Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Angelina Sang Pengacara - Bagian Dua


Angelina Sang Pengacara - Bagian Dua

 Bagian Dua

 

<< Bagian Satu

Nana sangat dilematis membantu wanita cantik itu, melihat jabatan mertua dan suami wanita itu yang sangat berpengaruh di Kotanya, awalnya dia sedikit ragu untuk membantu kliennya.

Sebagai sesama wanita, Nana dapat merasakan apa yang dirasakan kliennya itu. Nana tau resiko apa yang akan ia hadapi ketika sudah memutuskan untuk membantu kliennya, tetapi demi keadilan, ia bertekad untuk membantu wanita itu apapun resiko yang akan ia hadapi, meski atasannya tidak mendukung, ia terus berusaha untuk membantu kliennya dengan bekerja semampunya. Mengumpulkan semua bukti-bukti pendukung untuk memenangkan kliennya di pengadilan.

Hari masih pagi ketika Nana di damprat atasannya, hal ini terkait karena ia kembali meminta ijin kepada atasannya untuk membantu Susan, wanita cantik yang saat ini menjadi kliennya, sebagai sesama wanita ia paham akan perasaan wanita yang sering dianiaya suaminya itu.

Pak Lazuardi terang-terangan tidak akan membantu Nana dalam menangani kasus ini.

Nana paham,  mertua dan suami Susan tidak akan tinggal diam, pasti akan mencari cara agar atasannya tidak mendampingi  Susan.

Sepulang kerja, Nana dan Susan bertemu di sebuah kafe. Nana melihat wanita cantik itu bertambah kurus dan terlihat kurang semangat. Matanya sembab dan wajahnya tidak segar, dia terlihat seperti tengah menanggung beban yang teramat berat di kedua pundaknya.

Di salah satu meja yang berada di dalam kafe yang saat ini tidak terlihat begitu ramai, Susan kembali memohon pada Nana, agar Nana tetap mau membantunya.

Sambil meneguk lemon tea, Nana menyimak pengakuan Susan yang berkata bahwa suaminya baru saja mengancamnya, agar dia tidak menggugatnya cerai apalagi sampai meminta bantuan pengacara. 


Suami Susan sudah mengetahui bahwa Susan sudah minta bantuan dirinya.

 

Suami Susan bahkan mengetahui siapa  pengacara yang membantunya, dia sempat berkata bahwa Angelina alias Nana adalah anak buah pak Lazuardi, pengacara terkenal yang menurut suami Susan memiliki hutang budi kepada keluarga besarnya.

Nana terdiam, dia lantas ingat kejadian pagi tadi di kantornya. Pantas saja tadi pagi ia dimarahi habis-habisan oleh atasannya  dan atasannya berpesan agar dirinya  tidak membantu Susan.

 

Susan sendiri saat ini tengah mengajukan gugatan dan sedang dalam proses cerai dengan suaminya. 


Nana sadar tengah berhadapan dengan suami Susan yang ternyata adalah orang yang licik, "pantas saja Susan tersiksa hidup bersamanya." Pikir Nana sambil melihat wajah cantik di depannya yang terlihat begitu lelah itu.

Nana kembali mendengarkan Susan, menurutnya dia sudah lama dipaksa oleh suami dan keluarganya agar hubungan  dia dan suaminya terlihat baik-baik saja.


"Ah! Lagi-lagi terkait masalah harga diri."


Hanya demi harga diri sebuah keluarga terpandang, lagi-lagi Nana harus melihat suatu kenyataan, dimana seseorang yang tengah berada di dalam keadaan tersiksa dan tak berdaya harus pura-pura bahagia, tidak boleh menangis didepan yang lain, apalagi sampai bercerita masalah kehidupan rumah tangga yang dirasakannya seperti tengah berada di dalam Neraka.

Nana melihat beban Susan saat ini terlihat sangat berat, kalau dia tidak ada tempat bercerita, ada kemungkinan mengarah ke depresi. Beruntung Susan saat ini bisa bercerita, walau awal-awalnya mesti dipancing terlebih dahulu oleh Nana.

Untuk mendapat informasi yang dibutuhkannya, Nana harus sabar menunggu hingga Susan mau bercerita, biasanya sebelum bercerita Susan akan menangis terlebih dahulu, setelah dia berhasil menenangkan dirinya barulah Susan akan kembali meneruskan cerita tentang kehidupan rumah tangganya.

Nana bisa melihat, di awal-awal pertemuan dirinya dengan Susan. Susan terlihat seperti orang yang begitu sulit untuk percaya pada orang lain.

Entah pengalaman apa pernah dia temui, sampai dia bisa seperti itu. Susan pernah berkata, bahwa dia selalu merasa takut ditertawakan bila  dia jujur menceritakan apa yang sudah dialaminya, jujur saja Nana sangat prihatin melihat keadaan Susan.

Jika melihat sosoknya, orang tidak akan percaya bahwa Susan mempunyai masalah yang sangat berat. Di depan semua orang Susan selalu terlihat ceria dan humoris, foto bersama suaminya pun terlihat begitu mesra, makanya ketika dia mendapatkan kenyataan ini, Nana sampai-sampai menutup mulutnya yang ternganga karena kaget dan tidak percaya.


Nana sadar, memang kata orang dunia ini adalah panggung sandiwara, sehingga orang-orang kadang tertipu dengan kemesraan beberapa orang seperti Susan yang banyak sekali di medsos.

Ini bukan kisah para artis yang terlihat begitu mesra ketika sedang melakukan sesi Foto bersama pasangannya. Ini kisah kehidupan rumah tangga Susan, yang mungkin saja adalah potret masyarakat kebanyakan yang tidak pernah terekspos ke media.

Terlihat begitu mesra di mata orang-orang di lingkungan sekitarnya, padahal tengah menjalani proses perceraian karena KDRT yang pada ujungnya proses perceraian di sahkan oleh Pengadilan agama.

Dan Nana melihat semua potret buram ketidakbahagian hubungan rumah tangga itu ada di dalam kelopak mata bening Susan, ada rasa kesedihan dan ketidakbahagian yang harus dia tutupi demi sebuah alasan klasik. Demi menjaga nama baik keluarga!



 

Bersambung 



Adsn1919



Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

6 komentar untuk "Angelina Sang Pengacara - Bagian Dua"

  1. Halo rumah fiksi, terimakasih untuk cerita fiksi nya yang keren dan selalu membuka wawasan bahwa terkadang kehidupan di dunia ini cuma sandiwara semata. Sukses selalu ya😊👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo juga, iya begitulah kehidupan di dunia banyak hal tak terduga bagai panggung sandiwara, seringkali orang melihat kulitnya saja dan langsung menilai begini begitu 😁😁

      Hapus
  2. Wah, bersambung. Bagaimana kelanjutan kisah Susan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe tunggu episode selanjutnya 😁 semoga masih ada ide 😁

      Hapus
  3. Kehidupan rumah tangga itu memang unik dan kompleks ya, ananda Dinni.

    BalasHapus