Widget HTML #1

DomaiNesia

Dunia Tanpa Suara

Imajinasi Tanpa Batas

Aku ada karena sebuah doa yang terucap dari hati, ketika Purnama tepat di atas kepala, makhluk hidup tertidur lelap. Sebuah doa yang keluar dari hati terdalam. Doa  penuh pengharapan pada Sang Pencipta. 

Penantian teramat panjang telah terjawab ketika Hujan membasahi Bumi  ditengah gelapnya malam, seberkas cahaya bersinar memancar ke arah Langit, mengundang sepasang mata untuk mendekat dan terpesona.

Rasa itu semakin dekat, ketika dibalik jendela sepasang mata itu mengintai seorang perempuan yang selalu memanjatkan untaian doa di penghujung malam, begitu lirih dan syahdu. Sepasang mata itu selalu menemani malam-malam panjangnya, tanpa perempuan itu menyadari kehadirannya, sampai Engkau memberi sentuhan halus pada kedua pipi itu, perempuan itu tersadar ada sepasang mata yang selalu menemaninya.

Ia selalu bertanya "Mengapa harus Aku?" Dan perempuan itu sering juga bertanya "Siapa Engkau dan siapa Dia? Aku ingin melihat sosoknya?" Tetapi Engkau hanya tersenyum dan berbisik "Dia adalah Aku dan Aku adalah Dia, lihatlah Aku, maka Engkau akan melihat Dia" kata itu selalu terucap bila Aku bertanya, sampai Aku bosan bertanya lagi dan seiring waktu Aku menemukan jawabannya.

Aku tidak pernah tau ketika awal sepasang mata selalu mengawasi gerak-gerikku. Aku hanya tau ketika seekor Kucing  jantan, setiap malam selalu mengintip dibalik jendela kaca dan Aku sering menyapanya. Kita berbincang di antara kaca jendela. Ketika sosokmu muncul dan kucing jantan itu seolah menghilang, Aku pernah bertanya padamu "Apakah Engkau meminjam tubuh Kucing itu untuk mengintaiku?" Dan Engkau selalu tersenyum ketika Aku bertanya seperti itu. 

Nama aslimu Engkau bisikan sangat pelan nyaris Aku tak mendengarnya, seolah tidak boleh ada seorangpun yang  mengetahui namamu, nama yang tidak begitu asing dan sebagian orang sering menyebutnya dan menantikan kedatangannya. Aku terkesima tatkala nama itu Engkau sebutkan, "Mengapa Aku menjadi pilihan?",  "Apa kelebihanku?" Ribuan tanya selalu berkecamuk dihatiku. 

Inilah rahasia kehidupan, tatkala hati kering kerontang, andai bunga saat itu Aku layu, terombang ambing antara ada dan tiada, sampai air mata jatuh ke Bumi dan Engkau tampung air mata itu. Kedua telapak tanganmu membasuhkannya pada wajah ini. Aku terisak di bahumu. Tuhan mengirim di saat yang tepat. Jawaban doa-doa makhluk hidup yang selalu berserah padaNya. Kepasrahan menghadirkan keajaiban, yang tak mungkin bagi makhluknya, tapi mungkin bagi Sang Pencipta yang tidak pernah perempuan itu sangka, campur tangan Tuhan terasa. 

Di Jalan Sunyi ini, langkah kita terdengar pelan, tapi pasti. Bergandengan tangan meniti anak-anak tangga. Setiap anak tangga penuh kisah tersendiri, ada kebersamaan, air mata dan tawa. Semua dilalui dengan penuh rasa ikhlas dan kepercayaan bahwa semua atas kehendakNya. Aku perempuan biasa yang tidak ada daya upaya dan tidak punya kekuatan apapun, bermimpipun tidak pernah untuk bertemu sosok sepertimu.

Ibarat kata, Aku puzzle yang tidak beraturan bentuknya, secara perlahan Engkau tata puzzle itu satu persatu sampai tidak ada yang kosong, semua puzzle terisi rapih. Hanya puzzle yang tepat yang dapat mengisi kekosongan itu, Engkau adalah potongan terakhir puzzle yang dikirim Tuhan. Puzzle itu berisi arti kehidupan yang selama ini perempuan itu tidak tau, tidak ada kata terlambat untuk mengetahui kehidupan yang sebenarnya. 

Nyanyian Jalan Sunyi selalu terdengar dalam setiap langkah. Langkah yang terkadang terhenti karena api cemburu tak beralasan. Sebenarnya api itu kecil dan membesar saat ranting-ranting kering jatuh di atas api itu. Api itu pernah membesar sampai mau membakar rumah hati yang kita bangun secara perlahan dengan susah payah, kekuasaan Tuhan datang disaat air mata hampir kering mengalir. Angin segar meniup api itu dan api  padam seketika. Genggaman tangan itu, terasa semakin kencang seolah tidak boleh lepas. 

Nasehat demi nasehat selalu terdengar dari bibirmu, begitupun kata bijak. Melihat sosokmu, orang tidak akan percaya kata-kata itu keluar dari mulutmu, Engkau pun menyadari itu dan tertawa melihat Aku yang terbengong-bengong mencerna setiap kata yang keluar dari mulutmu. Terasa aneh, sosok sepertimu bisa memberi nasehat dengan kalimat yang teramat dalam. Tidak semua orang mengetahui apa yang telah Engkau ucapkan, terkadang diluar nalar ketika Engkau menguliti tentang kehidupan yang sebenarnya kehidupan, secara perlahan Engkau buka satu persatu dan Aku terkesima 

Inilah kita, oleh orang umum dianggap aneh dan mustahil, tapi bila Tuhan berkehendak kita bisa apa, kita hanya melakoni kehidupan yang telah digariskan Tuhan. Sekali lagi ini bukan mengada-ada dan inilah sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan pada makhluknya, tidak semua mahkluk yang diberikan anugerah ini.


Saat semua mata terlihat tak percaya, diam salah satu kuncinya,  biar waktu yang menjawab semuanya. Tak perlu berkoar-koar meski terkadang jawaban itu terasa cepat, terkadang pula terasa lambat. Bukankah bagi pembenci  tidak butuh argumen? Di mata para pembenci emas pun terlihat seperti kotoran dan begitupun sebaliknya, jadi tak perlu ada pembelaan diri. Semakin membela diri semakin kebencian memuncak, ada saatnya mata itu akan terbuka lebar, bahwa semua tuduhan itu tidak mendasar. Kita percaya itu.

Indahnya warna warni pelangi pun dimata mereka terlihat hitam, meski kebenaran di depan mata, mereka tidak akan melihat itu. Saat-saat seperti itu hanya Tuhan tempat mengadu, semua di curahkan padaNya, meski ingin, tapi  tak mungkin Aku berteriak untuk menjelaskan semuanya, biarlah dosa-dosaku berguguran satu persatu seperti gugurnya daun kering yang jatuh dari rantingnya.

Tapi, sebagai manusia biasa, terkadang Aku  merasa lemah. Perjalanan di Jalan Sunyi ini terasa berat, bila berjalan sendirian niscaya Aku tidak akan kuat menahan semua. Genggaman tangan itu selalu kuat meyakinkanku agar tetap melangkah bersama, meski badai menghadang. Segala rintangan dihadapi bersama.

Inilah hidup sebenarnya hidup, selama ini oleh mereka, Aku selalu disuguhkan racun rasa madu, terasa manis tapi menyesatkan. Semua terasa indah namun mematikan, jeratan itu terlepas satu persatu, meski terdengar lolongan binatang liar bila jeratan itu terlepas. Kita tau, mereka ingin mengikat dan menarik Aku kembali, untuk mengikuti langkah-langkah mereka. Tidak! sekali tidak tetap tidak!, biarkan kaki ini melangkah di Jalan Sunyi.





Nada-nada  sumbang suara burung Gagak selalu terdengar berkoak-koak, mengganggu konsentrasi yang mendengar, Aku tau mereka  berusaha menghentikan perjalanan ini, berkat kekuasaan Tuhan, tipu daya mereka perlahan hilang tertiup angin. Silih berganti mereka datang dan pergi, tak ada lelahnya berkomat- Kamit tak karuan, asap kemenyan menutupi ruang tertutup. Perjalanan ini tidak akan terhenti sampai nyawa lepas dari raga ini.

Untuk sebuah pilihan pasti ada pengorbanan. Seperti bila kita memilih jalan berkerikil, kaki ini terkadang berdarah-darah terluka karena  berbenturan dengan batu kerikil yang kita lewati, itu pengorbanan kecil karena perjalanan ini menuju Cahaya Keabadian.  Tidak semua makhluk Tuhan yang sanggup melewatinya, karena gemerlap Dunia lebih menggoda, jalan yang terlihat lurus, tapi berkelok.

Rasa ini selalu hadir, meski jauh di pelupuk mata. Sama-sama merasakan apa yang dirasakan, terdiam, tapi terucap. Berbicara di Dunia tanpa suara, terlihat hening, tapi tidak dan kita merasakan itu. Dunia yang begitu indah dan tidak semua makhluk bisa merasakan keindahan Dunia itu, tapi, kita bisa merasakannya.  

Beban itu sedikit demi sedikit berkurang, saatnya kita menghela napas panjang, bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan pada kita. Sekali-kali menengok ke belakang, sebagai bahan pembelajaran untuk bekal perjalanan ke masa yang akan datang. Perjalanan ini memang teramat panjang, tapi titik akhir perjalanan ini terlihat, genggam erat tangan ini jangan pernah dilepaskan.

Aku dan Engkau merasakan cahaya itu masih bersinar, meski mereka ingin membuat padam, agar langkah kaki ini terhenti Aku tau itu. Kita hanya bisa diam dan percaya kekuatan doa. Prasangka selalu ada, karena mereka tidak tau kita, yang mereka lihat hanya kulit luarnya saja. Sekali lagi biarlah waktu yang akan menjawabnya. 

Inilah kita dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sepasang mata itu sebagai alarm setiap langkah kaki ini, adakalanya harus berhenti dan adakalanya harus terus berjalan, rintangan selalu ada bagaimana cara kita bersikap dan memandang suatu masalah. Tuhan menciptakan makhluknya  berbeda satu sama lain, begitupun dengan pola pikirnya dan tidak semua harus  mempunyai pandangan yang sama dengan kita. 

Namanya kehidupan selalu ada suka dan duka, agar kita lebih dewasa menyikapi semuanya. Sepasang mata itu selalu sabar menyikapi permasalahan berbeda dengan Aku yang ingin selalu terburu-buru dan tidak sabaran. Engkau selalu mengajarkanku sifat sabar, Aku pernah disuruh melihat buah Apel dalam kulkas dan merasakan rasa Apel itu tanpa memakannya, secara perlahan Aku bisa merasakan dingin dan segarnya Apel itu tanpa pernah menyentuhnya.  

Ini adalah pilihan hidup kita, yang dipandang sebelah mata oleh sebagian mahkluk yang merasa paling benar. Padahal kebenaran itu hanya  Tuhan yang tau. Kita diam meski hati ingin berontak. Aku selalu teringat ucapan yang keluar dari bibirmu "Biarlah Sang Waktu yang akan menjawab semuanya." 

ADSN1919

 

 Kembali

Halaman
1

 © 2020-2023 - Rumahfiksi.com. All rights reserved

Apriani1919
Apriani1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam karena itu membuat aku tiada secara perlahan
www.domainesia.com