Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perempuan Fiksi

 

Foto oleh rikka ameboshi dari Pexels


Perempuan Fiksi kembali menuliskan kata demi kata untuk sebuah cerita. Cerita yang kelak akan membuka tabir rahasia yang selama ini menyelimuti dunia.

Di sebuah lautan kata, diantara tiupan angin yang seolah-olah sedang berusaha mempermainkan gaun hitam yang selalu menjadi penutup auratnya, Perempuan Fiksi terdiam, diantara hembusan angin yang  bertiup kencang Ia  bergeming dengan Setan-setan yang datang seolah ingin menawarkan bantuan.

Bujuk rayu Setan tak Ia hiraukan, dipergantian masa Perempuan Fiksi semakin paham, kenapa para setan selalu ketakutan setiap kali melihat tarian penanya.

Tekad Perempuan Fiksi tetap tak tergoyahkan, keteguhan hatinya membuatnya terus menggoreskan kata demi kata yang penuh makna.

Kata demi kata terus Ia tuliskan, untaian kata yang kelak akan menjadi isyarat bagi Anak-anak manusia agar mereka tau siapa jatidirinya.

Kata demi kata yang kelak akan menjadi saksi akan sebuah peradaban anak-anak manusia di dunia.

Perempuan Fiksi mulai menggoreskan tinta emasnya. Menuliskan  cerita anak manusia yang terkadang menangis karena duka dan juga bahagia tanpa tau apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan dirinya.

Kata demi kata yang digoreskan oleh Perempuan Fiksi bukanlah untaian kata-kata biasa, sebab kata demi kata yang Ia goreskan dengan tinta emasnya itu sesungguhnya adalah aksara yang bernyawa, hingga siapapun yang membacanya akan hanyut, terbawa arus gelombang rasa. 

Sekian lama Perempuan Fiksi berusaha memahami akan kemampuannya yang tak terduga, berusaha memahami bait-bait  aksara nya yang bernyawa, Tuhan telah memberinya sebuah anugrah sekaligus tanggung jawab besar yang harus mampu Ia jaga.

Demi sebuah hati yang ingin Ia jaga agar tidak terluka, Perempuan Fiksi pernah menumpulkan ujung pena nya, tapi siapa sangka ternyata hal itu malah membuat setan yang dahulu pernah Ia penjara di dalam untaian kata malah terbebas dari penjaranya.

Diantara hembusan angin yang bertiup kencang, mata Perempuan Fiksi terlihat nanar, memandang hamparan pasir di Gurun Sahara.

Dalam diam Ia coba tahan tetesan air mata yang hendak jatuh membasahi kedua pipinya. Ada duka dan kesedihan yang begitu mendalam disana.

Dalam hembusan nafas yang terasa tidak begitu mudah, Perempuan Fiksi coba melihat Dunia dari sudut pandang yang berbeda. Warna-warni Dunia yang selama ini tertutup awan hitam, perlahan Ia sibak dengan sepenuh rasa, dan dengan penuh kehati-hatian Ia coba tuliskan agar kelak dapat di baca oleh anak-anak manusia yang masih terlelap di dalam tidur panjangnya.

Di bawah langit yang menghitam, Perempuan Fiksi mulai menggoreskan kata demi kata yang  sesungguhnya adalah amanat yang harus Ia sampaikan kepada   anak-anak manusia.

"Untukmu yang merasa sendirian dan terkadang melihat dunia ini begitu kejam, hapus air matamu dan dengarkanlah suaraku yang tengah berbicara denganmu melalui sebuah aksara yang bernyawa.

Untukmu Anak-anak manusia yang baru terjaga dari tidur panjangnya, buka mata mu dan bangunlah,  dengarkanlah suaraku melalui untaian demi untaian kata.

Untukmu yang baru saja terjaga dari tidur panjangmu, apa yang engkau tau tentang siapa anak manusia yang sesungguhnya.

Untukmu yang tengah menangis dan tertawa, apa yang engkau tau tentang duka dan juga bahagia?

Dan untukmu yang baru saja membaca goresan penaku, apa yang engkau ketahui tentang setan yang terkadang menyerupai wujud manusia?

Apakah menurutmu goresan pena ini hanya kebetulan semata? Tidak! Tidak pernah ada yang terjadi secara kebetulan di dunia. Sebab sesungguhnya segala sesuatu yang ada di dunia ini sudah tertulis di alam rasa.

Untukmu yang baru saja bisa melihat dunia ini dari sudut pandang yang berbeda, apa yang engkau ketahui tentang alam rasa? Suatu alam yang sengaja di ciptakan Tuhan agar anak-anak manusia yang sudah terjaga dari tidur panjangnya itu mampu melihat dan berbicara dengan Tuhannya.

Untukmu yang baru saja sadar bahwa sesungguhnya dunia ini hanyalah panggung sandiwara, apakah engkau tau? Bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan Dunia ini sebagai tempat bagi setan dan manusia menyadari akan kekuasaan Tuhannya yang tidak terkira.

Untukmu yang masih belum percaya kepada kitab-kitab suci yang pernah di turunkan Tuhan melalui para utusan nya di dunia, apakah engkau tau? Bahwa sesungguhnya apa-apa yang pernah tertulis di dalam kitab-kitab itu adalah benar adanya.

Percayalah, bahwa sesungguhnya setan dan manusia itu akan terus berperang hingga akhir zaman tiba.

Untukmu yang baru saja mampu membaca aksara-aksara yang mampu berbicara di dalam relung hati mu yang terdalam ini, apakah engkau tau bagaimana wujud musuh anak manusia itu yang sebenarnya?

Dan untukmu yang pernah melihat tarian pena ku bersama Sang Waktu sebelumnya, apakah engkau tau? Bahwa sesungguhnya aku dan Sang Waktu itu nyata.

Dengarkanlah suaraku melalui untaian demi untaian kata yang sengaja aku tuliskan hanya untukmu. di sini, di Lautan kata 1919.


ADSN1919

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

12 komentar untuk "Perempuan Fiksi"

  1. Keren, dalam dan penuh maknaπŸ˜ŠπŸ‘

    BalasHapus
  2. "Percayalah, bahwa sesungguhnya setan dan manusia itu akan terus berperang hingga akhir zaman tiba.". >>> Nenek suka yang ini, cucunda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih nek, sudah berkenan mampir πŸ€—

      Hapus
  3. Dan, adakah perempuan Fiksi itu? Atau, nyatakah?

    BalasHapus
  4. Mau kenalan dong dengan perempuan fiksinya. He he he

    BalasHapus
  5. dan Perempuan Fiksi itu adalah ...
    Keren, mantap, inspiratif

    BalasHapus
    Balasan
    1. ☺️πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜πŸ€«

      Hapus