Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jalan Sunyi

 

Foto Oleh Veendra dari Pexels


Hapus rasa cemas ketika ketakutan melanda, jangan takut ketika dunia terasa  menjauh, Tuhan tak akan tinggal diam selama ada usaha.

Kata-kata mutiara selalu menenangkan, bagai air menyirami, terasa sejuk memadamkan kobaran api, api yang timbul dari bisikan setan penuh tawa muslihat, memperdaya makhluk pencinta dunia.

Luahkan rasa di dada tanpa terucap, rasa ada di dada, saat  tak perlu untaian kata terdengar  karena hati berbicara, pantulan cermin terlihat, terdengar meski tak berkata. 

Sebuah rasa yang tertahan menahan lontaran kata, merobek rasa yang akan rapuh karena lontaran kata, telan, karena itu  sebuah gambaran yang tidak benar.

Terdiam, menahan campur aduk rasa silih berganti menghampiri, tersenyum karena keyakinan, janji hati tetap utuh tak tergores. 

Saling terucap meski tak terucap, merasakan kehujanan meski tak basah kuyup, merasakan amarah terpendam meski tak bersua itulah sebuah kekuatan terpendam.

Gemuruh rasa meski saling terdiam, rasa khawatir, rasa amarah dan kerinduan menyatu bagai segelas kopi susu yang diaduk dengan takaran yang pas.

Merasakan kegelisahan teramat dalam, jika kegelisahan melanda, hilangkanlah rasa amarah karena secara perlahan akan membakar keberadaan, kekuatan harus tetap terjaga.

Memeluk dan menenangkan meski tetap terdiam, meski berbeda, kebersamaan tetap erat, tutup mata dan tatap mata ini, di situ ada sebuah jawaban dan kepercayaan.

Jangan takut berbalik badan karena sebuah titipan, jangan terkecoh gemerlap dunia yang menyilaukan, hanya sesaat, tetap bersama melangkah di jalan sunyi meski terasa berliku.

Tetap pegang jemari berjalan bersama di jalan sunyi meski terkadang langit terasa gelap, percayalah ada cahaya di ujung jalan sunyi

Ingatlah semua hanya titipan, bersiaplah jika suatu saat titipan diambil pemiliknya, Tuhan akan mengganti titipan kecil yang telah diambil oleh-Nya dengan titipan yang lebih besar

Jangan bimbang dan merasa redup, janji masih terpegang erat. Percayalah cahaya itu masih ada dan selalu ada. 

Tangan ini masih menggenggam erat dan saling menggenggam tak akan terlepas sampai Sang Pemilik mengambil raga ini.

ADSN1919




Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

16 komentar untuk "Jalan Sunyi"

  1. Balasan
    1. Hehehe makasih mas 1919 πŸ˜€πŸ˜ŠπŸ˜‰

      Hapus
  2. Jangan takut berbalik badan karena sebuah titipan, jangan terkecoh gemerlap dunia yang menyilaukan, .... Sedap Bin mak nyus. Selamat malam, ananda Dinni.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat malam bunda terimakasih sudah mampir

      Hapus
  3. Jalan sunyi, sesungguhnya seperti menarasikan jalan yg tak lazim bg org kebnyakan.

    Jalan para kaum sufi, yg berbeda dg logika org kbykn. The men in the street.

    Mnghndar dari keramaian, pesta pora dan kemewahan dunia.
    Yg penuh dg kepalsuan.

    Hidup sederhana, tak mau sprti org kbykn
    Mengendalikan syahwat, dipenuhi puasa Sunnah dan slt mlm, dan amal kebajikan kpd sesama, sbg komitmen moral.

    Harmoni dg alam dan sesama, serta Tuhan sang pencipta mkhluk.

    Jalan sunyi, judul puisi ini dan isinya mngingatkn sy dan kita semua, krn mmberi pesan moral akan hidup asketis sprti
    yg scr gamblang diulas dlm sebuah buku yakni jalan sufi, buah pena Idries Shah, seorg yg mnmpuh suluk.

    Semoga merefleksikan penulisnya sndri yg berkecenderungan mnmpuh: jalan sunyi.
    Jg trgmbr dr puisi-puisi sebelumnya.


    Smg mnjd orientasi.
    Wallahu a'lam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih pak Nardi, komen2 pak Nardi kalau dikumpulkan bisa jadi artikel yang berbobot πŸ™‚

      Hapus
  4. Selalu Indah dan penuh makna

    BalasHapus
  5. Dalem banget makna puisinya, terus berkarya kak, karna setiap karya pasti ada yang menikmatinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap makasih sudah mampir ya πŸ€—πŸ€

      Hapus
  6. Puisinya keren. Mesti baca pelan-pelan biar saya bisa menghayati.

    BalasHapus