Widget HTML #1

DomaiNesia

Tuhan Kekasih Abadi

Imajinasi Tanpa Batas

Tuhan Kekasih Abadi

 

Kumandang adzan magrib terdengar, suara panggilan untuk menghadap-Nya, waktunya bermunajat pada sang Pencipta, kesibukan diri segera tinggalkan.

Tuhan tempat mengadu semua makhluknya, ada yang mengadu tentang kebaikan serta memohon kebaikan adapula yang mengadu tentang duka lara.

Butiran-butiran berjatuhan di atas sajadah, pertobatan yang tak pernah dicurahkan cukup diri yang tau, penyesalan teramat dalam yang tak mungkin orang akan mempercayainya. Memilih diam dan menelan semua itu lebih baik daripada menceritakan yang akan digoreng kemana-mana. Orang boleh berasumsi diri ini yang menjalani, tak perlulah menilai kehidupan seseorang yang masih katanya.

Sandiwara dunia, bisikan A diterima Z oleh yang lain, jadi lebih baik diam.

Sampai lorong waktu yang tak seharusnya muncul di tempat lain, hari itu entah kenapa sampai di tempat lain dan pintu itu terbuka. Dipantau tanpa sepengetahuan berlangsung lama, ternyata bukan hanya kucing yang tiap malam mengintip dibalik jendela, tapi ada yang lain yang ikut mengetuk-ngetuk dalam kegelapan.

Tak pernah sadar dalam pantauan, setiap malam selalu hadir dalam kesunyian. Pada saat semua dijauhkan dari kehidupan, datang pada saat yang tepat, bukan tempat pesta, bukan tempat keramaian dengan iringan musik dan tarian-tarian para penari, bukan. 

Lorong waktu itu sangat sunyi jauh dari hiruk pikuk, belum pernah merasakan sesunyi ini, seperti tak ada kehidupan, bagai dalam dimensi berbeda, tapi nyata.

Sajadah itu masih ditempat semula, ketika diri kembali ke tempat itu, suara orang mengaji masih terdengar, seberapa lama perjalanan itu? Terasa lama tetapi dalam hitungan menit, tangan ini masih terasa hangat dan lembab seperti dalam genggaman. Kenapa badan basah kuyup? Entah apa misteri ini.

Mata ini terpejam tapi bisa melihat, terasa silau oleh cahaya, dipejamkan kembali mata ini masih terasa cahaya yang sangat terang, ada apa ini? Kenapa dalam pejaman mata, masih bisa melihat cahaya matahari yang langsung ke mata?

 

Dalam buaian, telinga ini masih mendengar kebisingan, sangat riuh mendengar pembicaraan, mulut-mulut sedang membicarakan seseorang yang mereka tak suka, membicarakan aib saudaranya, telinga ini mendengar pembicaraan dalam ruangan yang sunyi, ahhhh ada apa ini?

Dalam tidur mendengar suara ledakan, terperanjat namun sepi, Allah Maha Pelindung memberi alarm sesuatu yang tak mungkin, tak ada lagi rasa percaya untuk menyampaikan kisah hidup, hanya satu dan selamanya satu.

Hidup ini penuh keramaian, lebih damai memilih sepi, lebih damai sekedarnya, menutup diri seperti masa kecil dulu.

 

Waktu terus berjalan dan tak akan pernah kembali, sesuatu yang sudah dilewati tak perlu disesali, pembelajaran hidup didapat. Meski sebenarnya ingin menghapus yang perlu dihapus. Tak ingin melekat dalam lembaran hidup, manusia bisa apa?

Seiring berjalannya waktu, lembaran kain putih dengan setetes tinta berwarna pekat, dengan penuh kesabaran dan kepercayaan lambat laun warna pekat itu memudar. Lembaran sejarah kehidupan anak manusia itu berbeda satu sama lain.

Tidak semua manusia mau menjalani proses, kehidupan ini tidak instan seperti menahan cabai yang terasa langsung pedasnya. Proses kehidupan berbeda pula, tidak perlu menyamakan kehidupan kita dengan yang lainnya.

Tidak semua memahami sebuah proses dan dianggap hanya permainan, biarlah dengan semua anggapannya, proses hidup seringkali membuat sakit dan terpuruk, bangkit dan bangkit kembali saling menguatkan.

Pada sang Pencipta tempat berkeluh kesah, tak perlu malu merengek dan menghiba pada-Nya, kekasih semua makhluk hidup. Kekasih abadi yang tak pernah mengabaikan, seringkali diabaikan. Kesenangan membuat lupa diri, datang dan mengadu bila masalah mendera.

 

 Kembali

Halaman
1

 © 2020-2023 - Rumahfiksi.com. All rights reserved

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan
www.domainesia.com