Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Warna Warni Dunia

Foto oleh Sebastian Estrada dari Pexels





Wahai Kemarau, kapankah Hujan akan datang untuk membasahi Bumi yang kering. Puluhan Purnama terlewati begitu saja, tanpa bosan bibir ini selalu bertanya, kapan Hujan akan membasahi Bumi?


Andai Hujan datang, Ia ingin berlari di tengah Hujan, biar Hujan mencumbui tubuhnya. Hujan bercampur air mata membasahi sekujur tubuh. Adakalanya Ia ingin berteriak, biar penghuni Bumi mendengar suara Makhluk Bumi yang tidak dianggap keberadaannya, hanya kesilapan yang diingatnya dan tidak pernah dilakukannya.


Rembulan yang selalu menemani malam-malam panjangnya, Rembulan  mengetahui apa yang dilakukan Perempuan itu. Seorang Perempuan yang hanya bisa terdiam ketika telunjuk mengarah padanya, Ia bisa apa ketika telunjuk itu selalu dan selalu mengarah padanya. Seolah Ia  pencuri permata yang tertutup peti kaca berlapis emas.


Keheningan menemani hari-harinya, memilih menyepi dari hingar bingar duniawi, meski saat ini baju Dunia masih melekat ditubuhnya, tapi raganya berada di Dunia Sunyi. Terasa damai bila hati sedang menyepi, meski namanya selalu disebut-sebut di panggung sandiwara. Banyak lakon yang disematkan padanya, tapi biarlah, hanya Tuhan yang Mengetahui. Ia sedang menjahit Dunianya sendiri. Hanya segelintir makhluk yang bisa memahaminya. Biarlah.





Asalkan bukan pemilik sepasang mata itu yang ikut menyematkan lakon di panggung sandiwara. Terkadang berdiri di sudut jalan Sunyi, menyaksikan peran-peran yang mereka lakonkan, pertunjukkan yang mereka pertontonkan mengikuti skenario yang telah diarahkan sutradara, meski sering melenceng dari skenario awal.


Sepasang Merpati terbang rendah menemani perjalanan ini, bulunya terlihat putih bersih dan aih, mereka sepasang, Merpati Jantan selalu melindungi pasangannya, meski tidak terlihat kemesraannya, sepasang Merpati selalu bersama mengepakkan sayapnya, tidak ada yang berjalan sendiri atau ditinggalkan, mereka selalu bersama, menemani dua pasang kaki ini berjalan.


Awal cerita yang tidak pernah ditulis dengan sengaja, menguak kisah misteri yang selama ini menjadi pertanyaan. Terjawab sudah. Potongan-potongan kisah yang tercecer, sedikit demi sedikit telah disatukan dan mendekati sempurna. 


Bak bola mata, Purnama bulat dengan sempurna seolah lampu Taman yang menerangi gelapnya Bumi. Begitupun dengan kehadiran, yang akan memekarkan kuncup-kuncup hati. Sepasang burung Merpati menemani perjalanan ini.


Impian-impian yang menjadi nyata, bukankah semua berawal dari mimpi? Kita bangun mimpi itu. Dijahit sedikit demi sedikit, jarum itu tajam terkadang jari jemari berdarah tertusuk jarum itu, tapi kita terus menjahit lembaran demi lembaran, untuk kita jadikan pakaian penutup aurat.


Nahkoda kapal terus melaju, ombak dan badai sudah dilewati, meski badan basah kuyup terkena percikan air laut, petir menyambar, tak surutkan perjalanan. Kapal bocor sudah biasa, menghantam karang sudah biasa, kapal itu akan terus berjalan, sampai pada tempat yang dituju.


Walau ingin semua mata melihat, tak perlu sebuah wewara. Karena rasa bukan iklan murahan, ditawarkan dengan wajah memelas. Rasa, bukan untuk menunjuk diri akan keberadaan, biar berdiri dibalik panggung, menyaksikan kemeriahan di atas pentas, tepuk tangan membahana penuh kepalsuan. 


Ada dalam ketiadaan, kekuatan rasa menjadikan Ia ada, biarlah tak terlihat, tapi bersemayam di ruang hati. Bibir ini berpagar untuk menahan rentetan kata yang keluar dari ruang gelap. Biarlah ratusan kata tertahan, biar belati tak tertancap. Bukankah rasa sabar salah satu ilmu yang sulit dilakukan? Untuk itu Ia belajar diam menelan segala pil pahit yang mereka lemparkan.


Rasa rindu pasti ada, biarlah rasa itu ada dan tersimpan dilubuk hati, terlipat dengan lipatan sangat rapih. Jangan robek kerinduan ini dengan kata-kata yang menoreh luka. Tutup pintu hati biar tak sembarang bisa memasukinya. Jangan pernah mengobral kata-kata hati karena itu akan melukai, ingatlah itu.


Isi Dunia saat ini seperti hidangan yang sudah basi, terlihat gemerlap, tapi mematikan hati. Biarlah sedikit demi sedikit menjauhinya, supaya tidak tenggelam dari kenikmatan sesaat. Jalan setapak menjadi pilihan yang sedikit makhluk Tuhan memilihnya. 

ADSN1919



Apriani1919
Apriani1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam karena itu membuat aku tiada secara perlahan

34 komentar untuk "Warna Warni Dunia"

  1. Selalu keren..😊👍👍

    BalasHapus
  2. Mantap kali bah... :) Sukses selalu, Mbak Dini.

    BalasHapus
  3. Kisah yang sangat berwarna, Teh Dinni.

    BalasHapus
  4. Sukses yah mba tutut..dan sehat selalu...aamiin..

    BalasHapus
  5. Keren 👍👍👍

    BalasHapus
  6. wiiihhh, nikmat skali bacanya, terhanyut aku nih buhj sayang, keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih ada Bu Nia, makasih Bu Nia sudah mampir 🤗🤗

      Hapus
  7. Ini tulisan epik kosmos di sekeliling kita...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe makasih sudah membaca tulisan sederhana 😁

      Hapus
  8. Mantap tulisannya mbak Dini.👍

    Aku belum bisa buat tulisan bagus seperti ini. :(

    BalasHapus
  9. Nahkoda kapal terus melaju, ombak dan badai sudah dilewati, meski badan basah kuyup terkena percikan air laut, petir menyambar, tak surutkan perjalanan. >>> woduh ... woduh ... Diksinya bagus dan enak dibaca. Terima kasih telah berbagi, ananda Dinni.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nenek .... Ini tulisan mungut di laut 😀😀 masih harus banyak belajar

      Hapus
  10. Hemmm...warna warni kehidupan.

    BalasHapus
  11. awww....indah dan terasa sampe ke dalam kalbuku...hiks hiks

    setiap katanya bagaikan apa ya...pokoknya aku suka...kayak setuju gitu deh di tiap perumpamaan dan kata kata bersayapnya...

    lafffff 😍đŸĨ°

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe aku suka dengan kata-kata bersayap, biar kata-kata itu terbang ke langit 😀

      Wah jadi GR nih Mbul setuju dengan kata-kata bersayapku 🤗🤗

      Lafff tooooo đŸĨ°đŸĨ°đŸ¤đŸ’…

      Hapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  13. wonderful story....
    bagus videonya.... mantul
    👍👍

    BalasHapus
  14. Dunia oohh Dunia, Kau semakin panas sepanas bara kehidupan yang tak tentu arah.

    Banyak orang merana karena tak merasa dan mengerti apa arti bersyukur dalam hidup yang kian pana...😁😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe mas Satria makasih kunjungannya 😁 goes naik 🚲

      Hapus