, hehehe. Semoga sehat-sehat semua ya, Corona kapan pergi?.




BY : ADE SIGIT HERDIANSYAH 

Kelas VIb 

SDN Sunyaragi 2 Kota Cirebon







Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

32 komentar untuk "Kampung Halaman"

  1. Apik. Semangat melawan Covid-19, patuhi protokol kesehatan demi keselamatan bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih kita harus lawan pasukan api ☺️

      Hapus
  2. Jadi rindu kamoung halaman😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga covid segera berlalu 😁 biar bebas pulang kampung πŸ˜€

      Hapus
  3. Waah, udah ada cerita anak lagi yaπŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dong ☺️πŸ˜€ biar mereka tambah semangat, manatau lahir penyair besar dari sekolahku 😁☺️πŸ€—

      Hapus
  4. Cakep. Aku kalah telakk🀦‍♂️

    BalasHapus
  5. Selamat buat ananda Sigit.
    Meski di musim pandemi ini, tetap melakukan proses kreatif.
    Bagi ananda, ternyata pandemi, bukan menjadi penghalang untuk terus berkarya cipta.
    Semoga menginspirasi yang lain.
    Saat ini, ananda adalah bagian dari segelintir orang yang semoga memiliki dan mencerminkan watak 'rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
    Sesuatu yang menghalangi cita-cita untuk berkarya, akan terpinggirkan.
    Demikian sebagaimana yang telah terjadi pada seorang Newton, meski di tengah pandemi "black death" di Eropa pada abad awal19 yg menewaskan seperempat daratan Inggris, ia yg saat itu sebagai mahasiswa, oleh otoritas kampus, dipaksa pulang, utk tdk melakukan pmbljaran/lockdown, karena pandemi, justru melakukan percobaan-percobaan optik dll, diilhami oleh seberkas cahaya yg menerobos masuk lewat lubang dinding kamarnya dan juga saat tertidur di bawah pohon apel, tertimpa hidungnya oleh buah apel yang jatuh, dengan satu pertanyaan besar,"Mengapa buah apel jatuhnya ke bawah?"
    Pertanyaan ini melahirkan sikap heroik untuk menjawabnya lewat aksi-aksi eksperimentasi, hingga menguak tabir misteri tentang memahami hukum gravitasi bumi.
    Semoga Sigit, merupakan awal bagi generasi milenial untuk tetap optimis meski hidup dalam keterbatasan karena pandemi, berdamai dengan melakukan karya kreatif. Semoga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih pak Nardi waahh komentarnya lebih dalam nih bisa dibuat artikel 😁

      Hapus
  6. Antap. Kelas 6 SD udah pintar nulis cerita. Terima kasih cucunda Sigit. Terima kasih juga untuk pemilik blog, anands Dinni.

    BalasHapus
  7. Baru kelas enam SD tapi sudah bisa membuat cerita, apik lagi.

    Semoga liburan ini ananda Igit bisa pulang ke Ciamis.πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, semenjak covidt ke mana-mana, semoga bisa normal kembali

      Hapus
    2. Kapan normalnya ya, pengin jalan-jalan ke tempat wisata tanpa takut atau was-was.

      Hapus
    3. Iya bener mas Agus, sekarang mau pergi2 was was

      Hapus
  8. Tulisan Ade bagus. Terus dikembangkan sehingga anak-anak rajin menulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah mampir, iya semoga ada penerus kita untuk menulis

      Hapus
  9. Cukup komentar, mantab, teh Dinni.

    Salam πŸ™ sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ada pak Katedra, makasih sudah nengok blog rumah fiksi

      Hapus
  10. Wah, pemandangan di desa begitu emang gaada duanya. Semangat PPKMnya juga. Boleh silahkan mampir balik :)

    BalasHapus