Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

DomaiNesia

Suara Membawa Berkah

Ruang Bercerita


Manusia itu diciptakan olah Sang Maha Pencipta dengan berbagai talenta dan keunikan masing-masing. Kemampuan satu sama lain tidak bisa disamakan.

Akan tersiksa jika kita dipaksa harus mengikuti talenta orang lain meski itu saudara kandung sendiri. Sebagai orang tua, kita harus memahami talenta anak-anak kita, kelebihan atau kekurangannya.  Sekali lagi jangan menyamaratakan satu dengan yang lain.

Salah satu tugas orang tua adalah menggali potensi yang ada pada anak kita, ada anak yang suka olahraga, seni, memasak, menjahit, menyanyi, menari, menggambar dan lain sebagainya. Bila kita sudah menggali potensi anak, perdalam dan fokus dengan talenta yang anak kita miliki.

Sangat disayangkan bila ada orang tua yang tidak mengetahui kemampuan anak sendiri dan dianggap bodoh karena berbeda dengan saudaranya yang lain. Bisa dibayangkan kalau kita dipaksa untuk menyukai bulu tangkis seperti saudaranya, padahal kita tidak menyukainya, karena kita tidak suka dan bermain asal-asalan kita kena bullying, akhirnya mental kita yang kena dan tidak percaya diri, merasa tidak berguna.

 

Semasa duduk di Sekolah Dasar, saya mengalami krisis percaya diri, dengan suara saya yang berat, berbeda dengan suara perempuan dan karena suara ini saya sering jadi bahan ledekan.

Karena mengalami bullying saya menjadi tertutup dan jarang bicara. Saya lebih nyaman menyendiri, semua yang saya rasakan dituangkan dalam bentuk tulisan di buku diary. Selain senang menulis pengalaman sehari-hari, terkadang saya menulis cerpen dan puisi. Semua tulisan di buku diary itu saya sembunyikan di tumpukan baju dalam lemari.

Saya masih merasa tidak punya  talenta apapun yang ada di diri saya, sampai suatu saat  ketika saya kelas 7 atau kelas 1 SMP, saya  dipanggil Bu Ani guru bahasa Indonesia.  Saya di tes membaca puisi dan diminta ikut lomba puisi tingkat Kecamatan.

Pertamakalinya saya tampil membaca puisi di hadapan umum juga di depan bapak dan ibu, karena saat itu bapak menjadi Camat di Cariu dan menjadi tamu kehormatan. Orang tua saya kaget melihat saya membaca puisi dan juara kedua.

Sewaktu sekolah, saya selalu menjadi petugas upacara semua sudah saya coba, dari pembawa teks Pancasila, pembaca UUD 1945, pembawa acara, pemimpin barisan bahkan menjadi pemimpin upacara, hanya satu yang selalu saya tolak yaitu menjadi pemimpin lagu atau dirijen.

Ketika kuliah, awal mula saya menjadi dirijen bahkan dirijen paduan suara di kampus saya,  ketika pemilu saya sering dapat job dirijen bersama teman-teman paduan suara dan tampil di hadapan ribuan orang, ada kepuasan tersendiri ketika saya menjadi dirijen atau membaca puisi tanpa beban. Berbeda kalau saya disuruh main voly atau olahraga beregu, pasti saya nervous dan tidak bisa, kalau bermain beregu saya selalu punya rasa khawatir mengecewakan satu tim.

 

Karena suara, saya banyak dikenal orang, baik teman ataupun para pejabat terutama di Kota Cirebon. Menjadi suatu kehormatan bagi saya ketika saya bisa membaca puisi bersama ibu Wakil Walikota, bapak Kajari, Ibu Kadisdik, Ceo Radar, petinggi BI dan banyak para pejabat lainnya yang tidak saya sebutkan satu persatu.

Alhamdulillah pengalaman yang luar biasa ketika saya menjadi petugas upacara HUT Korpri dan HUT PGRI tingkat Kota Cirebon dan 4 kali menjadi petugas upacara. Semua berkat suara saya yang dulu membuat saya minder dan jadi bahan olokan teman sebaya. Berkat suara juga saya sering dipercaya menjadi MC.

 

Terkadang kita harus menggali potensi yang ada pada diri kita, dan menjadi diri kita sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Untuk teman-teman di luar sana, percayalah Tuhan menciptakan manusia itu pasti ada kelebihan atau talenta masing-masing.

Semoga tulisan dan pengalaman saya ini bermanfaat bagi yang lain. Hari ini adalah bertambah sekaligus berkurangnya usia saya di dunia. Semoga tulisan ini abadi meski saya tidak ada di dunia lagi.

 

Untukmu saya masih ingin menggoreskan pena tentang sebuah perjalanan sampai ajal menjemput.

 

ADSN1919

 

 Kembali

Halaman
1

 © 2020-2023 - Rumahfiksi.com. All rights reserved

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

6 komentar untuk "Suara Membawa Berkah"

  1. Ulasan yang inspiratif berdasarkan kenangan masa kecil. Keren dan selamat hari jadi ya. Semoga panjang umur dan sukses selalu. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin allahumma aamiin terimakasih mas, iya yang dulu membuat tidak PD ternyata membawa hikmah 😁

      Hapus
  2. Inilah yang desebut, di balik kekurangan tersembunyi kelebihan yang tidak kita sadari.

    BalasHapus
  3. Luar biasaaa... jadi anak yang masa kecilnya suka di-bully akhirnya bisa membuktikan diri dengan elegan, keren banget sih pencapaiannya 👏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah pak Edit terimakasih sudah mampir 🙏

      Hapus
www.domainesia.com