Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

DomaiNesia

Jangan Takut Periksa Kesehatan Selama Pandemi

Imajinasi Tanpa Batas

 Jangan Takut Periksa Kesehatan Selama Pandemi

"Jangan periksa ke Dokter selama Pandemi, nanti positif Corona"

"Takut ah di swab, nanti ketahuan positif tidaknya"

"Jangan ke Dokter dulu selagi badan panas, nanti di swab dan diisolasi"

"Sekarang ini kalau sakit lebih baik diam saja, daripada dibilang kena Corona, iyyy takut."

Masih banyak lagi yang saya dengar, dari pembicaraan orang-orang disekitar saya. Mereka masih berpikir, dokter akan mudah meng-Corona-kan  semua pasien yang datang. Saya pikir kenapa meski takut dengan Corona, lebih tau sejak dini itu lebih baik, daripada tau setelah parah. Tapi pikiran setiap orang tentunya berbeda. 

Semua pemikiran teman-teman saya terbantahkan. Ketika saya mengalami demam, batuk kering dan sakit kepala. Saya periksa kesehatan ke rumah sakit yang berada dekat rumah. 

Oleh petugas saya ditanya sangat detail begitupun ketika diperiksa  dokter, sampai akhirnya saya diminta cek darah ternyata saya positif demam berdarah dengan trombosit 112 ribu dan tidak di-Corona-kan, seperti anggapan yang lain. Kemudian saya dirujuk ke Rumah Sakit B yang lebih komplit alat-alatnya. 

Di Rumah Sakit B, saya dicek dari nol lagi. Di tempat IGD antrian sangat banyak, saya tidak bisa langsung masuk ke ruang IGD, tapi menunggu diluar ruangan. 

Bisa dibayangkan, badan terasa tidak karuan, menahan sakit kepala, lemas dan demam. Satu jam lebih saya menunggu diluar ruangan. Sampai akhirnya saya dipanggil untuk menunggu didalam ruangan.

Setelah dicek petugas, saya dipanggil ke ruang IGD, saya mendapat ruang no 4, IGD sangat penuh. Saya kira setelah di IGD langsung ditangani, ternyata masih harus bersabar, karena antrian sangat panjang. Disini kita diuji kesabaran dan keihklasan. 

Setelah menanti kurang lebih 5 jam di IGD, akhirnya saya diantar perawat masuk ruang perawatan. Disini ada kesalahpahaman antara perawat yang mengantar saya ke ruangan dengan petugas yang menyiapkan ruangan. Saya yang pesan kamar VIP dititipkan terlebih dahulu di ruang kelas 3 dengan alasan ruangan belum siap. 

Ketika memasuki ruang kelas 3, badan agak merinding karena sepi dan gelap. Dari 8 tempat tidur hanya 1 yang terisi. Tapi alhamdulillah 10 menit kemudian petugas datang kembali dan memindahkan saya ke ruang VIP.

Senyaman-nyamannya kamar di Rumah Sakit, lebih nyaman tidur di kamar sendiri. Malam itu saya tidak bisa tidur karena sakit kepala teramat sangat. 

Esok paginya, darah saya diambil lagi dan dicek trombositnya, ternyata turun drastis dari 112 ribu ke 76 ribu. Dosis obat ditambah lagi agar trombosit saya naik. Ada cairan obat  yang dimasukan ke dalam infusan, belum lagi tiga macam cairan obat yang disuntik langsung ke pembuluh darah, lewat jarum infus.

 Tangan kanan biru-biru karena diambil darah terus menerus ditempat yang sama. Jujur saja, saat trombosit turun gusi saya sudah mengeluarkan darah dan saya bilang ke suster, berdarah karena gosok gigi padahal tidak. Sepertinya suster tau saya berbohong, dan laporan ke dokter. Karena setelah itu, setiap hari saya disuntik untuk menghentikan pendarahan.

Hari kedua, trombosit naik 83 ribu. Dokter yang memeriksa saya tidak berani berdekatan dengan kami, para pasien, sebelumnya beliau meminta maaf dan menjelaskan, selama Pandemi mengecek pasien dari kejauhan. Tapi beliau tetap memantau perkembangan saya lewat suster. 

Hari ketiga, obat lewat infus ditambah lagi, untuk menjaga trombosit saya tidak turun. Dokter berpesan kalau trombosit saya naik boleh pulang. Alhamdulillah trombosit saya naik dan sore harinya saya boleh pulang. 

Maksud saya menulis disini untuk menepis anggapan, bahwa kalau diperiksa ke Rumah Sakit itu pasti Covid. Padahal tidak! Tenaga medis juga tidak akan sembarangan menyebut orang itu kena Covid atau tidak dan dicek berkali-kali sampai ada diagnosa apa penyakit pasien itu. Jadi tidak disamaratakan Covid semua.

Intinya, bila ada yang dirasa segera berobat dan jangan takut terkena Covid. Seperti saya ungkap diatas, lebih tau sejak awal itu lebih baik daripada sudah parah. 

Saat ini kita tetap beraktifitas seperti biasa tapi ingat, Corona masih ada di sekitar kita, untuk itu tetap patuhi protokol kesehatan, jaga jarak, sering cuci tangan dan selalu pakai masker. Mulailah  menjaga  kesehatan dari diri kita sendiri. Salam.


ADSN1919

 

 Kembali

Halaman
1

 © 2020-2023 - Rumahfiksi.com. All rights reserved

Apriani1919
Apriani1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam karena itu membuat aku tiada secara perlahan

13 komentar untuk "Jangan Takut Periksa Kesehatan Selama Pandemi"

  1. Terimakasih untuk artikelnya Mbak, bermanfaat dan semoga lekas sembuh ya..

    BalasHapus
  2. Bagus artikelnya. Semoga pandemi segera berakhir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, kita kembali hidup normal seperti dulu 😊😃

      Hapus
  3. Wah udh ada iklannya, selamat Bu Dinni 💐

    Apa udh lama, ya? 😅

    BalasHapus
  4. Bermanfaat informatif bagi sesama salam sehat selalu

    BalasHapus
  5. Rupanya, karakter orang Indonesia itu mirip ya, ananda. Di tempat kami juga seperti itu. "Zaman sekarang kalau sakit tak usah ke dokter. Ntar kita dibilang sakit corona " demikian isu yang berkembang di tengah masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bund ternyata hampir semua sepemikiran begitu

      Hapus
www.domainesia.com