TERBARU
05:00

Restu Bumi

AI Voice Reader Ready to Read
Puisi | RumahFiksi.com
Restu Bumi| Rumah Fiksi
Restu Bumi| Rumah Fiksi
| kamu baca

Restu Bumi| Rumah Fiksi

Umur tiada yang tau kapan akan berakhir, berharap selalu ada, berjejak tanpa batas tak bias.

 

Nahkoda kapal sebagai penentu kemana kapal ini dibawa, mengarungi samudera tanpa oleng, kedua tangan nahkoda kokoh menggenggam kemudi kapal.

 

Tetap teguh meski ombak besar kadang membuat kapal oleng, jangan lengah membiarkan kapal terbawa ombak, kapal ini harus terus melaju   sampai tujuan.

 

Udara tak selamanya bersahabat terhirup merasuki tubuh, jangan disimpan mengendap dalam hati, bagai menjaga purnama selalu ada dalam pangkuan.

 

Kisah tertulis bagai seribu satu dongeng, tertulis bertintakan tinta emas.

 

Sinar mentari terasa hangat membelai tubuh ini, bila ketenangan dirasa, jauhi asumsi yang akan mengubah kelembutan sinar mentari menjadi terik.

 

Umpama kehidupan bagai sebuah syair, yakinlah para seniman akan membuat syair  yang bisa membuat hanyut para penikmat. Tapi ini bukan tentang syair lagu siapapun bisa menikmatinya. Syair ini digoreskan dari tinta emas tak semua bisa memahaminya.

 

Alam terasa bersahabat ketika rasa damai, menjalani takdir yang telah digoreskan Sang Pencipta.

 

Melukis senja dengan kuas kehidupan terpatri dalam jiwa, tersimpan di ruang tak sembarang orang bisa memasukinya

 

Ini kisah kehidupan manusia harus dijalani dengan keikhlasan dan  kesabaran.

 

Kisah sudah tertulis ketika nyawa  belum menyatu dengan tubuh. Ketika Adam dan Hawa  belum dipertemukan oleh sang Pencipta.

 

Ucapan yang keluar dari mulut umpama doa, menahan diri agar tidak sembarang terucap sebuah pilihan yang harus dipilih.

 

Terkadang  ingin  berteriak dan berontak "Mengapa, Mengapa dan Mengapa?" tapi tak elok rasanya, menanyakan pada Sang Pencipta. Ujian setiap makhluk berbeda dan itu perlu disadari, sabar dan ikhlas akan ketetapannya. Yakin masanya akan tiba.

 

Endapan rasa melekat dalam tubuh tak mungkin terlepas, menyatu bak kulit  dan daging menyelimuti tubuh.

 

Rangkaian kata tak terbendung tercurah mengalir bagai air, kadang tenang terkadang deras, begitulah yang tertahan, hanya Tuhan yang Maha Mendengar dapat merasakannya.  Pemberontakan hati dan rasa.

 

Seumpama perjalanan ini bukan karena kekuatan Tuhan, tiada makhluk yang sanggup menjalaninya, bila tidak ikhlas akan terasa berat menjalani, butuh pengorbanan dan air mata serta pengorbanan lainnya bila disebutkan khawatir menggugurkan rasa ikhlas.

Angin berhembus pelan menghaluskan aliran di pipi menyadarkan, ujung perjalanan ini akan sampai tujuan, jalanan ini terasa semakin menanjak dan melelahkan keyakinan diri berhasil mencapai puncak titik akhir perjalanan panjang ini.

Yakinlah bila saatnya tiba, kuncup-kuncup bermekaran, tanah gersang menjadi subur, musim kemarau berganti musim hujan kedamaian akan terasa, dinikmati dan menikmati suasana alam yang bekerja memberikan yang terbaik.

 

Abjad demi abjad yang terangkai indah, bernyawa.

 

Nasehati diri sendiri lebih baik sebelum menasehati yang lain, mengukur diri dalam berkata menyadari tak semua orang menyukai keberadaan kita.

Genggamlah terus mencengkram bumi menggapai asa, lantunan doa akan didengar. Percayalah restu Bumi akan selalu menyertai Kita.

Oleh:

© 2024 RumahFiksi.com | Semua hak cipta dilindungi
2 komentar
  1. Warkasa1919
    Udah mulai aktif lagi nih😄 keren dan selalu penuh makna goresan penanya👍
    • Rumah Fiksi 1919
      Iya pas ada ide langsung ditulis biar ga hilang diterbangkan angin tulisannya 😁😂😂 makasih ya sudah mampir 😀
1919 COMMAND CENTER
LATENCY: ANALYZING...
NETWORK: 0
ARTICLES: 0
INITIALIZING MULTI-DOMAIN SYNC...
AI CONTEXT COPIED! ⚡
×
Ultima V7 AI-Boosted
SYNCING...
INITIALIZING SEO PROTOCOLS...

]]>