Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Engkau dan Sang Waktu (Bagian Satu)

 

Engkau dan Sang Waktu
Engkau dan Sang Waktu

Bumi terus berputar, menciptakan putaran roda - roda kehidupan, meninggalkan masa lalu, menuju ke masa kini dan berhenti di Masa depan. Pena Sang Waktu menggoreskan kata, membentuk satu catatan, tentang perubahan zaman, juga cerita tentang anak – anak manusia yang sesungguhnya tak luput dari perbuatan salah dan dosa.

 

 

Kita

Bagian Satu

******

Jauh sudah jalan yang telah engkau lalui. Jarak antara Timur dan Barat, Utara dan Selatan, seakan belum mampu untuk menggambarkan betapa jauhnya perjalanan yang telah  engkau lalui demi untuk menemukan cinta  sejati yang selama ini engkau cari.


“Kenapa Sang Waktu tidak pernah bersedia untuk menungguku barang sejenak?"

Dalam diam, sesekali engkau tatap  Sang Waktu yang terus berjalan membawamu masuk ke alam kesunyian.

Bersama Sang Waktu yang tidak pernah ingkar janji, engkau berharap akan menemukan cintamu yang abadi di tempat ini.

 

******

Engkau dan Sang Waktu terus berjalan, menyebrangi lautan, membelah langit - langit kehidupan. Sambil sesekali melihat “ke dalam”, engkau paham bahwa saat ini Sang Waktu tengah mengajarimu tentang arti kehidupan.

 

Dalam diam, engkau kembali melihat ke arah masa lalu, melihat dirimu yang tengah terombang – ambing dalam rasa sesalmu. Saat Rasa Resah selalu merasa terabaikan itu selalu datang menyapamu dari balik kegelapan yang hanya engkau dan Tuhanmu yang tau.

 

Di ujung waktu aku tau bahwa saat ini engkau kembali bimbang saat menatap ke arah masa depan, tempat di mana cinta menanti kehadiranmu di alam ke abadian.

Di ujung waktu, dengan penglihatan Sang Waktu aku kembali melihatmu, melihatmu yang sepertinya masih belum bisa mengabaikan kehadiran Rasa Resah dan Rasa Lelah yang selama ini aku tau masih saja berusaha mencumbuimu dari balik kegelapan. 

Di ujung waktu, dari balik cahaya, aku tau bahwa Sang Waktu tak bosan - bosannya untuk selalu berusaha mengingatkanmu, agar engkau tetap fokus pada tujuan hidupmu, kembali melanjutkan perjalanan dan jangan pernah sekalipun berpikir untuk berhenti menuju ke alam keabadian.

 

Di Pusaran waktu, dengan penglihatan Sang Waktu kulihat, lagi - lagi engkau hanya mampu merutuki nasibmu, saaat menatap tajam ke arah Sang Waktu yang di matmu hanya diam seribu bahasa, saat Rasa Resah dan Rasa Lelah itu hampir saja membunuhmu.

 

“Aku memang sendirian di tempat ini!” 

Rutukmu, saat melihat ke arah Sang Waktu hanya diam saja tatkala melihatmu yang dengan susah payah berhasil mengalahkan Rasa Resah dan Rasa Lelah yang saat itu hampir saja menggagalkan niatmu memasuki Pintu Gerbang Jalan sunyi.

 

******

Setelah berhasil memasuki jalan sunyi, air mata-mu kembali tumpah, membasahi kedua pipi-mu yang berwarna merah dadu.

 

Di depan Pintu Gerbang Jalan sunyi engkau sempat kembali melihat dirimu di masa lalu. Dan bayangan dirimu di masa lalu itu bagaikan Setan yang selalu merintangi perjalananmu bersama Sang Waktu.

Masih terlihat begitu jelas di mata-mu, saat di penghujung malam, di bawah kaki langit, engkau tengadahkan wajahmu di bawah ribuan bintang yang saat itu seolah - olah mengejekmu. Dan masih terdengar jelas di kedua telingamu, saat mereka semua meragukan kewarasan akal pikiranmu.

Masih terdengar jelas di kedua telingamu cacian dan hinaan orang - orang yang selama ini menjadi bagian dari masa lalumu yang saat mereka melihatmu hanyut, terseret arus bersama Sang Waktu, memasuki babak baru kehidupan yang dimata meereka semua bahwa itu bisa saja membunuhmu.

Masih terlihat jelas di kedua matamu, sesaat setelah hujan deras turun di sepertiga malam, saat itu suara tangisanmu pecah, membelah kesunyian malam.

Apakah engkau tau? Bahwa jeritanmu saat itu telah membuat para penghuni langit terdiam, hingga membuat Setan dan Malaikat yang saat itu tengah berbincang – bincang melihat ke arahmu.

 

“Apa yang telah terjadi dengan anak manusia itu?” 

 

Malaikat dan Setan saling pandang sesaat setelah melihat ke arahmu.

 

******

“Apa yang bisa kubantu? Setidaknya untuk menggantikan rintihan tangismu, menggantikan suara kesedihan yang begitu menyayat hati itu dengan satu senyuman kebahagiaan dari bibirmu?”

Setan yang menghampirimu berkata sambil menatap ke arahmu.


Engkau diam, sambil menatap ke arah lautan, sapaan Setan yang dahulu selalu engkau dambakan itu saat ini sudah tak lagi menarik bagimu.

“Aku ingin sendiri, pergilah jangan ganggu aku!”

Jawaban itu pada Setan yang awal berniat untuk menghiburmu dari semua rasa duka mu itu akhirnya membuat Setan pergi begitu saja dari hadapanmu.

Tak lama, setelah Setan pergi meninggalkanmu dengan rasa bimbang karena sikapmu yang takbiasa itu Malaikat-pun  berjalan menghampirimu, setelah mengucapkan salam, Ia pun mengabarkan, bahwa jeritanmu yang menyayat hati itu telah membuat para penghuni langit saling bertanya antara satu dengan lainnya.


“Apa yang bisa kubantu untuk menghapuskan rasa sedihmu?”

“Saat ini aku ingin sendirian di tempat ini, pergilah,”

 

Mendengarkan jawaban yang keluar dari dalam mulutmu yang tidak seperti biasanya, setelah mengucapkan salam, Malaikatpun berlalu begitu dari hadapanmu. meninggalkanmu di bawah langit yang tak berbintang.


Saat itu, engkau terus memanggil-manggil nama-Nya di antara anak - anak manusia-manusia lainnya yang masih tertidur pulas dalam tidur panjangnya.

 

Di antara semburat cahaya, Sang Fajar menatapmu yang masih terduduk antara dua sujud dengan rasa haru. Sang Fajar terus melihatmu yang tengah terdiam, dalam kepasrahan tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Tuhan. Engkau terus berharap akan sebuah pertemuan.

 

Dan di kaki langit, Sang Waktu menatap ke arahmu tanpa ekspresi. Di kaki langit Sang Waktu mengetahui, bahwa perlahan tapi pasti, saat ini engkau mampu melihat dunia ini dari sudut pandang yang berbeda. Bukan pandangan mata anak - anak manusia yang masih tertidur pulas dalam tidur panjangnya.

 

Di ujung waktu, dengan penglihatan mata Sang Waktu aku tau, bahwa saat ini, dalam diam engkau telah mampu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Rasa Sedih dan Rasa Bahagia di mata mu hanyalah selimut kehidupan yang tengah menyelimuti anak-anak manusia yang masih belum terjaga dari tidur panjangnya. 


Di ujung waktu, dengan penglihatan Sang Waktu aku tau, bahwa di mata mu, Anak – anak manusia yang masih tertidur panjang di dalam tidurnya hanyalah sekelompok anak – anak kecil yang tidak pernah dewasa, anak – anak kecil yang hanya ingin melihat warna-warni kehidupan di dunia ini dengan satu warna, satu warna yang sesuai dengan keinginan mereka.

 

“Ah, sudahlah!”

Engkau berkata sambil bergerak meninggalkan dunia, membiarkan anak – anak manusia yang masih tertidur pulas dengan selimut duka dan bahagia.

 

 

******

Di Pergantian Waktu, Sang Waktu membawamu, menyebrangi lautan ilmu, menyibak tirai – tirai misteri kehidupan Anak - anak manusia.

Bersama Sang Waktu engkau terus berjalan menuju ke masa lalu, membersihkan noda - noda masa lalu di masa kini dan  terus berjalan memasuki alam masa depan melalui jalan sunyi, jalanan yang tidak pernah bisa dilewati oleh anak – anak manusia yang telah lupa akan diri dan Tuhan-nya selama berada di dunia fana ini.

 

Di ujung waktu aku kembali melihat Rasa Lelah berusaha mengejar langkah - langkah kaki-mu bersama Sang Waktu, berusaha untuk menghentikan langkah kedua kaki mu.

Di ujung waktu aku kembali melihat Rasa Bimbang berusaha membujukmu dengan kembali menceritakan semua mimpi – mimpi Indah di masa lalu.

 

******

Apakah engkau tau? Bahwa aku adalah aku yang akan selalu berusaha untuk membangunkanmu dari tidur panjangmu? 

Lihat aku! Sesungguhnya aku tidak pernah jauh - jauh darimu. Lihatlah seraut wajah dingin, datar dan tanpa rasa  yang saat ini tengah berdiri tak jauh dari Rasa Bimbang dan Rasa Lelah yang selalu berusaha menggagalkan rencanamu memasuki jalanan sunyi itu.

Walau di mata-mu Sang Waktu terlihat begitu egois, untuk engkau jadikan sebagai satu – satunya teman seperjalananmu di dalam menemukan cinta sejatimu, tapi aku tau  bahwa sebenarnya Sang Waktu telah begitu banyak mengajarimu tentang arti kehidupan, mengajarimu mati sebelum alam kematian benar - benar memanggilmu untuk mencapai alam ke abadian.

 

Bukankah kata orang jarak antara alam kehidupan dan alam kematian itu hanyalah setipis kulit bawang? 

 

Bukankah Sang Waktu pernah berkata, “Waktu terus berjalan sebagaimana Bumi yang terus berputar untuk menyokong kehidupan, teruslah berjalan, karena sesungguhnya hidup itu adalah perjalanan,”

 

 


Kaki Langit, 1919


Bersambung

Catatan : Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani1919. Baca juga Bagian Dua yang di buat oleh Warkasa1919. Jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

24 komentar untuk "Engkau dan Sang Waktu (Bagian Satu)"

  1. Ya ampun... Jejak saya belum terbaca ya... Padahal sudah berkomentar sepanjang jalan tol rasanya....

    Terus terang ini kolaborasi yang rumit karena kisah yang diangkat berupa filosofi waktu. Belum lagi model personifikasi waktu menjadi sosok yang diajak berkomunikasi dan mengambil bagian penting itu sebuah kesulitan tersendiri.

    Semacam puisi yang meminta imajinasi pembaca untuk lebih memahami, membuat kisah seperti ini bisa jadi hanya diminati orang tertentu yang memang senang mengembangkan perasaan dan pola pikirnya ke dalam kisah yang disuguhkan.

    Mantap!


    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... dan mbak Desi salah satu orang yang imajinasinya mampu menjangkau tempat seperti yang ada di dalam cerita ini. Mantap..

      Hapus
    2. Hehe makasih mba Desi, novel ini menguras tenaga dan fikiran. 😁😀

      Hapus
  2. Aku adalah aku .... Tak salah rumah ini dilabeli rumahfiksi. Pokoknya keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bunda, itulah rumah fiksi 😁😀😀

      Hapus
  3. aku ya aku, keren, buhj din say

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hei bu Nia, makasih udah mampir ya say 😀😁

      Hapus
  4. sungguh rangkaian kata tang apik, puitis, dan memikat...love it 😍

    BalasHapus
  5. Bumi terus berputar, menciptakan putaran roda - roda kehidupan, meninggalkan masa lalu, menuju ke masa kini dan berhenti di Masa depan. Pena Sang Waktu menggoreskan kata, membentuk satu catatan, tentang perubahan zaman, juga cerita tentang anak – anak manusia yang sesungguhnya tak luput dari perbuatan salah dan dosa. Keren...

    BalasHapus
  6. Saya malah ngga begitu paham dengan isi post ini, ini tentang orang yang sedang dikejar waktu kah atau tentang orang yang sedang mengisi waktu atau malah keduanya?

    BalasHapus