Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Guruku Cantik Sekali

 

Guruku Cantik Sekali

Guruku Cantik Sekali

Pagi ini di Sekolahku sangat ramai, sekolah yang biasanya terasa kaku hari ini mencair karena kedatangan guru baru, seorang wanita, mungkin sekitar tiga puluh enam tahun usianya. Kulitnya hitam manis, tinggi sekitar seratus tujuh puluh sentimeter dengan berat badan lima puluh lima kilogram.

Guru baru itu terlihat menjulang di bandingkan guru lain, dengan rambut berombak sebahu, aku terkesima melihatnya, baru pertamakali aku melihat wanita begitu sempurna di mataku. Ada desiran aneh di dadaku yang tak pernah dirasakan sebelumnya.

 

*

Oh iya kenalkan namaku Dika Ardiansyah, usiaku delapan belas tahun, ayahku seorang pengusaha properti dan ibu adalah seorang pengacara terkenal di kotaku.

Kehidupanku bisa dibilang sempurna, karena aku anak tunggal, ayah dan ibuku sangat memanjakanku, sehingga apapun keinginanku selalu mereka turuti.

Dengan fasilitas yang mereka berikan aku memang merasa bahagia sekaligus kesepian. Ya aku kesepian, karena kedua orang tuaku sangat sibuk sekali, mereka selalu pulang tengah malam ketika aku sudah tidur, setiap hari aku ditemani nenek dari pihak ayah, dari beliau aku mendapatkan kasih sayang.

Saat ini aku kelas dua belas, sebentar lagi ujian sekolah dan ayah ingin aku kuliah di luar negeri, sebagai bekal aku untuk nanti meneruskan usaha ayah di bidang properti.

Ibuku sangat kaget ketika aku rajin bangun pagi dan semangat sekolah, biasanya aku ogah-ogahan. Mereka tidak tau yang bikin aku semangat sekolah itu karena ada guru baru yang membuat hatiku bergetar.

Bagiku cara mengajar bu Aini Prameswari sangat menyenangkan, padahal yang diajarkan beliau itu Matematika, pelajaran yang sembilan puluh persen paling tidak disukai oleh hampir semua orang, termasuk aku yang paling anti dengan pelajaran matematika.

Tapi sekarang berbeda, semenjak bu Aini datang, pelajaran matematika menjadi pelajaran favoritku selain pelajaran olahraga.

Aku selalu memperhatikan cara bu Aini mengajar, tutur bahasanya halus, sabar dan tubuhnya wangi. Minyak wangi yang lembut sering tercium ketika beliau lewat.

Bu Aini sering memperhatikanku, diam-diam aku sering melihat matanya yang begitu tajam memandangku, seperti menyelidik. Ketika mataku dan matanya saling pandang, bu Aini langsung menunduk.

 

Ketika lonceng istirahat berbunyi, bu Aini memanggilku. Aku di panggil di mushola yang sepi, hanya ada lima siswi yang sedang melaksanakan sholat dhuha.

Bu Aini dengan detail  menanyakan nama ayah dan ibuku, ketika aku menyebut nama ayah, aku melihat ada genangan yang berusaha beliau tahan. Tiba-tiba beliau mengusap kepalaku dan pergi.

Beberapa Minggu setelah Bu Aini menanyakan kehidupanku secara detail. Pulang sekolah sekitar pukul lima belas empat belas, setelah memarkirkan motor ninja berwarna merah, samar-samar aku mendengar ibu dan ayah sedang bertengkar hebat, nama Aini di sebut ibu.

 

Ketika aku masuk ruang keluarga, mereka terlihat kaget melihat kehadiranku.

 

Tiba-tiba sambil menangis ibu memelukku dengan erat, "ibu sayang kamu Dika, ibu sayang kamu, tak akan ibu  biarkan Aini mengambilmu, tak akan..." kalimat itu berulang-ulang ibu sebut, sampai akhirnya ibu terdiam, aku merasakan berat tubuh ibu, ayahku berlari ke arahku dan menahan tubuh ibu yang pingsan.

Banyak pertanyaan di kepalaku, kenapa ibu menyebut nama Aini. Aini mana yang ibu maksud? Atau jangan... jangan... Ah ga mungkin. Pertanyaan ini pernah aku tanyakan pada nenekku, nenek hanya terdiam dan selalu bilang, "belum saatnya."

Semenjak pingsan itu, ibu sakit dan terlihat lemah, ibu tidak ingin aku tinggalkan, aku harus terlihat terus, otomatis kami tidur bertiga. Tidak seperti biasanya ibu seperti ketakutan setiap aku berangkat ke sekolah, sekarang aku ditunggui oleh supir pribadi dan dilarang membawa motor Ninja kesayanganku.

Setelah mengetahui nama ayah dan ibuku, bu Aini sangat perhatian padaku, setiap istirahat Bu Aini selalu mengajakku berbicara  di teras mushola, perpustakaan dan kantin sekolah, terkadang Bu Aini memberikan makan siang padaku, hasil masakannya enak juga dan aku suka.

Setiap malam menjelang tidur, ibu seperti sengaja bertanya padaku tentang kejadian di sekolah, apakah aku bertemu Bu Aini, apa yang dibicarakan dan rentetan pertanyaan lainnya.

Lama kelamaan aku berontak, karena setiap hari ibu juga memberi bekal makanan padaku, setiap hari bekal makananku selalu di ceknya, kalo masih ada utuh ibu akan marah dan berteriak-teriak. Padahal Bu Aini memberikan makanan padaku juga.

Aku merasa aneh dengan sikap ibu, seorang ibu yang dulunya acuh pada anaknya, tapi ketika Bu Aini hadir, ibu seperti takut kehilanganku. Setiap aku tanya pada ayah dan ibu, mereka tidak pernah mau menjawab.

Aku selalu menyelinap pulang sendiri ketika waktunya bubar sekolah. Supir pribadi sering pulang dengan tangan hampa. Bisa di tebak, hp androidku selalu penuh pesan dari ibu, karena telp ibu tidak pernah aku angkat.

Sampai suatu sore, ketika rumah sepi karena ayah sedang tugas di luar kota dan ibu sedang mendampingi klien penting yang tidak bisa diwakilkan oleh anak buahnya, mau tidak mau meski belum fit ibu wajib mendampingi klien itu dan nenek sedang tidur. Waktu yang pas untuk mencari jawaban yang tidak pernah terjawab.

Aku menyelinap masuk ke kamar orangtuaku, aku mencari sesuatu yang aku juga tidak tau, apa yang aku cari, hanya aku yakin hari ini aku akan mendapat petunjuk.

Lemari baju aku geledah, begitupun dengan laci-laci yang ada di kamar itu. Tapi aku tidak menemukan apa-apa, aku tidak putus asa karena ingin mendapatkan jawaban apapun itu.

Ketika aku terduduk dilantai, aku tertidur saking capeknya, aku bermimpi Bu Aini tersenyum padaku sambil menggendong seorang bayi. Dalam mimpi itu Bu Aini hanya berkata satu kata yaitu "brangkas."

Aku tersentak dari tidurku, dengan kepala sedikit pusing, aku mencari-cari brangkas seperti yang Bu Aini katakan lewat mimpi.

Semua sudut kamar aku geledah, tapi aku tidak menemukan brangkas, sampai akhirnya mataku tertuju pada satu  foto yang menurutku agak aneh, foto hitam putih yang sudah pudar, ada gambar seorang wanita yang sedang menggendong  bayinya. 

Dengan penasaran aku copot bingkai foto usang di dinding itu, aku kaget karena ada rongga di dinding, dan...aku melihat brangkas warna abu-abu. Brangkas yang ukurannya kecil dan terkunci.

Aku kembali menggeledah laci lemari-lemari baju ayah dan ibu. Setelah mencari-cari, akhirnya aku menemukan kunci berukuran kecil di bawah lapisan laci lemari baju ayah.

Setelah aku coba dan brangkas itu terbuka, didalamnya hanya ada satu map yang dilipat dua, ketika aku buka ternyata berisi dokumen, yang isinya sebuah perjanjian, bahwa setelah menyerahkan seorang bayi hasil hubungan ayah dengan seorang remaja berusia delapan belas tahun bernama Aini Prameswari.

Aini akan dikuliahkan dan putus hubungan dengan anak yang dikandungnya.

 

 

Selesai.

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

8 komentar untuk "Guruku Cantik Sekali"