Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menepi Disudut Mimpi

 DaftarBuat Artikel

 

Menepi Disudut Mimpi 

Biarlah malam ini aku menepi sejenak

Menjauh dari kebisingan yang selalu mengelilingiku

Aku akan minum sebutir obat tidur,  terlelap dibuai mimpi 

Biarkan sejenak  aku bergembira disudut mimpi

Tak perlu pujian setinggi langit 

Bila dibelakang masih ada yang lebih dipuji - puji


Ternyata luka itu tak mesti berdarah 

Pertanyaan yang sulit dijawab itu akan selalu membuat luka

Tak perlulah berulang kali pertanyaan terlontar 


Bila sulit terjawab akan kembali bertanya 

Sungguh terlihat betapa berat untuk menjawab iya atau tidak 


Tak usah capek-capek pergi ke sungai hanya karena ingin meminum seteguk air 

Bila air itu berada dihadapan

Biarkan aku menepi disudut mimpi bila itu membuatmu tenang 

Tak berdiri di depan, bila dibelakangpun semua akan melihat sebuah keberadaan


Kicauan burung terdengar merdu meski tak terlihat 

Tidak seperti semut meski berlari mengitari langkah, tapi tak terlihat 

Bulir-bulir yang menggantung disudut hijaunya daun 

Tetap akan terlihat sebelum mentari memanggangnya dan lenyap 


Menepi disudut mimpi, helaan napas terasa berat 

Menanti dilautan tak bertepi 

Tak perlu berbagi air mata, bila senyuman masih bisa kubagi 

Tak perlu berbagi kesedihan, bila setitik bahagia masih bisa kurasa 


Pada hujan aku hanya bisa menitip kesedihan agar bersembunyi diantara derasnya hujan 

Pada angin aku hanya bisa menitip pesan, bawalah puisi ini terbang jauh sampai ke negeri awan 

Pada lautan aku hanya berkata sebarkan kata-kata dalam puisi pada buihnya ombak yang menerjang batu karang 


Biarkan aku berada dibarisan paling belakang yang tak seorangpun dapat melihatnya 


Adsn1919



 Kembali

© Rumahfiksi.com, All rights reserved.

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

6 komentar untuk "Menepi Disudut Mimpi "

  1. Selalu keren puisinya, salam hangat mbak Din..🤝

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir dan membacanya mas Warkasa 🙏🙏

      Hapus
  2. Judulnya keren, syairnya puitis, enak dibacs, ananda Dini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😁😁makasih nek, puisi lama baru sempat ditayangkan ☺️😀

      Hapus