Bidadari Bersayap Hitam
Bidadari Bersayap Hitam
Pertemuan Gelap
Arelia tahu, cinta bukanlah sesuatu yang ramah pada makhluk sepertinya.
Ia hidup di kota yang tak pernah tidur, di apartemen sempit lantai tujuh belas. Di balik kulit punggungnya, dua sayap hitam pekat tersembunyi—bukan karena ia malu, melainkan karena dunia terlalu kejam untuk memahami keindahan yang lahir dari luka.
Hingga suatu malam, di lorong rumah sakit yang sunyi, ia bertemu Ravian. Pria itu datang sebagai pasien misterius. Tubuhnya penuh luka seolah habis bertarung dengan sesuatu yang tak kasat mata.
Rahasia Ravia
Saat Arelia membersihkan lukanya, Ravian menatapnya lama. “Kau menyembunyikan sesuatu,” katanya pelan.
Malam-malam berikutnya, mereka berbincang lirih tentang kesendirian. Hingga suatu malam, listrik padam. Dalam gelap, sayap hitam Arelia muncul tanpa bisa dicegah.
Namun Ravian tidak pergi. Ia membuka mantelnya, dan memperlihatkan sayap hitam miliknya sendiri—besar, kokoh, dan penuh bekas luka. “Aku mencarimu,” ucapnya, suaranya bergetar.
...
Kebebasan
Arelia ragu. “Aku ingin hidup,” bisiknya. Ravian mengusap wajahnya dengan lembut. “Dan aku ingin hidup bersamamu.”
Di atap rumah sakit, mereka mengepakkan sayap bersamaan. Angin menerpa tubuh mereka, membawa rasa takut dan cinta yang menyatu. Saat cahaya memecah malam, Arelia mencium Ravian—ciuman dua jiwa yang akhirnya pulang.
Pagi itu, seorang perawat tak pernah kembali ke ruang jaga malam. Namun setiap orang yang patah hati bersumpah, mereka merasakan kehangatan aneh—seolah dua sayap hitam menjaga mereka dari atas.







.jpg)