Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Angeun Kacang

Imajinasi Tanpa Batas

 Angeun Kacang

Emak, di malam tahun baru ini, aku masak angeun kacang merah, sayur yang emak masak dulu ketika aku kecil, angeun kacang adalah sayur yang pertamakali aku makan ketika kecil dulu. Hasil racikan emak itu sangat enak, bagiku apapun yang di masak emak selalu pas di lidahku, mungkin karena emak memasaknya dengan ikhlas dan sepenuh hati. 

Emak, aku masih ingat ketika SD dulu, waktu guru bertanya pada kami tentang sayuran, aku langsung teriak dan langsung nyebut "Angeun kacang" semua pada tertawa termasuk guru kelasku. Karena aku menyebutnya angeun kacang bukan sayur kacang. 

Emak, aku sangat menyesal ketika engkau masih ada, aku malas-malasan belajar masak bahkan membantu emak. Aku hanya bantu motong-motong sayuran dan yang paling aku senang itu memeras santan, kalau aku disuruh marut kelapa aku suka kabur, hehehe.

Ketika aku besar dan hidup mandiri, aku mencoba memasak angeun kacang dengan bumbu yang aku mengira-ngira saja, berdasarkan rasa manis dan asam yang aku ingat. Emak selalu berpesan jangan ragu menambahkan bumbu, kalau keasinan tinggal tambah gula, kalau kemanisan tinggal tambah garam, dan itu telah aku praktekkan, dan hasilnya ternyata banyak yang memuji masakanku. 

Emak, di penghujung tahun ini, aku ingat kebersamaan bersama emak, meski dulu kuanggap cerewet tapi saat ini aku kangen nasehat emak seperti dulu. Kalau aku berkunjung atau emak berkunjung ke rumah orangtuaku, kita sering tidur bareng, sebelum tidur emak sering mengaji terlebih dahulu sambil berdzikir. Ketika merebahkan badan emak sering bercerita sampai aku tertidur. 

Emak, ketika kita berjauhan dan jarang bertemu, aku pernah bermimpi melihat emak tidak bisa berjalan dan di dalam mimpi itu aku gendong emak, seperti dulu ketika aku kecil selalu ingin di gendong oleh emak ketika pulang ke kampung, aku tidak mau digendong bapak dan ibu. Aku ingat dulu emak suka menggendongku di punggung emak sambil berjalan menuju ke kampung, kampung tempat kelahiran emak. 

Ketika aku bertanya pada bapak tentang keadaan emak, ternyata mimpi itu betul, emak tidak bisa berjalan karena sakit osteoporosis, emak berjalan jadi miring dan lama kelamaan tidak bisa berjalan. Emak memberitahuku lewat mimpi.

Emak, malam ini aku makan sayur kacang seperti yang emak sering buat dulu, sesuap demi sesuap sambil mengingat emak yang sudah mendahuluiku. 

Emak tempatku bercerita, dulu apapun itu selalu kuceritakan pada emak dan tak ada yang aku sembunyikan dari emak. Emak selalu mendengar apapun yang aku ceritakan, emak sering tertawa kalau ceritaku lucu dan emak sering menasehatiku setiap duduk berdua denganku. 

Emak, sambil makan sayur kacang aku kembali teringat ketika masih SMP dulu. Dulu aku sering menemani emak berjalan kaki melewati komplek, kita terus bercerita sambil berjalan.

Emak, aku tau bahwa masa - masa indah itu tidak akan terulang lagi, karena emak saat ini sudah tenang di sisi-Nya. 


Emak, semoga engkau berada di surga-Nya. 


Dalam keheningan aku rindu emak yang selalu ada untukku, aku ingin emak mendengar curahan hatiku. Emak, aku rindu.

Di penghujung tahun 2022 ini aku sengaja memasak dan memakan angeun kacang untuk melepaskan kerinduanku pada sosok emak sekaligus nenek tercinta. Damai selalu disana ya emak. Al-fatihah.


Adsn1919

 

 Kembali

Halaman
1

 © 2020-2023 - Rumahfiksi.com. All rights reserved

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

2 komentar untuk "Angeun Kacang "

www.domainesia.com