Mengapa Harus Aku
Mengapa Harus Aku
Wajah lelaki itu.
@adsn1919 Memuat video...
Aku sering bertanya pada rembulan malam, mengapa mimpi selalu memilih wajah yang sama..
Datang tanpa suara
Datang tanpa suara, pergi tanpa jejak.
Dalam tidur, ia hadir seperti rahasia yang hanya Tuhan dan hatiku yang tahu. Tatapannya tajam, suaranya tenang, seolah ia mengenalku jauh sebelum aku mengenal diriku sendiri, lebih mengenalku daripada diriku sendiri.
“Mengapa harus aku?” aku selalu bertanya pada diriku sendiri.
Ia sosok lelaki tinggi bermata tajam hanya diam dan tersenyum.
Terbangun
Aku terbangun dengan dada berdebar dan badan kuyup berkeringat. Seperti biasa, perasaan asing itu kembali hangat, seperti mengenal lama namun juga menakutkan.
“Karena rasamu kuat, meski engkau sering meragukannya.”
"Apakah Ia seorang dukun atau paranormal?" Aku selalu bertanya dalam hati. Aku hanyalah perempuan biasa, dengan luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh. Cinta, bagiku, adalah hal yang harus dicurigai, bukan dirayakan.
Namun mimpi itu datang lagi.
Dan lagi.
Hingga suatu pagi, dunia nyata mulai terasa berbeda.
Di sebuah perpustakaan kecil yang nyaris sepi tempat aku menyendiri, aku melihatnya. Lelaki tinggi bermata tajam. Bukan bayangan, bukan ilusi. Ia berdiri nyata, memegang buku yang sering kubaca, dengan tatapan yang membuat nafasku tercekat.
“Ini bukan mungkin,” bisikku.
Lelaki itu menoleh.
Dan tersenyum.
“Nyatanya, takdir memang suka datang tanpa izin.”
Sejak hari itu, hidupku berubah. Ia hadir dengan nama, dengan cerita, dengan masa lalu yang tak kalah rumit. Ia mengaku telah lama mencariku seorang wanita yang selalu datang dalam mimpinya, memanggilnya pulang pada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan logika.
Kami saling menyimpan takut.
Takut berharap.
Takut terluka.
Takut tersakiti.
Takut ditinggalkan.
Cinta kami bukan kisah yang langsung indah. Ada jarak, keraguan, dan dunia yang tak selalu berpihak. Orang-orang meragukan, keadaan menguji, kesetiaan diuji, bahkan aku sendiri sering ingin mundur.
Mengapa harus aku?
“Dari sekian banyak wanita, mengapa harus aku?” tanyaku suatu malam, kali ini di dunia nyata..
Ia menggenggam tanganku erat.
“Karena engkau tidak sempurna, tapi engkau memilih bertahan. Dan itu jauh lebih indah.”
Perjuangan mengajarkanku satu hal: cinta sejati tidak datang untuk menyelamatkan, melainkan menemani bertumbuh. Ia tidak menghapus luka, tetapi mengajarkan cara berdamai dengannya.
Dan Tuhan, dengan cara-Nya yang lembut, mengizinkan bahagia itu tinggal.
Tentang Rumah
Kini, setiap malam, aku tetap bermimpi.
Namun bukan lagi tentang kehilangan.
Melainkan tentang rumah.
Tentang dua hati yang akhirnya mengerti, bahwa dipilih bukan karena paling sempurna—melainkan karena paling siap mencintai dengan sepenuh jiwa.
Jika suatu hari aku kembali bertanya, mengapa harus aku, jawabannya sederhana:







.jpg)