Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sepuluh Batang Coklat untukku


Sepuluh Batang  Coklat untukku
Sepuluh Batang  Coklat untukku_Foto oleh Vie Studio dari Pexels


Emak panggilan untuk nenek tercinta. Meski sudah lanjut usia, emak suka makan coklat, merk apapun selalu di makan dengan lahap yang penting coklat. Mau coklat batangan, coklat kotak, coklat bola-bola, pokoknya apapun bentuknya yang penting rasanya manis dan warna coklat. Emak tidak mau coklat yang warnanya putih atau warna lain selain coklat. 

Emak pernah bercerita, waktu emak merasakan coklat untuk pertamakalinya. Jaman emak kecil coklat belum nyampe ke desanya. Memang sih desa emak waktu kecil sangat terpencil, berada di kaki gunung dan jalan ke arah rumah orangtua nenek sangat sulit. 

Waktu aku kecil aku pernah diajak orang tua dan nenek ke rumah uyut kami, usia uyut saat itu ada 100 tahun lebih, yang bikin aku salut mata uyut masih awas dan tidak pakai kacamata, membaca tulisan di koran masih bisa dan gigi uyut masih utuh dan kuat. 

Rumah uyut itu bentuknya seperti rumah di perkampungan Jawa Barat, masih berbentuk panggung, berdinding bilik dan berlantai papan. Kolam ikan menghiasi halaman uyut, serta tanaman sayuran dan buah-buahan mengelilingi rumah uyut. Udaranya sangat segar dan dingin. 

Pernah nenek mengajak uyut untuk tinggal di kota, jawaban uyut sangat sederhana yaitu uyut mau pindah ke kota asalkan kolam, tanaman, rumah dan udara yang bersih dipindahkan ke kota. 

Penuh perjuangan untuk sampai ke rumah uyut, coba bayangkan saja, dari arah Bandung menuju jalan arah uyut ada empat jam perjalanan, itu sampai Desa/Kelurahan , mobil disimpan di kelurahan dan kami jalan kaki sekitar lima kilo dengan perjalanan naik turun dan jalan tanah. Bisa dibayangkan kalo musim hujan bagaimana sulitnya menuju rumah uyut. 

Rasa lelah hilang ketika kami sampai ke rumah uyut. Melihat uyut segar bugar dan hidangan makanan khas suku Sunda tersedia kumplit, dari ayam kampung goreng,  pepes ikan nila, goreng ikan nila, lalapan, Pete, jengkol dan sambel terasi. Semua itu tinggal mengambil di halaman uyut. Alias uyut tidak beli.

Itu gambaran rumah uyut orang tua emak. Disanalah rumah emak ketika masih gadis dulu. Dan emak kecil tidak mengenal coklat selain makanan alami. 

Emak bisa dibilang mengenal coklat itu sangat telat ya, sudah nenek-nenek hehehe. Itu juga karena aku iseng-iseng nawari coklat batangan ke emak, eh emak mau. Setiap aku beli coklat aku pasti beli coklat untuk emak. Sambil menikmati coklat, aku dan emak selalu bercerita apa saja, tentang pangeran hayalanku atau kegiatanku di sekolah.

Aku lebih leluasa bercerita pada emak, karena ibu dan bapak sangat sibuk. Emak yang selalu menyambut aku ketika pulang ke rumah. 

Aku tak pernah jauh dari emak, sampai aku harus berpisah dengan emak karena aku masuk pesantren. 

Seminggu sekali emak menengok aku di pesantren. Biasanya emak diantar supir setiap kali menemuiku, terkadang bila bapak dan ibu tidak sibuk mereka menemani emak ke pesantren. 

Suatu malam aku sangat gelisah, mata sangat sulit terpejam. Sekalinya terpejam aku mimpi buruk. Aku bermimpi emak minta digendong karena tidak bisa jalan. Aku terbangun dan langsung menghubungi bapak lewat telepon. 

Bapak biasa sholat tahajud, ketika aku nelepon dini hari, beliau langsung mengangkat teleponku. Tanpa basa basi aku langsung menanyakan keadaan emak. Bapak tidak langsung menjawab, ketika aku desak dengan pelan bapak menjawab bahwa nenek mengalami kelumpuhan akibat terjatuh di kamar mandi.

Mendengar berita itu aku langsung menangis. Aku marah pada diri sendiri ketika emak menengok aku, dan minta Sabtu depan aku pulang ke rumah. Aku berjanji pada emak untuk pulang ke rumah, tapi aku ingkar dan memilih pergi dengan teman ke mall. 


Sabtu itu emak  menungguku, tapi aku tidak pulang ke rumah. Minggu pagi emak siap-siap menengok aku di pesantren, padahal kata bapak, emak sedang tidak enak badan. Akhirnya karena pusing emak terpeleset di kamar mandi dengan posisi duduk. 

Aku merasa sangat bersalah pada emak. Sabtu ini aku harus pulang dan aku sudah minta ijin ke kak Rani penanggungjawab pesantren. 

Sebelum pulang ke rumah aku membeli sebatang coklat kesukaan emak. Sengaja aku tidak memberitahu ibu dan bapak. Ingin membuat suprise ke emak. 

Aku pulang naik angkutan umum, sengaja Handphone aku matikan. Rencananya nanti ketika mau nyampe rumah baru aku aktifkan lagi handphone-nya.

Satu jam perjalanan dari pesantren ke rumah. Ketika naik beca yang akan mengantar aku ke komplek rumah, aku iseng buka handphone, ternyata banyak panggilan tak terjawab dari bapak dan ibu, juga ada pesan masuk yang menanyakan keberadaanku dan bapak memberi tau supir sedang di perjalanan menuju pesantren dan aku disuruh siap-siap.

Saat itu aku masih tertawa senang karena merasa aku berhasil membuat kejutan pada mereka terutama ke emak. 

Sampai aku merasa tidak enak, ketika sampai ke rumah dan dihalaman banyak orang yang datang dan ada mobil ambulan. 

Jantungku berdetak sangat kencang, keringat tiba-tiba membasahi tubuh dan badanku terasa tak bertenaga, aku terjatuh ketika melihat emak sudah terbujur kaku. 

Sambil menangis ibu memberikan 10 batang coklat titipan dari emak untukku.



Adsn1919




Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

5 komentar untuk "Sepuluh Batang Coklat untukku"

  1. Sedih banget ceritanya, tapi yakinlah, emak sudah berbahagia di alam sana😊🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, penuh kenangan bersama emak, meski beliau sudah tiada, tapi selalu hadir kenangannya bersamaku ☺️🥺 semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk beliau. Aamiin 🤲🤲

      Hapus
  2. Masyaa Allah, kenanganindah bersama emak. Allahumaghfirlaha warhamha waafihaa wa'fu'anha 🤲

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mampir dan membaca kenangan dengan emak tersayang 🙏🙏

      Hapus