Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Si Belah Mencari Tuhan (Bagian Dua Belas)

 

Kisah Si Belah Mencari Tuhan
Kisah Si Belah Mencari Tuhan

<<Bagian Sebelas

“Pintu dari Surga dan Neraka itu baru akan di buka ketika kiamat telah tiba,”

“Oneng gak paham,” jawab Oneng pelan sambil menunjukan muka bingung kepada lawan bicaranya.

“Si Nenek di pinggir kali selalu meminta agar Ia dimasukan ke dalam Surga, makanya di kehidupan berikutnya sebelum hari pembalasan tiba, Si Nenek di masukan ke dalam Surga Dunia,” Jabrik tersenyum lebar sambil kembali menggoda Perempuan muda yang saat ini tengah mengenakan kemeja lengan panjang motif kotak-kotak berwarna biru tua, dipadu dengan setelan Blue Jeans ketat  di depannya.

“Hemm, ini pasti becanda kan?” tanya Oneng pada Lelaki misterius, yang suka berubah-ubah perangainya ketika sedang bercerita.

“Terserah, boleh di percaya boleh juga tidak, gak ada paksaan kok, heheehe..” jawab Jabrik sambil tertawa melihat ke arah Oneng yang merasa di kerjain dengan ceritanya.

“Iya, terus apa yang dilakukan Si Belah dan Si Nenek di Lokalisasi?” tanya Oneng lagi penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Si Belah kepada Wanita tua yang telah “Di Bokingnya”.

“Karena sudah di boking oleh Si Belah, Wanita tua itu mengajak Si Belah ke kamarnya,”

“Trus Si Belah mau?”

“Mau,”

“Ha! Di ajak tidur oleh Si Nenek yang mantan ahli ibadah itu?”

“Masuk Kamar Si Nenek tapi bukan buat tidur,” kata Jabrik lagi sambil senyum-senyum menggoda Perempuan muda di depannya.

“Iya, terus?” tanya Oneng penasaran dengan kelanjutan cerita Si Belah ini.

“Sebab akan lebih leluas jika mereka ngobrol berdua di dalam Kamar si Wanita tua ini, kan situasi tempat-tempat prostitusi itu, identik dengan suara musik, biasa di pakai buat karaoke oleh para pelanggan Wanita-wanita malam sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk “memboking” salah satu di antara mereka.” kata Jabrik berusaha menjelaskan siituasi di tempat-tempat hiburan malam.

“Iya, tapi kan biasanya, tempat-tempat hiburan malam itu identik dengan Wanita-wanita cantik yang selalu berpakaian seksi, untuk menarik minat para pelanggannya. Sementara jika titisan Si Nenek di pinggir kali itu berada disitu, kasihan donk, pasti kalah saing sama yang lebih muda –muda dari dia,”

“Tua bukan berarti tidak menarik,” kata Jabrik lagi sambil kembali mengulum senyum menggoda.

“Hemmm, dasar!”

“Wanita tua yang mengajak Si Belah, cerita di kamarnya itu berusia sekitar 53 tahun lebih dan penampilannya begitu menarik untuk orang-orang seusianya,” kata Jabrik lagi berusaha menjelaskan sosok Wanita yang di temui Si Belah di tempat Pelacuran.

“Kok Si Belah bisa tau kalau Wanita tua itu adalah sosok si Wanita ahli ibadah yang pernah di temuinya dulu?” Oneng sedikit protes dengan cerita Jabrik di bagian yang ini.

“Kan Si Belah sudah mendapat gambaran nama dan sosok yang tengah di carinya itu, di dalam mimpi,”

“Oh iya ya,”

“Ketika di temui Si Belah di pingir Kali pun sosok si Nenek kurang lebih seusia itu, hanya saja ketika di pinggir Kali Si Belah tidak mengetahui siapa namanya, baru setelah mendapatkan gambaran di dalam mimpi itu Ia mencari sosok dan nama itu,”

“Iya, trus selanjutnya ngapain Si Belah dan Si Nenek di dalam kamar?”

“Bercerita,”

“Gak mungkin! Ada sepasang manusia di dalam kamar berdua sampai pagi di dalam Kamar cuma bercerita saja,”

“Trus menurut Mbak, mereka ngapain berdua di dalam Kamar sampai pagi?” tanya Jabrik lagi berusaha menggoda Perempuan cantik di depannya.

“Auk ah! Gelap!” 

 




Selanjutnya >>

 

Catatan : Lokalisasi (Kompleks atau lokasi pelacuran)
 

Catatan: Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani Dinni. Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.


Rumah Fiksi
Rumah Fiksi Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

11 komentar untuk "Kisah Si Belah Mencari Tuhan (Bagian Dua Belas) "