Perempuan Berhati Syahdu
Perempuan Berhati Syahdu
Perempuan Berhati Syahdu
@adsn1919 Memuat video...
Di sebuah rumah berdinding kokoh dengan cat berwarna tenang. Terdengar gelak tawa penuh kebahagiaan, terlihat Lelaki paruh baya yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, tertawa ceria. Rambut putih menghiasi seluruh kepalanya. Perempuan itu berdiri menatap pedih lelaki paruh baya. Disisi lain Ia senang melihat lelaki paruh baya merasa bahagia berkumpul dengan empat tangan mungil yang dulu dirawatnya, sekarang sudah dewasa dan berusaha membahagiakan lelaki paruh baya itu. Namun disisi lain perempuan itu menahan tangis, merasa dibohongi oleh lelaki yang dicintainya. Berkumpul dengan keluarga, dijadikan alasan lelaki itu pergi dengan temannya.
Perempuan Berhati Syahdu
Perempuan itu dengan berurai airmata yang jebol tak bisa ditahan, masih menatap lelaki paruh baya yang wajahnya penuh kerutan, tidak setangguh dulu.
Dulu...dulu sekali tangan lelaki paruh baya itu memegang empat tangan mungil, membawa keluar dari rumah besar namun penuh kepalsuan. Empat tangan mungil itu dibawa ke rumah yang masih tahap pembangunan, jendela dan listrik belum terpasang, masih beralas tanah dan berdinding semen.
Perempuan Berhati Syahdu
Empat tangan mungil itu di awasi oleh sepasang manula yang disebut nenek dan kakek. Saat itu kasih sayang seorang ibu hilang sudah.
Lelaki paruh baya itu dulunya sangat tampan, tangguh namun hidupnya penuh ujian. Cintanya diuji dan dipermainkan. Ia memilih membawa dan merawat empat tangan mungil itu semampunya.
Perempuan Berhati Syahdu
Puluhan tahun telah berlalu, empat tangan mungil itu menjadi sosok yang tangguh. Tak ada salahnya perempuan yang menatap lelaki paruh baya itu ingin membahagiakannya?..
Memang tawa dan tangis itu hanya setipis kulit ari buah salak, mudah koyak. Perempuan itu berusaha mengenyahkan pikiran buruk, Ia percaya lelaki yang dicintainya baik-baik saja dan masih memegang purnama dengan utuh.
Perempuan Berhati Syahdu
Ditengah rasa kecewa mendalam, perempuan itu ingin pergi dari kehidupan lelaki yang dicintainya yang selalu berkata "kita menua bersama" ternyata hanya dimulut saja. Seumpama bola kaca yang katanya harus dijaga, karena lelaki yang dicintainya terpeleset akhirnya bola kaca itu pecah juga. Perempuan itu tidak mau larut dalam kesedihan, dengan yakin Ia bergumam "semua akan baik-baik saja".
Perempuan Berhati Syahdu
Dengan mata sembab dan penuh rasa kecewa perempuan itu tertidur lelap. Dalam tidur Ia bermimpi, seorang anak kecil menyematkan cincin di jari manis perempuan itu dan berkata, "Tante, mau-kan jadi mami Tasya." Dengan reflek perempuan itu mengangguk, masih dalam mimpi anak kecil yang bernama Tasya memeluk dengan erat dengan erat.
