Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

DomaiNesia

Menghapus Masa Lalu

Purnama masih di atas kepala ketika deraian air mata ini tanpa sadar mengalir deras membasahi kedua pipi yang tak lagi berisi. Di temaram cahaya dalam suatu ruangan keluarga yang aku lupa persisnya berada dimana, kulihat  seseorang tengah menatap ke arahku.

Di antara suara isak tangisanku sendiri, kulihat lelaki tua yang biasa kupanggil kakek itu tengah menatapku, aku terhenyak, dada ini kurasa semakin terasa begitu berat, kesedihan yang tengah membuncah didalam diriku ini semakin menjadi dengan kehadiran lelaki tua yang dulu begitu mengasihiku ini.

Di antara temaram cahaya ruangan, kulihat Kakek tidak datang sendirian ketempat ini, disebelah lelaki tua yang dimasa hidupnya dulu selalu mengenakan Peci berwarna hitam itu kulihat ada Nenek disampingnya.

Dalam rasa duka yang begitu mendalam, kucoba memberi senyuman pada kedua orang yang begitu aku hormati dan kusayangi ini, ya, ditempat ini sesungguhnya aku sangat sadar, bahwa kakek dan nenekku itu sudah lama tiada, pergi meninggalkan kami yang masih di dunia ini untuk selamanya.

Di dalam temaram cahaya, saat ini aku bagaikan tengah berada di depan layar televisi, dimana aku seperti tengah menonton diriku sendiri, diriku yang tengah berada diantara kakek dan nenek, tengah menangis sesegukan diatas  pangkuan nenek. Saat ini aku tengah melihat diriku berada di dalam suatu ruangan keluarga yang aku sendiri belum pernah berada ditempat ini. Apakah ini ruang waktu? Dimana aku mampu bertemu dengan orang-orang yang kukasihi dimasa lalu.

“Bawa aku pergi dari sini Nek.. Aku ingin ikut bersama Kakek dan Nenek,” 

Kudengar diriku berucap lirih diantara suara isak tangisanku.

Masih dari tempatku berdiri saat ini, memandang diriku, kakek dan nenek yang sedang membelai kepalaku, berusaha meredakan isak tangisan sambil terus menasehatiku, agar aku lebih sabar dan tegar menghadapi semua permasalahan yang tengah kuhadapi.

Biasanya hanya nenek yang selalu hadir menemuiku disaat aku tengah membutuhkan nasehat, karena memang tak semuanya mampu kuceritakan pada semua orang yang berada disekelilingku, tapi entah kenapa kali ini kakek turut serta menemaninya, hadir di ruangan itu menemuiku. 

Aku melihat kakek seperti menahan amarah pada seseorang yang membuat cucu kesayangannya menangis sesegukan seperti ini. 

Dari tempatku berdiri, kakek kulihat juga ikut menasehatiku, agar aku  lebih bisa menjaga lisan dan bisa mengontrol ucapan, terlebih ketika sedang meluapkan amarah kepada orang yang kucintai itu.

Memang, terkadang dalam kesedihan dan rasa amarah yang memuncak, walau aku masih berusaha menjaga lisan ini agar tidak sampai terlontar sumpah serapah, tapi menurut kakek itu tidak elok, walau aku mengumpat dan meluapkan semua amarahku di dalam hati, karena menurutnya bahwa apa yang kita ucapkan pasti pada akhirnya akan berbalik pada diri kita sendiri.

Tanpa perlu aku menceritakan semuanya, sepertinya kakek tau akan semua ini, hingga kembali mengingatkanku agar tidak sampai lupa diri.

Aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang didalam gundah gulana yang tengah menghampiri, kakek dan nenek Dia hadirkan disaat yang tepat, menasehati dan berusaha menguatkanku yang sedang berada di titik terendah semangatku ini agar aku tidak sampai salah jalan.

Kakek dan Nenek Dia hadirkan disaat ribuan pertanyaan datang menghampiri, ribuan pertanyaaan yang sesungguhnya tak perlu kujawab lagi pada seseorang yang mampu membuatku menitikkan air mata ini.

Tiba-tiba ada sepasang tangan memelukku dari belakang, terdengar suara lirih ditempatku berdiri saat ini, lelakiku itu telah berdiri disampingku sambil memohon maaf atas perlakuannya yang memaksa aku harus kembali menyusuri jalanan berliku dimasa lalu.

Memori otak ini sudah penuh dan terbatas, ada beberapa memori yang harus dibuang, tapi selalu Ia isi lagi ke otak ini.

Dari tempat kami berdiri saat ini, Kami bisa melihat di ruangan itu, melihat kakek menghampiri lelakiku yang juga masuk ke dalam ruangan itu, di depanku, kakek menasehati kami berdua, dari tempat kami berdiri saat ini, kami bisa melihat lelaki yang begitu kukasihi itu menunduk dan terdiam mendengar kakek menasehatinya, agar Ia lebih memperhatikan perasaan cucunya. Kakek tidak mau otak cucu tersayangnya jebol dengan memori lama yang terus diisi dengan semua kenangan buruk di masa lalunya.

Sepertinya kakek menyaksikan apa yang terjadi diantara kami, memori otak manusia ini terbatas, daya ingat juga tidak ada yang utuh untuk mengingat semua secara detail, apalagi kejadian yang bertahun-tahun berlalu.

Kakek kembali mengingatkan kami berdua agar terus berjalan ke masa depan, bukan bolak-balik dari masa kini ke masa lalu.

Nenek yang sedari tadi diam tiba-tiba berkata, "Seringkali manusia didekatkan dengan hal yang paling dibencinya dan dianggap sebelah mata, oleh karena itu, jangan berlebihan ketika membenci sesuatu yang kita anggap buruk, karena Allah akan mendekatkan pada diri kita, dan jangan mengharapkan sesuatu dengan berlebihan, karena Allah SWT akan menjauhkan kita dari makhluk atau benda yang membuat kita lupa kepada-Nya, walaupun itu cuma sesaat saja.

Sudah tidak aneh ketika manusia hanya bisa melihat kesalahan manusia lain, dan mereka lupa, mereka juga melakukan kesalahan yang  sama meski versi berbeda, jadi untuk apa menuntut orang lain tanpa cela, sedang Ia juga mempunyai cela. Ingatlah tak ada manusia yang sempurna.

Apakah elok, ketika kita melakukan yang sama biar orang lain merasakan kepedihan yang kita rasakan? Padahal orang tersebut sudah tidak melakukan lagi dan kita berulang-ulang melakukan hal yang sama dengan alasan agar orang tersebut bisa merasakannya? Seperti tidak ada habisnya  dan semua kesalahan yang kita lakukan ditimpakan ke orang lain.

Bila kehidupan diisi dengan balas dendam tidak akan berkesudahan, karena pembenaran terus yang dicari. Cara terbaik untuk membalas keburukan seseorang adalah dengan cara mengiklaskannya dan kembalikan semuanya kepada Sang Pemilik Rencana."


Kakek dan nenek seperti mampu merasakan keputus asaanku yang hampir saja menjebol semua pertahananku dengan semua keadaan yang kualami ini.

Hingga pada saat aku tengah menangis seorang diri, dia datang menghampiri. Aku pernah  memintanya untuk mengajakku pergi dari dunia fana ini, tapi Ia enggan dan mengatakan bahwa alur ceritaku didunia ini masih belum usai.

Dari tempat Kami berdiri, kulihat nenek dan kakek berjalan, pergi meninggalkan kami berdua di ruangan itu.

Terdengar suara kakek yang sudah berada di luar ruangan, "Masa lalu adalah lembaran waktu dikehidupan yang berguna sebagai bahan bacaan untuk pembelajaran bagi orang-orang yang mau menggunakan akal dan pikiran, jadikan masa lalu sebagai pelajaran agar tidak jatuh kedalam lubang yang sama di masa kini dan masa depan.

Masa lalu adalah guru yang akan selalu membawa pelajaran dan masa kini adalah pilihan sedangkan masa depan adalah harapan yang harus diwujudkan. Teruslah berjalan, meniti masa kini menuju masa depan. Karena sesungguhnya, masa kini adalah gambaran masa depan.


 

Adsn1919

 

 Kembali

Halaman
1

 © 2020-2023 - Rumahfiksi.com. All rights reserved

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

15 komentar untuk "Menghapus Masa Lalu"

  1. Keren mbak Din, membaca ini pembaca seperti dibawa masuk ke dalam alur cerita yang ada. Sukses selaluπŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya nih terimakasih sudah mampir 😁☺️

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir, salam πŸ™πŸ™

      Hapus
  3. Keren ceritanya...πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  4. Puitis dan ispiratif. Keren, ananda Dinni.

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Terimakasih mba Ester sudah mampir di blog ini πŸ™

      Hapus
  6. Pinjam pengjapusnya Mbak Dini. Hehe. Salam fiksi

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pinjemin tipe-x aja po? hehehe

      Hapus
    2. Hehehe mba Ari, terimakasih sudah mampir πŸ™

      Hapus
  7. Hehehehe mas Adi, terimakasih juga sudah mampir πŸ™

    BalasHapus
www.domainesia.com