Widget HTML #1

DomaiNesia

Aku Dalam Matamu (1)

Imajinasi Tanpa Batas

 Aku Dalam Matamu (1)

Di depan sebuah Cermin aku berdiri mematung, menatap sekujur tubuhku, mulai dari kaki hingga ke ujung kepala, setiap jengkal tubuhku kuperhatikan dengan seksama, sambil berpikir, “Apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan diriku?”

Masih sedikit linglung, kucoba untuk memutar balik semua memori ingatanku, tepatnya ke masa lalu, masa sebelum aku berdiri mematung di depan cermin besar ini.

Kuperhatikan seisi kamar tidurku dari dalam cermin di depanku, sprei kusut dengan dua bantal guling serta beberapa lembar kertas di atas tempat tidurku.

Meja Rias yang terletak di sudut kamar tidurku dan juga peralatan make up  masih tersusun rapi di atasnya.

Meja riasku sendiri terletak persis di sebelah kanan tempat tidurku dan Meja kecil dengan lampu tidur di atasnya berada tepat di sebelah kiri tempat tidurku.

Kuperhatikan juga gantungan handuk di sebelah luar pintu kamar mandi yang menghadap sisi sebelah kiri lemari pakaianku.

“Semuanya terlihat baik-baik saja,” kataku pada sosok yang tidak asing lagi buatku.

Aku berdiri mematung di depan cermin besar di hadapanku, sambil kembali melihat setiap jengkal tubuh wanita yang memiliki tubuh tinggi semampai itu mulai dari kaki, pinggang, dada, leher, kepala, wajah dan kembali menatap kedua bola mata itu.

Kutatap kedua bola mata yang juga tengah menatap kedua mataku itu dan tiba-tiba saja aku merasa seperti tengah berada di sungai, tepatnya di atas Sampan.

Aku takjub dengan suasana di sekitarku, permukaan air yang terbelah oleh Sampan, rimbun pepohonan di sepanjang kiri dan kanan sungai hingga kicau burung yang terdengar bersahutan.

"Aku ada dimana?"

Sekejap mataku berkedip dan tiba-tiba saja aku telah berada di dalam kamar tidurku, berdiri mematung di depan cermin besar di hadapanku.

Kedua jemari tanganku mengusap wajah dan juga pergelangan tangan yang terasa dingin dan segar.

Wajah dan tanganku terlihat kering dan tidak basah, tapi aku merasakan hawa dingin seperti baru saja membasuhkan air sungai ke muka dan pergelangan tanganku.


Sesaat aku terdiam, masih mematung di depan cermin besar di hadapanku, aku ingat, tadi ketika sedang berada di atas Sampan yang melaju di atas Sungai yang airnya terlihat begitu jernih, aku memang sempat memasukkan tanganku ke air sungai, sambil sesekali mempermainkan air sungai, aku juga mengambil air dengan kedua telapak tanganku dan membasuhkannya ke mukaku.

 

**

Aku tersentak, lalu bangun dari atas tempat tidurku dengan perasaan sedikit heran.

Aku beranjak dari atas tempat tidurku dan melangkah ke depan cermin besar di hadapanku.

Kutatap wajah yang terlihat begitu segar di hadapanku, wajah itu terlihat begitu segar, tidak seperti wajah orang yang baru bangun tidur.

Kuperhatikan seraut wajah yang tengah tersenyum menatap ke arahku. seraut wajah yang seperti baru saja terbilas air wudhu.

Kuperhatikan seisi kamar tidurku, seprai berwarna merah marun dan juga bantal guling serta selimut tidurku masih sedikit acak-acakan, tidak ada sajadah yang terbentang menghadap arah kiblat di tempat biasa aku menunaikan sholat lima waktu, artinya aku memang benar-benar baru saja terjaga dari tidurku.

Aku memang sudah terbiasa untuk selalu  merapikan sprei dan juga bantal-bantal di atas tempat tidurku sebelum melakukan aktifitas lainnya. Biasanya setelah merapikan tempat tidurku, baru aku beranjak ke arah Meja, tempat dimana aku selalu menaruh tempat minum dan gelas, setelah meminum segelas air putih itu baru aku beranjak ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh baru melakukan rutinitas pagiku, seperti memasak nasi untuk sarapanku dan lainnya.


***

Pagi hari, seperti biasa aku bersiap-siap untuk pergi ke Sekolah, tempatku mengajar. 

Tak lama kendaraan roda dua milik pengemudi yang aku pesan melalui aplikasi datang, aku naik ke atas kendaraan.

Jalan raya yang kami lalui pagi ini terlihat begitu padat dan ketika kendaraan roda dua yang kunaiki itu menghindari lubang, entah kenapa aku begitu kaget hingga tidak sempat berpegangan, aku terjatuh.

Sesaat aku seperti tengah berada di atas Sampan dan tiba-tiba saja tubuhku terasa oleng akibat badan sampan menabrak sesuatu, tanpa ampun tubuhku meluncur ke arah sungai aku terjebur ke dalam air sungai yang dinginnya terasa seperti menusuk tulang, aku gelagapan, aku memang sudah biasa berenang, tapi bukan di sungai yang arusnya begitu deras seperti saat ini.

Dalam kepayahan itu tiba-tiba ada satu tangan yang menangkap pergelangan tanganku, lalu menarik tubuhku ke atas Sampan.

 

Dalam gigil akibat kedingian itu mataku berkedip dan kulihat beberapa orang tengah mengelilingiku, aku terduduk di trotoar jalan.

 

Beberapa pasang mata  kulihat tengah menatap ke arahku dengan perasaan cemas, seorang wanita paruh baya menyodorkan segelas teh hangat ke arahku.

Masih bingung dengan apa yang tengah terjadi dengan keadaan di sekelilingku, ibu tua itu berkata,

"Ayo di minum teh nya Neng, biar sedikit tenang,"


Kuterima uluran segelas teh hangat dari wanita paruh baya yang sepertinya adalah pemilik warung kopi di pinggir trotoar jalan ini.

"Untunglah tidak apa-apa,"

Kudengar suara beberapa orang berkata sambil melihat ke arahku.

Tubuhku terasa hangat, masih menggenggam segelas teh dengan kedua tanganku, perlahan aku mencoba memutar memori otakku ke masa lalu.

Aku ingat, tadi aku sempat tercebur ke dalam sungai yang airnya terasa begitu dingin sekali, mengingat itu aku segera mengalihkan pandangan mataku ke arah tubuhku sendiri, semuanya terlihat kering, tidak ada basah sedikitpun, tapi kenapa aku merasakan hawa dingin di sekujur tubuhku?

Aku bahkan sempat menggigil kedinginan tadi, sebelum lelaki itu Manarik tanganku, mengeluarkan tubuhku dari dalam sungai yang airnya terlihat begitu jernih itu.

Lelaki itu?

Tiba-tiba saja aku teringat tangan yang menarik pergelangan tanganku itu, di pergelangan tangan itu aku melihat sebuah gelang yang begitu mirip dengan yang terpasang di pergelangan tangan kananku ini 

Ya aku ingat sekarang, gelang yang di kenakan lelaki itu begitu sama persis dengan yang ada di pergelangan tanganku ini.


Masih sedikit gemetar, seperti orang yang baru saja berenang dan terlalu lama berendam di dalam air, aku mengeluarkan telepon genggam, lalu menelepon atasanku, hari ini aku minta izin tidak masuk ke sekolah akibat kecelakaan di jalan raya, walau aku merasa tidak kurang suatu apapun, tapi menurut beberapa orang yang tadi menolongku dan membawaku ke pinggir jalan, kata mereka kecelakaan tadi itu lumayan cukup parah, makanya mereka heran, melihat keadaanku dan pengemudi online itu tidak ada yang terluka sedikitpun.

Masih shock dengan keanehan yang aku alami selama beberapa hari ini, dari pinggir trotoar jalanan kedua mataku ini terus mencari sesosok lelaki yang tadi sempat menolongku saat aku terjatuh masuk ke dalam Sungai.

Tidak kutemukan sosok lelaki itu berada diantara orang-orang yang berkerumun untuk melihat keadaan, hanya saja, diantara suara kendaraan yang melaju di atas jalan raya, hidungku seperti mencium aroma parfum yang sudah tidak begitu asing lagi buatku, aroma parfum yang aku tau sering di pakai oleh lelakiku 

 


Bersambung

Catatan : Di buat oleh, Warkasa1919 dan Rumahfiksi1919.  Baca juga Aku Dalam Matamu  bagian dua yang tayang di Warkasa1919.com  Jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan

 

 Kembali

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan
www.domainesia.com