Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rumah Kita

Rumah Kita
Foto oleh Curtis Adams dari Pexels


Rumah kita itu bercat ungu dengan list putih, berlantai merah marun, berkamar lima, ya lima kamar karena sebagian kamar untuk anak-anak kita. Meja makan kita taruh didekat dapur, bila kita memasak langsung disimpan di meja makan, kita bisa menikmati masakan yang masih hangat.  Kita juga bisa bercanda dan berdiskusi di meja makan itu. 

Kita bisa memasak dan mencuci dengan bergantian. Ketika semua beres saatnya bercengkrama dengan anak-anak kita. Hmmm rumah kita dipinggir kota, karena aku bosan tinggal diperkotaan, saatnya aku ingin menyepi. Aku tidak pernah berfikir muluk-muluk harus serba wah, ketenangan yang aku cari. Aku sudah bosan dengan bisingnya perkotaan. Aku ingin menghirup udara pedesaan. Segar.

Aku tau engkau akan menaman dan merawat bunga wijaya kusuma dan bunga anaphalis javanica. Dua bunga yang disatukan dalam satu jambangan. Dua bunga yang paling berharga disimpan dalam jambangan emas. Tersimpan didua kamar yang sama besarnya dengan cahaya yang menyinari keduanya.

Anak-anak kita sudah besar, tak terasa kita akan  kedatangan tamu yang akan meminang putri kita yang pertama. Kita pasti sibuk menyiapkan semuanya. Anak-anak kita saling menyayangi, si  bungsu yang cantik sayang dengan kakak-kakaknya. Seperti kita menyayangi satu sama lain. Saling menjaga dan melindungi. 

Rumah kita yang bercat ungu dan berlist putih, terlihat asri dengan banyak pepohonan karena kita merawat bersama. Kita sering duduk di teras depan, menikmati udara pagi dan sore hari sambil menikmati kopi susu dengan cemilan yang dibuat sendiri. 

Tetangga kita sering menyapa, ada banyak senyuman dan sapaan disini, meski pendatang tak merasa asing, kita bersaudara. Di rumah kita terasa tenang, nyaman karena dibangun dengan cinta dan kepercayaan. Kita tidak pernah mendengar ocehan atau sindiran, menerima kita dengan tangan terbuka. Jujur aku senang tinggal dilingkungan ini, tidak ada mata-mata penuh selidik, umpatan-umpatan pencari kesalahan. Ini tempat yang kita cari. 

Kita tidak pernah menyangka, Tuhan begitu sayang dengan kita, dengan dimudahkan segala urusan kita. Lika liku perjalanan telah kita lalui bersama, saatnya kita menikmati kebersamaan sambil menunggu antrian menuju keabadian. 

Tiga senyuman terukir di bibir manis kita, menutup perjalanan dengan melihat masa depan, jalan sudah terlihat lurus. Genggam erat jemari kuatkan diri dari goncangan langkah kita pasti. Terimakasih Tuhan Engkau mudahkan perjalanan hamba ini. Merasakan apa itu bahagia. 

ADSN1919

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

24 komentar untuk "Rumah Kita"

  1. Keren Mbak☺️πŸ‘ rumah masa depan☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya rumah masa depanπŸ˜πŸ˜€πŸ˜ƒ

      Hapus
  2. Balasan
    1. Bawa laper ya apa bawa lemperπŸ˜πŸ˜€ udah ada tulisan baru belum😁

      Hapus
  3. Orang kota rindu suasana desa. Kami di desa jiga ingin pergi ke kota. Selamat malam, ananda Dinni.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malam bund, hehehe akhirnya bisa Komen ya bundπŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
  4. Saling menjaga dan melindungi. Uwu buπŸ˜€

    BalasHapus
  5. Bagus sekali kaka. Terimakasih infonya kaka

    BalasHapus
  6. bahasanya apik
    seneng bacanya hehe

    terlebih bagian bunga nusa indah dalam satu jambangan...kebetulan aku suka bunga bunga

    BalasHapus
  7. Menarik dan juga bagus template webnya hehe

    BalasHapus
  8. Penamu memang sangat piawai menggores ornamen indah di setiap sudut ruang.
    Semangat.
    Sehat selalu.

    BalasHapus
  9. Wah, makin rame nih pajangan. Cair cair, Bu. Hehehehe
    Sehat selalu Bu

    BalasHapus