Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Penjahit Ulung

 

Penjahit Ulung _Foto oleh Victoria Borodinova dari Pexels

Penjahit Ulung _Foto oleh Victoria Borodinova dari Pexels


Penjahit Ulung 


Aku seorang gadis berusia tujuh belas tahun, di usia terbilang muda aku seorang penjahit ulung, semua jahitan yang aku jahit sangat rapi, melebihi para penjahit profesional. Aku suka menjahit dengan benang warna merah darah, terlihat menyegarkan. 


***

Dari  kecil ibu sudah mengenalkan aku dan kakakku dengan peralatan jahit menjahit, ibu selalu membandingkan jahitanku dengan jahitan kakak. Ibu selalu memujiku karena jahitanku lebih rapi, aku sangat senang melihat wajah kakakku yang lebih cantik dariku merasa kesal dan tidak terima, wajahnya merengut sangat jelek di mataku.

Semua orang memuji hasil jahitanku dan kakakku semakin tertinggal, aku sangat bangga dan puas, karena ingin menjadi yang terbaik tiada hari tanpa menjahit, apapun yang ada di rumah aku jahit semua, boneka, taplak meja, gordeng, baju yang sobek dan tidak sobek aku jahit ulang karena aku ingin menjadi yang terbaik.

Orangtuaku tambah memuji hasil jahitanku, apalagi tetangga banyak yang minta aku menjahitkan pakaiannya, sudah dipastikan mereka akan memuji karyaku. Kakakku semakin tersingkir dan aku bangga, wajah cantiknya tak berguna. Orangtuaku sangat memperhatikan aku, tiada hari tanpa memujiku.

Sampai suatu hari, aku melihat ibu terbaring lemah, kakakku yang menyebalkan sedang memijitnya. Aku tak peduli ibu sedang sakit, aku pamerkan hasil jahitan baju baruku, ibu hanya tersenyum melihatnya tanpa memujiku, aku kesal teramat kesal.

Hampir tiap hari ibu mengusap perutnya yang terlihat membuncit, ibu sering tersenyum sendiri dan berbicara dengan makhluk yang ada di perutnya, ya, aku menyebutnya makhluk daripada janin atau bayi. Makhluk itu membuat orangtuaku jarang memujiku seperti dulu. Huh sangat menyebalkan.

Tengah malam, aku mendengar tangisan suara bayi dan melihat tenaga medis keluar dari kamar ibu, ternyata ibu sudah melahirkan di rumah. Aku masuk ke kamar ibu dan melihat ibu sedang menyusui makhluk kecil, kata ibu, seorang  bayi laki-laki. Aku melihat ibu sangat bahagia mendapat anak laki-laki, kakakku yang menyebalkan terlihat sibuk membantu ibu dan ibu mulai memuji kakakku, dibilang cekatanlah, perhatianlah, muak aku mendengarnya.

Setiap hari aku menjahit dan terus menjahit, aku perlihatkan pada ayah dan ibu, tapi mereka tidak antusias melihatnya, mereka hanya melihat sepintas tanpa berkomentar. Mereka asyik bermain dan memuji makhluk kecil itu, aku benci melihatnya, mendengar mereka memuji makhluk itu, hati ini seperti tersayat-sayat terasa perih.

Aku tidak pernah memperlihatkan hasil jahitanku, baju yang sudah aku jahit, aku buka kembali dan aku jahit kembali, begitu terus karena percuma aku perlihatkan pada mereka, tak ada pujian lagi, keberadaanku seperti hilang karena makhluk kecil itu.

Sampai suatu hari, aku melihat makhluk kecil itu sedang tertidur lelap, aku menggendongnya dan aku bawa ke kamar pribadiku. Aku mulai menjahit mulut boneka yang mulutnya terbuka dan mata boneka dengan benang merah darah. Aku menikmati setiap jahitannya. Mulut dan mata boneka itu sudah rapi dijahit. Aku tersenyum bahagia.

Diluar terdengar keramaian, ibu menangis dan semua sibuk mencari makhluk kecil kesayangan mereka. Aku terus menjahit dan merapikan jahitan di bibir boneka supaya lebih kuat jahitannya.

Aku pura-pura tak mendengar ketika pintu diketuk pelan sampai digedor-gedor dan pintu dibuka paksa atau lebih tepatnya didobrak. Sampai aku mendengar mereka menjerit dan  ibu pingsan. Mereka  melihat mulut dan mata bayi mungil  itu dijahit dengan rapi. 


ADSN1919

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

10 komentar untuk "Penjahit Ulung "

  1. Memang betis (beda tipis) y
    Antara penjahit dan penjahat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu penjahit plus penjahat, thanks ya sudah mampir 😁

      Hapus
  2. Wah, seram juga kisahnya. Pesan yang dapat saya ambil adalah mahir & terampil saja belum cukup tanpa akhlak yang baik.

    Pola asuh orang tua turut mempengaruhi pembentuka karakter anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, terimakasih sudah mampir ya 😁

      Hapus
  3. waduh, syeremm, smakin ga mau ah belajar menjahit, krn mesin jahitnya salah 1 mahar abah kpd ema thn 1958,


    serem² asyik ihhh buhj, top n mantapp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih ada mesin jahitnya ya, mesin jahit bersejarah 🤗

      Hihihi khayalan tingkat dewa 😁 makasih bu Nia sudah mampir 🤗

      Hapus