Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Balik Bantal

 

Foto Oleh Ayush Phillip dari Pexels




Ada pengharapan yang hadir pada kehidupan setiap makhluk,  sebuah asa yang menggantung di langit, seperti taburan bintang-bintang yang berkerlip, semua mata akan tertuju pada cahayanya, keindahan terpancar, asa yang akan dipetik satu persatu, aneh bagi orang lain tidak bagi perempuan itu.


Ada sebait doa dari bibir mungil merah merekah seperti segarnya bunga Mawar, ketika mentari malu-malu hadir untuk mengusir embun yang mencumbu kelopak Mawar. Sebait doa selalu ada dan akan tetap ada meski rentetan peluru menembus jantung, sampai bibir mungil itu terkatup rapat, perempuan itu akan mengetuk-ngetuk pintu langit dengan sebait doa. Sebait doa yang lirih perempuan itu panjatkan di setiap malam, tiada yang tau apa yang perempuan itu panjatkan, sebait doa yang hanya ia dan Tuhan yang tau.


Ada air mata dalam setiap perjalanan, berakhir dengan tangisan di balik bantal, perempuan itu tidak mau semua tau ada kepedihan yang ia sembunyikan, perjalanan hidup penuh liku dibungkus sebuah senyuman, perempuan itu berbagi kebahagian, ia tanam kuncup-kuncup rasa bahagia biarlah beranak pinak, satu yang perempuan itu tidak bagikan, kepedihan ia sembunyikan di lubuk hati terdalam, perempuan itu akan meluahkan ketika makhluk Tuhan bersembunyi dalam buaian. 


Ada senyuman yang akan diperlihatkan perempuan itu, ketika semua bertanya "apakah benar?" Ia tak peduli ketika keraguan diperlihatkan orang-orang sekitar, mereka tau kulitnya dan tidak akan tau yang tersembunyi dihati. Perempuan itu hanya bisa tersenyum samar ketika perbandingan diperlihatkan, biarlah terlihat berjalan lambat, tapi sampai tujuan. Sebuah perjalanan tidak akan sama yang perempuan itu sedang jalani dengan perjalanan orang lain, sebuah perbandingan ia telan bulat-bulat dan ia akan tetap terus berjalan.


Ada kebahagiaan yang kini perempuan itu rasakan, ketika sebuah perjalanan menuju titik akhir, tak akan ia lihat kembali perjalanan penuh liku yang pernah ia lalui, biarlah menjadi makanan burung Pemakan bangkai karena ada bangkai yang telah dilewati. Bukankah ulat bisa berubah menjadi kupu-kupu yang cantik? Dengan melalui proses yang menyakitkan, tidak semua makhluk menyukai sebuah proses, terasa melelahkan, berdarah-darah dan penuh air mata, proses ini yang perempuan itu harus lalui, Tuhan selalu ada.


Ada mimpi indah yang datang di alam mimpinya, menyatukan bingkai-bingkai yang berserak, mengisi puzzle yang selalu kosong, saat ini puzzle telah sempurna bentuknya, gambar sebuah mimpi yang terlihat indah dan begitu sempurna, dengan purnama bulat menerangi sebuah perjalanan, menutup pintu setan-setan yang berusaha masuk dalam mimpinya, cahaya itu kuat dan lebih kuat, bagai bara api pada makhluk yang meniup buhul-buhul sihir, tapi bagai air yang sejuk pada makhluk yang ikut berdoa untuk kebaikan.


Ada kemarahan ketika mulut-mulut tidak menjaga tajamnya lidah, tuduhan masih mengarah, perempuan itu tidak pernah meminta pada makhluk, hanya meminta pada Sang Pencipta, karena perempuan itu tidak mau kehilangan bila ia meminta pada makhluk, cukup Tuhan dan hanya Tuhan tempat ia meminta pertolongan.


Ada kekecewaan yang perempuan itu rasakan, ketika reribu keraguan mengarah padanya, ia juga ingin berjalan cepat, bagai membalik telapak tangan, ia bisa apa ketika antrian datang dan ia ada diantrian terakhir, apakah ia harus meminta duluan hanya untuk menghapus keraguan? Mulut ini terasa lelah menjawab pertanyaan yang sama, biarlah mereka sibuk mencari celah yang pasti perempuan itu akan terus berjalan sampai menuju titik.


Ada kerinduan yang perempuan itu simpan di lubuk hati, kerinduan memandang purnama yang sama, mendengar gemericik air yang airnya sedingin es ketika disentuh, suasana seperti masa kecil yang pernah ia lalui, bertelanjang kaki berlari dialiran sungai kecil, tertawa terbahak-bahak, beban hidup belum datang padanya. Ada kerinduan di setiap helaan napasnya.


Ada rasa cemburu yang perempuan itu lipat begitu rapi, ia simpan dilorong hati terdalam, meski lipatan itu kadang keluar tanpa bisa dicegah, ketika lorong hati merasa diobrak abrik, tapi perempuan itu akan segera merapihkan kembali lipatannya, ia lipat lebih rapi lagi jangan sampai lipatan itu keluar, akan ia cegah meski air mata akan turun dengan deras, biarlah.


Ada penantian ketika purnama bersembunyi dalam peraduan, langit terlihat gelap, bintang enggan menampakkan diri, perempuan itu akan selalu menengadahkan kepala, menanti purnama menyinari bumi dengan bulat sempurna. 


Dibalik bantal jutaan kisah terukir

Semua rasa berpadu menjadi satu 

Bersembunyi dibalik bantal

Bila rasa tak bisa diungkap dengan kata-kata


ADSN1919

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

16 komentar untuk "Di Balik Bantal"

  1. Selalu keren..☺️πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih MasWar sudah mampir dan berkenan membacanyaπŸ˜€πŸ˜πŸ˜Š

      Hapus
  2. Bantal pun menjadi inspirasi menulis. Luar biasa, Mbak Dinni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih om Budi, sekedar coret2 saja om 😁

      Hapus
  3. Sy jd inget, pk Quraish Shihab, prnh mngulas, bhw terkait dg bantal, ada interpretasi sahabat Nabi Saw, terkait pernyataan d Quran bhw wkt puasa itu mulai dari terbit fajar sampai terbenam mthari.
    Nah, sahabat Nabi yg lugu itu dia menaruh benang hitam dan putih d bwh bantalnya.
    Saat jelas keduanya terlihat, antara benang putih dan hitam, berarti mulai saatnya berpuasa.

    Pdhl memang teks d Qurannya "minal khoitil abyad(i) wal-aswad(i)
    yg maknanya adalah fajar.

    Sdkt tmbhn ilustrasi aja. Connect or discoonect dg apa yg ditulis.

    BalasHapus
  4. Tulisan lembut dan ulasan yang menarik

    BalasHapus
  5. tiap pilihan katanya seolah magis...begitu indahnya ditorehkan per kalimat kalimatnya...

    puitis dan sedikit dramatis, but i love it ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mba Mbul makasih sudah mampir duh seneng banget dimampiri mba Mbul πŸ˜πŸ˜€

      Hapus
  6. ketika mentari malu-malu hadir untuk mengusir embun yang mencumbu kelopak Mawar. Wow puitis banget

    Salam Tafenpah

    BalasHapus
  7. dunia, terkadang dimulai dari balik bantal....


    Mantul.... lanjutkan

    BalasHapus