Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Apakah Semua Laki-laki itu Egois?

 Apakah Semua Laki-laki itu Egois? 

Foto oleh Santiago Sauceda González : https://www.pexels.com/id-id/foto/13122942/
 






Jika aku bertanya pada para laki-laki, pasti jawabannya tidak semua seperti itu. Tapi bila aku bertanya pada sesama perempuan, pasti jawabannya, "Iya lelaki itu egois." 


Sudah bisa dipastikan, dari mulut mereka keluar beberapa pengalaman dengan suami atau pengalaman ketika bergaul dengan laki-laki. Dimata kami para wanita bisa ditebak bahwa laki-laki itu 99% egois. Mau bukti, akan aku beberkan beberapa pengalaman teman-temanku di bawah ini.


Kisah Perempuan A

Perempuan A berusia 25 tahun dan temanku ini  baru menikah 5 tahun, dia langsung bercerita padaku. Ketika dia cemburu dengan suaminya, sebutlah Papitong. Bukannya Papitong meredakan kemarahan istrinya, malah balik marah-marah perempuan A yang notabene istrinya. Dan seperti biasa mantan-mantan istrinya sewaktu gadis dulu diungkit-ungkit kembali, masalah tambah melebar dan akhirnya perempuan A yang berbalik disudutkan.


Sebenarnya wajar ga sih, ketika perempuan A menanyakan ke suaminya tadi malam boncengan dengan siapa, karena perempuan A taunya dari tetangga sebelah rumah. Awalnya Papitong tidak mau terus terang, seperti biasa Papitong mengalihkan dengan rayuan mautnya. Biar perempuan A lupa dengan pertanyaannya. Kali ini perempuan A tidak lupa dengan apa yang dia tanyakan, Ia masih gencar menanyakan siapa perempuan itu, setelah terdesak baru Papitong menjawab, itupun sambil balik marah. Akhirnya perempuan A malas untuk menanyakan kembali karena merasa percuma yang ada balik marah Papitongnya. 


Padahal kalau tau dari suaminya sendiri perempuan A tidak akan marah, seperti biasa Perempuan A yang meminta maaf pada Papitongnya.


Kisah Perempuan B

Beda lagi pengalaman perempuan B, berusia 45 tahun dan menikah selama 18 tahun. Perempuan B bercerita, ketika suaminya yang biasa dipanggil Daddy sedang cemburu. 


Jangan harap suaminya  mau mendengar penjelasan yang perempuan B itu sampaikan, suaminya  tetap ngamuk dan ngomel-ngomel ga karuan sampai Perempuan B tidak bisa tidur dan tidak enak makan. 


Kalau suaminya yang anak-anak panggil Daddy marah atau cemburu, perempuan B dibuat serba salah, diam salah menjawab lebih salah lagi. Perempuan B hanya bisa menangis dan mengadu pada yang di atas. 


Setelah puas dengan rasa cemburunya, seperti yang sudah-sudah sikap suami tersayang biasa lagi seperti tidak ada apa-apa.


Kisah Perempuan C

Perempuan C berkerudung dan berkulit manis, tidak cantik, tapi ayu dan penuh karisma. Cara bicaranya membuat siapapun akan terpesona, perempuan C penuh karisma. 


Perempuan C menikah sekitar tiga tahunan dengan lelaki pilihan hatinya. Meski sederhana perempuan C merasa bahagia. 


Semenjak menikah dengan lelaki yang biasa di panggil mas itu, perempuan C agak terbatas pergaulannya, sedikit demi sedikit Ia membatasi diri dari pergaulan yang dianggap suaminya kurang baik. Dengan penuh keikhlasan perempuan C mengikuti saran suaminya.


Suatu hari tiba-tiba suaminya marah tidak karuan, hanya hal sepele, perempuan C itu membalas senyuman ramah seorang laki-laki teman semasa kuliah. 


Suaminya tidak berkenan, sampai di rumah perempuan C itu di nasehati dari A sampai Z. Perempuan C hanya diam dan meminta maaf. Dulu perempuan C itu aktif di mana-mana dan selalu menjadi pengurus di organisasinya. 


Semenjak menikah dan demi keutuhan rumah tangganya Ia kurangi satu persatu kegiatan tersebut. Banyak yang menyayangkan keputusan yang diambil oleh perempuan itu. Tapi perempuan itu tetap pada pendiriannya, karena Ia harus patuh pada imamnya. 


Sampai suatu hari ketika berjalan dengan suaminya, ada seorang perempuan berbadan gemuk, menyapa ramah suaminya dan suaminya menyapa kembali dan berbincang dengan perempuan itu sangat akrab, suaminya sampai lupa keberadaan perempuan C itu. 


Mereka menghentikan pembicaraan ketika perempuan C itu memperkenalkan diri sebagai istri dari lelaki yang sedang berbicara dengan perempuan itu.


Hati perempuan C merasa perih, melihat suaminya seperti biasa saja. Ketika sampai rumah dan perempuan C itu menanyakan siapa perempuan itu, dengan enteng suaminya mengatakan teman SMP dulu. 


Perempuan yang katanya teman SMP-nya itu sering ke rumah dan meminta bantuan suaminya. Lelaki mana sih yang tidak senang  diminta bantuan seorang perempuan? Yang ada merasa menjadi  super hero dan bangga bisa membantu perempuan apalagi membuat perempuan itu ketergantungan. 


Perempuan C merasa keberatan, tapi suaminya tidak mau tau dan alasan hanya membantu karena kasihan. Perempuan itu butuh modal tanpa pikir panjang langsung diberikan modal tanpa bilang ke perempuan C sebagai istrinya. Padahal kalau bilang tentu perempuan C tidak akan marah. Tapi ya sudahlah seperti biasa, perempuan C dibuat merasa bersalah.


Ketika perempuan yang dibantunya itu sedang banyak uang, mampir ke rumah tidak pernah lagi. Pernah suaminya sedang butuh uang dan meminta modal kembali, perempuan itu penuh muslihat tidak mau mengembalikan modal usaha. 


Begitu dan begitu terus, terulang dan terulang terus, sampai Perempuan C itu sudah tidak bisa memberi masukan apa-apa lagi pada suaminya. Setiap diberitau pasti ngomel dan menyalahkan dirinya. 


Terkadang perempuan C merasa aneh dengan sikap suaminya, karena seperti tidak melihat pengorbanan yang perempuan C itu lakukan. Perempuan C selalu memberitahu kemana dan sama siapa Ia pergi. Perempuan C tidak pernah pergi berdua dengan yang bukan muhrimnya, tapi itu belum cukup dimata suaminya. 

Mungkin kalau suaminya pergi sama siapa dan dengan siapa dianggap biasa dan tidak perlu memberitahu perempuan C sebagai istrinya dan perempuan C tidak punya hak untuk menanyakan itu, Katena pasti berbalik marah. Jawaban tidak didapat, diomelin iya. 

---


Dari tiga kisah yang aku tulis di atas, aku hanya ingin memberitahu pada para lelaki, jika menasehati istri berilah contoh yang baik. Apa yang lelaki tidak suka perempuan melakukannya, berarti sama perempuanpun tidak suka lelakinya melakukan hal yang sama. Intinya saling mengukur diri. 


Lelaki tidak suka melihat perempuannya genit, ya perempuan juga sama, tidak suka melihat lelakinya genit. Jangan egoislah. Jadilah sedikit dari yang banyak. Itu sih yang ingin aku pesankan pada kalian para lelaki.

Aku hanya ingin bertanya, "Apakah semua laki-laki seperti itu?"

ADSN1919

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

2 komentar untuk "Apakah Semua Laki-laki itu Egois? "

  1. Ini kisah fiksi apa bukan ya😅🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fiksi dong, yang intisarinya aku baca di berita dan sebagian besar aku tambahkan bumbu sana sini biar rasanya merata ☺️ terimakasih sudah mampir di blog ini 🙏

      Hapus