Widget HTML #1

DomaiNesia

Angelina Sang Pengacara - Bagian Satu

Imajinasi Tanpa Batas

Angelina Sang Pengacara - Bagian Satu

Sore itu hujan masih mengguyur bumi dengan disertai petir yang menggelegar, membuat takut siapapun yang mendengarnya. 

Tidak seperti biasanya, di bulan Maret ini hampir setiap sore hujan selalu turun dengan lebatnya.

Cuaca tak lagi mengikuti aturan, hingga hujanpun  sepertinya enggan mengikuti rotasi yang dulu pernah diterapkan, orang-orang dulu percaya bahwa musim hujan itu biasanya ditandai dengan nama bulan yang berakhiran "ber", seperti misalnya bulan September, Oktober, November dan Desember.

Seiring berjalannya waktu, sepertinya semua prediksi cuaca berdasarkan kepercayaan itu sekarang sudah tidak berlaku lagi, buktinya, Maret bukanlah bulan yang berakhiran "ber", tetapi hujan sepertinya suka sekali dengan bulan ini.


*

Angelina seorang wanita berusia 38 tahun, mempunyai nama kesayangan "Nana", terduduk disudut kantor sambil melamun. Ia tak menghiraukan teman-temannya yang berpamitan pulang ke rumah masing-masing. 

Nana mengaduk-aduk kopi susu yang dibuatkan mang Yadi, OB di Kantor Pengacara Lazuardi. 

Teringat kasus yang baru dia selesaikan. Kasus perceraian seorang wanita cantik sekretaris di perusahaan ternama di Indonesia berhadapan dengan seorang lelaki yang mapan juga, direktur di perusahaan properti. 

Rumah besar, pekerjaan yang mapan, mobil tiga, mempunyai anak tiga menjelang remaja, baju bermerk. 

Ternyata semua itu tidak membuat bahagia, konflik kliennya itu terjadi sudah sekian lama, bahkan ketika satu tahun awal pernikahan mereka. KDRT yang dilakukan Irfan pada Susan istrinya sudah berlangsung cukup lama.

Sekian lama, Susan diam, tak bersuara, hal itu dia lakukan demi untuk menjaga nama baik keluarga. Mertua Susan adalah seorang pejabat di BUMN yang saat itu harus dia jaga nama baiknya. 

Susan sadar, dia bisa menjadi seperti ini berkat bantuan mertuanya yang punya banyak rekan pejabat yang berpengaruh di kota nya. 

Mertuanya sangat baik, tapi tidak dengan Irfan, Ia sering  berbuat semena-mena pada Susan, bukan hanya kata-kata kasar, pukulan demi pukulan kerap ia terima. 


Duarrrr


Suara petir mengagetkan Nana, menghilangkan semua bayangan tentang kliennya yang tadi sempat melintas di dalam benaknya. 

Nana menyeruput kopi yang sudah terasa dingin. Ia melihat ke sekeliling kantor, sudah sepi. 

Dengan bermalas-malasan Nana menghabiskan sisa kopi susu sebelum membereskan laptop dan buku-buku yang terletak di atas Meja kerjanya. 


**

Nana turun ke lantai satu dan langsung menuju ke tempat parkir. 

Ditempat parkir, ternyata hanya ada mobilnya yang tertinggal disana, semua rekan-rekan nya sudah pada pulang semua. 

Sebenarnya Nana takut pulang dalam keadaan hujan petir seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, saat ini di kantor hanya tinggal ia sendiri. 

Sesampai di rumah, Nana langsung menuju kamarnya, setelah menyimpan peralatan kerjanya dan bersiap-siap mandi. 

Melewati dapur, Nana melihat ibunya sedang menggoreng ayam dan membuat sambal terasi. Ibunya tersenyum melihat Nana sudah datang, anaknya yang meski sudah berkepala tiga, tapi masih memilih untuk tetap setia pada lelaki yang dicintainya meski tidak ada kabar berita. 

Beberapa laki-laki yang pernah mencoba untuk mengisi hatinya Ia tolak secara halus. Sampai ibunya angkat tangan dengan pilihan anaknya yang sampai saat ini masih tetap menunggu  suaminya.  

Selesai mandi, Nana langsung mencium tangan ibunya, tadi Nana tidak langsung mendekati ibunya, Karena Ia baru datang dari luar rumah dan bertemu banyak orang, Nana khawatir membawa virus yang masih menguasai dunia. 

Setelah menyimpan handuk dan menyisir rambut, Nana kembali ke meja makan, lalu dia makan bersama ibunya.


Nana tinggal berdua dengan ibunya, ayahnya meninggal dunia tiga tahun yang lalu.

Setelah selesai makan dan mencuci piring, Nana berpamitan pada ibunya untuk pergi ke kamar. 

Di dalam kamar Nana kembali melamun, mengingat pertemuannya dengan wanita cantik  yang menjadi kliennya. 


***

Pagi itu, seorang wanita berpenampilan menarik datang dan duduk di hadapannya, matanya terlihat sembab dengan pipinya berwarna ungu. 

Nana menatap wanita cantik didepannya, wanita itu meminta bantuannya agar bisa bercerai dengan suaminya. 

Setelah wanita itu bercerita panjang lebar, ada sekitar satu setengah jam lamanya, Nana mengambil keputusan untuk membantu wanita yang berada di depannya. 

Meski atasannya kurang setuju akan keputusannya membantu wanita itu, tapi Nama tak bergeming saat pak Lazuardi mengingatkan dirinya agar tidak membantu wanita itu, pak Lazuardi mengingatkan Nana akan jabatan mertua dari kliennya.


Bersambung



Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan
www.domainesia.com