Perempuan Berhati Syahdu

AI Voice Reader Ready to Read
Perempuan Berhati Syahdu
Perempuan Berhati Syahdu
| pembaca

Perempuan Berhati Syahdu

Di sebuah rumah berdinding kokoh dengan cat berwarna tenang. Terdengar gelak tawa penuh kebahagiaan, terlihat Lelaki paruh baya yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, tertawa ceria. Rambut putih menghiasi seluruh kepalanya. Perempuan itu berdiri menatap pedih lelaki paruh baya. Disisi lain Ia senang melihat lelaki paruh baya merasa bahagia berkumpul dengan empat tangan mungil yang dulu dirawatnya, sekarang sudah dewasa dan berusaha membahagiakan lelaki paruh baya itu. Namun disisi lain perempuan itu menahan  tangis, merasa dibohongi oleh lelaki yang dicintainya. Berkumpul dengan keluarga, dijadikan alasan lelaki itu pergi dengan temannya. 

Perempuan  itu dengan berurai airmata yang jebol tak bisa ditahan,  masih menatap lelaki paruh baya yang wajahnya penuh kerutan, tidak setangguh dulu. 

Dulu...dulu sekali tangan lelaki paruh baya itu memegang empat tangan mungil, membawa keluar dari rumah besar namun penuh kepalsuan. Empat tangan mungil itu dibawa ke rumah yang masih tahap pembangunan, jendela dan listrik belum terpasang, masih beralas tanah dan berdinding semen. 

Empat tangan mungil itu di awasi oleh sepasang manula yang disebut nenek dan kakek. Saat itu kasih sayang seorang ibu hilang sudah. 

Lelaki paruh baya itu dulunya sangat tampan, tangguh namun hidupnya penuh ujian. Cintanya diuji dan  dipermainkan. Ia memilih membawa dan merawat  empat tangan mungil itu semampunya.


Puluhan tahun telah berlalu, empat tangan mungil itu menjadi sosok yang tangguh. Tak ada salahnya perempuan yang menatap lelaki paruh baya itu ingin membahagiakannya?.


Memang tawa dan tangis itu hanya setipis kulit ari buah salak, mudah koyak. Perempuan itu berusaha mengenyahkan pikiran buruk, Ia percaya lelaki yang dicintainya baik-baik saja dan masih memegang  purnama dengan utuh.


Ditengah rasa kecewa mendalam, perempuan itu ingin pergi dari kehidupan lelaki yang dicintainya yang selalu berkata "kita menua bersama" ternyata hanya dimulut saja. Seumpama bola kaca yang katanya harus dijaga, karena lelaki yang dicintainya terpeleset akhirnya bola kaca itu pecah juga. Perempuan itu tidak mau larut dalam kesedihan, dengan yakin Ia bergumam "semua akan baik-baik saja".


Dengan mata sembab dan penuh rasa kecewa perempuan itu tertidur lelap. Dalam tidur Ia bermimpi, seorang anak kecil menyematkan cincin di jari manis perempuan itu dan berkata, "Tante, mau-kan jadi mami Tasya." Dengan reflek perempuan itu mengangguk, masih dalam mimpi anak kecil yang bernama Tasya memeluk dengan erat dengan erat. 

Perempuan itu terjaga dari tidurnya, "Ah, ternyata hanya mimpi," bisiknya, kemudian Ia menuju kamar mandi, berwudhu dan sholat malam. Setelah Sholat  Perempuan itu berdoa dengan doa yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia merenungkan mimpi itu dan masih tak percaya anak kecil menyematkan cincin dijari manisnya dan ketika perempuan itu melihat jarinya, cincin emas itu sudah terpasang indah di jari manisnya.


ADSN1919

Posting Komentar

Direkomendasikan untuk Anda

Rp 3.410.445
Jasa Pembuatan Website siap pakai di Pekanbaru
Rp 1.878.293
Jasa pembuatan blog siap pakai di Pekanbaru
Rp.25.000,
Berlangganan Konten Premium Rp.25.000,00 sekali baca atau Rp.120.000,00 per tahun
Rp.110.000,
Toko Buku Onlie
Lihat harga
Jika Anda berminat bisa menghubungi kami
Lihat harga
Jasa Pembuatan Peta dan Pemetaan yang 1919 Mapping
×

Tanya AI

Google
ChatGPT
Meta

]]>