Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kulit Pisang


Kulit Pisang

Foto oleh Any Lane dari Pexels



Putri dan Nabila, sepasang sahabat yang bisa dibilang jarang akur. Mereka memiliki sifat yang berbeda. Putri yang tidak peduli dengan kebersihan dan Nabila yang sangat peduli dengan kebersihan, mereka  memutuskan untuk menjalin pertemanan. Perbedaan itulah yang mengakibatkan mereka berteman. 'Saling melengkapi' itu yang membuat mereka yakin untuk menjalin pertemanan. Walaupun mereka jarang akur, tetapi pertemanan itu sudah berjalan hampir 6 tahun. Dan hampir 6 tahun juga Nabila tidak lelah mengingatkan Putri untuk membuang sampah pada tempatnya. Walau Nabila sering kali mengingatkan Putri untuk membuang sampah pada tempatnya, namun Putri selalu saja mengabaikan perkataan sahabat nya itu. Di sebuah minggu yang cerah, mereka memutuskan akan bermain di rumah Putri.

"Assalamu'alaikum permisi" Salam Nabila di depan gerbang berwarna putih milik Putri

"Waalaikumsalam tunggu sebentar" Ucap seseorang dari dalam rumah setengah berteriak. 

"Eh nak Nabila. Ingin bertemu Putri ya?" Ucap wanita memakai baju daster bermotif batik dengan ramah. 

"Iya tante. Putrinya ada?" Ucap Nabila tak kalah ramah 

"Putri ada di kamar. Ayo masuk nak Nabila" Ucap tante Rahma, ibu Putri

"Iya tante terimakasih" 

"Nak Nabila duduk dulu ya. Tante panggilkan Putri  sebentar" 

"Iya tante" Ujar Nabila sembari menduduki sofa panjang berwarna coklat yang di padukan dengan warna hitam. 

"Akhirnya kau datang juga" Ucap wanita berambut ikal berwarna coklat gelap sembari menuruni tangga

"Hehe maaf. Tadi ban sepedaku kempes, jadi harus ditambal dulu deh bannya. Maaf ya sudah menunggu lama" Ujar Nabila kepada wanita berambut ikal tersebut. 

"Tak apa. Oh ya kau ingin meminum apa? Biar ku ambil di dapur" Tanya Putri, wanita berambut ikal berwarna coklat gelap, sahabat Nabila 

"Emmm. Jus semangka saja deh" Jawab Nabila

"Wah disini tidak ada semangka Nabila" 

"Ya sudah kalau begitu aku ingin es teh manis" 

"Teh di rumahku sedang habis. Adanya air mineral, mau?"

"Ck. Kalau cuma ada itu kenapa kau bertanya wahai nona Putri yang cantik nan jelita?" Ucap Nabila yang sudah kesal 

"Hehe maaf. Ya sudah tunggu sebentar. Aku ambilkan dulu air mineral nya" 

"Silahkan di minum Nona Nabila" Ucap Putri sembari menaruh air mineral tersebut ke meja 

"Oke terimakasih pelayanku" 

"Haha mau aku usir hah? " Ucap Putri tertawa

"Hahaha" 

"Eh kita ke kamar  yuk" Ajak Putri

"Okey"

Saat sampai di depan pintu bercat putih yang bertuliskan 'kamar Putri yang cantik', Nabila sudah berprasangka buruk kalau kamar Putri kotor. 

" Ayo kita masuk" 

Kreeek

"Astaga Putri, kamarmu kotor sekali!" 

"Ck. Sudahlah. Peduli sekali kau terhadap kamarku." 

"Hah Putri, sudah berapa kali aku bilang, buang sampah pada tempatnya dan bersihkan kamar  ini" 

"Sudahlah Nabila, mengapa kau sangat peduli dengan kamarku? Toh ini kamarku bukan kamarmu"

"Tidak taulah Putri. Aku lelah mengingatkanmu" 

"Ya sudah bagus"

Merekapun duduk di kasur Putri yang di penuhi oleh sampah plastik bekas  jajanan. Mereka berdua pun bermain di atas kasur. Entah itu bermain uno, menonton film di tv, atau melakukan hal-hal yang menarik lainnya. 

"Mau kemana kau? " Tanya Putri saat melihat Nabila berdiri dari duduknya

"Ke kamar mandi" Jawab Nabila

"Oke"

Bruuk! 

"Aduh" 

"Kau kenapa Nabila!?" Panik Putri 

"Awh sakit" Ucap Nabila 

"Mengapa bisa seperti ini, Nabila?!" Tanya Putri

"T-tadi aku terpeleset oleh kulit pisang" Jawab Nabila

"Astaga! Maafkan aku, Nabila" Ucap Putri menyesal

"Ayo kita ke kasur" Ucap Putri sembari membantu Nabila berjalan ke arah kasur

"Maafkan aku sekali lagi Nabila. Aku menyesal" Ucap Putri menyesal

"Kan sudah aku bilang. Buanglah sampah pada tempatnya. Kan jadi gini akibatnya" Ucap Nabila menahan rasa sakit

"Hiks aku menyesal. Pasti sakit kan? Aku bawa kau ke rumah sakit ya?" Ujar Putri yang sangat sangat menyesal

"Tak usah. Memang sakit sih. Tapi tak apa" Ucap Nabila sembari tersenyum. 

"Aku tidak mau ya ada korban lagi oleh ketidak pedulianmu terhadap kebersihan. Hanya aku saja yang menjadi korbanmu. Jadi, mulai sekarang aku ingin kau peduli terhadap lingkungan! Oke?" Ucap Nabila

"Oke Nabila. Aku akan menjadi sepertimu mulai sekarang. Aku baru sadar, ketidak pedulian aku terhadap kebersihan ini akan mencelakai orang orang di sekitarku. Maaf sekali lagi ya Nabila" Ucap Putri sembari memeluk sahabat baiknya itu. 

"Bukan hanya mencelakai orang-orang di sekitarmu saja. Tapi juga bisa mencelakai dirimu sendiri. Janji ya ku akan peduli terhadap kebersihan? " Ucap Nabila sembari tersenyum

"Iya aku janji" Ucap Putri yang juga tersenyum 

 

TAMAT


RIFFA MAZIYYATUL MAULA     

 Kelas VI B                                                      

SDN Sunyaragi 2


Apriani1919
Apriani1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam karena itu membuat aku tiada secara perlahan

25 komentar untuk "Kulit Pisang"

  1. Waah ini tulisan anak SD ya? Keren nih☺️πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya anak kelas 6, guru2nya pinter2 πŸ˜πŸ˜€

      Hapus
  2. Gara-gara buang sampah sembarangan.

    BalasHapus
  3. Good story...
    Go ahead....

    BalasHapus
  4. Pinter ya siswanya bisa nulis sebagus ini

    BalasHapus
  5. Waduh. Kayaknya Riffa cocok pindah ke SD ku aja, Bu🀭🀭

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah, Terimakasih guru2 SD N Sunyaragi 2 yang telah mendidik putri ku, dl kakanya jg alumni SD Sunyaragi 2 jg,dia dah punya karya kumpulan puisi dan sudah dicetak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah hebat mah πŸ˜€πŸ‘πŸ‘πŸ‘

      Hapus
  7. Hmmm,.. Kulit pisang memang sampah sepele. Tapi bisa akibat fatal jika terinjak lalu jatuh tersungkur. Selamat malam ananda Dinni.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bund, kebiasaan buruk meski sepele akibatnya fatal, mohon maaf lahir batin bundπŸ™

      Hapus
  8. pinter si adek yang bikin cerpen...cerpennya bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya mba Mbul πŸ˜πŸ˜€πŸ˜€ makasih sudah mampir 😁

      Hapus
  9. Balasan
    1. Iya, terimakasih sudah mampir πŸ˜€

      Hapus
  10. Oh ini cerita yang buat anak SD ya , keren sih sejak kecil sudah bisa membuat cerpen yang ada maknanya.πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sengaja simpan khusus cerita anak untuk murid2 saya yang mau nulis πŸ˜πŸ˜€

      Hapus