Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Purnama

 

Foto Oleh Tom Fisk dari Pexels


Purnama tetap bersinar terang, terlihat masih sempurna bulatnya, meski ada kata yang sulit terucap, terbelenggu, kata demi kata beterbangan bagai burung dengan sayap kokoh, kata yang haram terucap, tersembunyi diruang terdalam.

Purnama akan selalu bersinar menerangi bumi, gelap menjadi terang, satu tempat tersembunyi sampai purnama tak bisa menerangi, tersembunyi di tempat terang. 

Perjalanan yang tidak semua orang memilih, menyerah ditengah jalan, terang terlihat gelap dan gelap terlihat terang, rasa manis bagai racun di lidah, kerikil meski kecil menyakitkan, terlena. 

Buliran jatuh dari sepasang kelopak, apa harus  menyesali semua pilihan Tuhan? Saat berjalan ditempat ini, sepi, hening. Tak ada celoteh lagi, tak ada senda gurau,  jalan ini  sebagai pilihan, meski terlihat  sendiri tak mengapa. 

Saat ini hingar bingar dan perhiasan dunia tak begitu menarik,  menyepi menjadi pilihan, sebuah pilihan tak semudah membalikkan telapak tangan,  tak mungkin berbalik arah kembali ke jalan yang terlihat gelap. Mengapa mereka memilih kegelapan? Racun terasa madu. 

Terduduk ditempat ini, dimana sepasang mata pernah melihat tangisan seorang perempuan, ketika malam terasa hening, angin seolah berhenti, malam ketika manusia terlelap, berselimut kegelapan. 

Purnama masih bulat dan akan selalu bulat sempurna, seperti awal sebuah pilihan, meski kaki berdarah dan terasa sakit tak akan menghentikan sebuah perjalanan. Menghapus air mata  seperti permintaan seorang perempuan yang menemui ditengah malam, saat purnama tepat di atas kepala. 

Perjalanan ini terasa menyakitkan, seperti lapar dan harusnya makluk Tuhan yang sedang dilarang makan dan minum oleh Tuhannya. Sabar itu bagai cahaya,  menjaga  cahaya agar tidak padam hanya karena ketidakberdayaan, meski berat cahaya itu akan  dijaga seperti  menjaga purnama dipangkuan. 

Meski burung-burung berparuh tajam beterbangan di langit, ingin mencabik purnama, bagi mereka cahaya purnama menyilaukan mata,  memadamkan cahaya  itu yang dicari. Tidak ada lagi air mata demi menjaga amanah yang telah dititipkan. 

Perjalanan ini akan sampai pada tujuan, pelangi terlihat indah dengan beraneka warna. Tersenyumlah maka dunia terasa indah. Aku datang pada -Mu wahai Tuhanku, ampuni aku yang masih sering berkeluh kesah dengan airmata yang mengotori bumi. Tetap berjalan di jalan sunyi sampai akhir tujuan. 





ADSN1919

Apriani1919
Apriani1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam karena itu membuat aku tiada secara perlahan

10 komentar untuk "Purnama"

  1. Terimakasih untuk puisinya yang keren mbak Din☺️👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mas Warkasa terima kasih sudah mampir di tempat ini 😊☺️

      Hapus
  2. ..., ketika malam terasa hening, angin seolah berhenti ... Ahay ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😂 uhuyyyy, makasih bunda sudah mampir 😁

      Hapus
  3. Romantis.

    Kebetulan semalam kok bulan purnama, eh pagi ini ketemu entrinya :)

    BalasHapus
  4. purnama identik dengan romantisme...

    thank you for sharing....

    BalasHapus