Widget HTML #1

DomaiNesia

Wahai Guru, Kreatiflah (1)

Imajinasi Tanpa Batas

 Wahai Guru, Kreatiflah (1)

Saya hanya berbagi pengalaman sewaktu menjadi wali kelas di kelas satu, sekitar tahun 2013 dan masih menjadi guru. Ini pengalaman sebelum saya diangkat menjadi Kepala Sekolah. 

Semoga tidak basi pengalamannya ya disaat kita  sekarang sedang menghadapi Covid-19. Ini pengalaman jaman dahulu kala, ketika kita bebas menghirup udara. Hanya untuk mengenang ketika saya jadi guru saja. 

Setiap akhir tahun setelah pembagian raport, biasanya kami selalu mengadakan  rapat untuk pembagian tugas guru apakah untuk tahun ajaran baru tetap di kelas tersebut atau ganti kelas. 

Saat itu, guru kelas satu meminta pada Kepala Sekolah untuk pindah kelas, karena guru tersebut ingin suasana baru setelah puluhan tahun mengajar di kelas satu. Setelah berembuk akhirnya saya diminta untuk mengajar di kelas satu. 

Mau tidak mau saya menyanggupi, karena guru tersebut memohon-mohon untuk barter dengan saya yang menjadi walikelas tiga, teman saya itu berjanji hanya mencoba setahun. Karena saya masih junior akhirnya saya mengalah. 

Biasanya kelas satu itu paling rame dibanding kelas lain, karena orangtua banyak yang mengantar dan menunggu putra putrinya selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan ingin anaknya duduk di barisan paling depan. Seringkali guru kewalahan menghadapi orangtua murid dan mengalah. Itu yang saya lihat dari tahun ke tahun di sekolah tempat saya mengajar. 

Selama libur sekolah, saya sudah memikirkan cara agar orangtua tidak ikut campur ketika putra putrinya sedang di dalam kelas. Dan saya menemukan trik-triknya. Mungkin juga sudah diterapkan oleh guru yang lain.

Ketika libur sekolah telah usai dan mulai awal masuk sekolah. Ketika saya sampai gerbang sekolah, saya melihat orangtua murid berebut bangku paling depan, saya biarkan dulu sampai bel berbunyi. 

Ketika bel berbunyi, setelah berbaris dan memeriksa kuku, saya masuk kelas pintu saya tutup. Saya biarkan orangtua mengintip dari jendela. Setelah berdoa bersama, saya meminta peserta didik untuk membuat aturan bersama selama mereka berada di kelas satu.   

Saya melemparkan pertanyaan pada mereka, seperti "anak-anak berani tidak, di sekolah tidak ditunggu oleh mama, papanya?" Rata-rata mereka menjawab "Berani bu Guru". Aturan-aturan kelas saya bacakan sambil tanya jawab pada mereka. 

Setelah aturan kelas atau perjanjian kontrak dibacakan. Saya kemudian menjelaskan tentang aturan duduk mereka. Supaya mereka tidak pilih-pilih teman, saya menggunting kertas dan ditulis angka 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya masing-masing angka ditulis di dua kertas berbeda.  Kertas itu saya pilin seperti kertas arisan. 

Caranya, anak dipanggil satu-satu sesuai absen dan diminta ambil satu gulungan kertas. Anak  yang mengambil kertas nomer 1 akan duduk dengan anak mengambil kertas nomer 1 juga, begitu seterusnya. Alhamdulillah cara itu berhasil anak tidak protes dan orangtua tidak ada yang berani protes pula. 

Untuk duduk, setiap hari saya menggilir duduk mereka, seperti hari ini mereka duduk di depan, besok duduk d barisan kedua begitu seterusnya. Jadi semua bisa merasakan duduk paling depan dan paling belakang. Duduk dibarisan kanan, tengah dan kiri mereka merasakan semua. Selama saya menjadi walikelas tidak ada orangtua yang berani protes, meski orangtua itu terkenal paling rewel. Karena saya memakai trik-trik menghadapi mereka. 

Oke deh ini baru sedikit trik yang saya bagikan ke teman-teman. Tunggu ya trik selanjutnya. 

Sekarang guru dituntut harus lebih kreatif,  bagaimana caranya agar pembelajaran sampai pada peserta didik dan guru dituntut melek IT. Jika guru tidak bisa memanfaatkan teknologi akan merepotkan guru sendiri dan peserta didik.

Mungkin saat ini berbeda dengan dulu ya sebelum ada covid-19. Ketika nanti Pembelajaran Tatap Muka, setiap kelas di bagi dua atau tiga kelompok disesuaikan jumlah peserta didik. Aturanpun sangat ketat. Seperti pemakaian masker, sering cuci tangan, jaga jarak. Dilarang jajan di sekolah dan peserta didik diwajibkan membawa bekal makanan dan banyak lagi aturan lain. Serta tidak memaksa orangtua yang keberatan anaknya belajar secara ofline. 

Mau tidak mau suka tidak suka kegiatan belajar harus terus dilaksanakan baik tatap muka atau PJJ seperti saat ini. Intinya kita harus beradaptasi dengan keadaan saat ini. Jangan lupa jaga jarak dan jaga imun. Salam

ADSN1919

 

 Kembali

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan
www.domainesia.com